Home  / Pendidikan
Ratusan Mahasiswa Indonesia Kerja Paksa di Taiwan, Ini Kata Menristekdikti
Kamis, 3 Januari 2019 | 20:34:17
(Doc. Net)
Menristek Dikti, Mohammad Nasir
JAKARTA - Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), M Nasir membenarkan bahwa ada sekitar 300 mahasiswa asal Indonesia yang menjadi korban kerja paksa di Taiwan.

Menurut Nasir, mereka menjadi korban para calo yang mengiming-imingi para korban untuk menempuh pendidikan tinggi di Taiwan. Namun sesampainya disana, mereka justru diminta untuk bekerja karena gagal diterima masuk di perguruan tinggi.

Nasir menegaskan, hal itu sengaja dilakukan mereka untuk mencukupi kehidupan sehari-hari.

"Jadi sudah jelas mahasiswa itu lewat calo. Mereka berangkat sendiri kemudian ditawari masuk perguruan tinggi di sana, ternyata tidak bisa diterima. Untuk menghidupi sehari-hari ya kerja, itu sudah penipuan namanya," kata Mohamad Nasir saat meninjau produk kreasi mahasiswa di gedung Prof Sudarto, Undip, Semarang, Kamis, (03/01/2018).

Nasir berjanji akan menindaklanjuti temuan tersebut. Langkah selanjutnya, Nasir akan berkoordinasi dengan Taipei Economic and Trade Office Indonesia (TETO) yang membawahi kamar dagang industri di Taiwan di Jakarta.

"Kami minta setingkat Dirjen Kelembagaan untuk segera berkoordinasi dengan TETO," jelasnya.

Koordinasi dengan Kemenristekdikti

Nasir juga meminta agar para calon mahasiswa yang ingin melanjutkan studi di luar negeri terlebih dahulu berkoordinasi dengan Kementistekdikti dalam rangka mencegah kejadian serupa.

Hal ini untuk memastikan apakah tujuan pendidikan sudah sesuai prosedur atau belum.

"Komunikasi harus dilakukan apakah tujuan pendidikan yang dituju sudah sesuai prosedur dalam hal ini proses pemberangkatannya," ungkapnya.

Dia menjelaskan pengiriman mahasiswa harus lewat jalur resmi dalam waktu Januari sampai Februari. Dalam hal ini Kemenristekdikti akan memberangkatkan 320 mahasiswa dengan tujuan menempuh pendidikan ke luar negeri.

Sedangkan bulan Maret sampai April 2019 nanti menyiapkan 1.000 mahasiswa yang akan dikirim ke delapan perguruan tinggi di luar negeri.Ia pun membuka opsi kerjasama pertukaran mahasiswa dengan Korea Selatan dan Jepang.

"Kami mengatur setahun kuliah di kampus dan laboratoriumnya. Setahun berikutnya ditempatkan di sektor industri. Biar ketika lulus dapat sertifikat kompetensi dan keahlian sekaligus. Untuk biayanya ditanggung dari sana. Kalau sudah lulus, tergantung pada mereka mau pulang atau bekerja di negara tempatnya kuliah. Itu sudah tanggungan yang bersangkutan," tandas Nasir.

(jarrak.id)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Bakamla RI Pererat Kerjasama Maritim dengan U.S. Navy
Babinsa Koramil 08/Mandah Hadiri Musyawarah Pendistribusian Penyaluran Beras Rastra/Raskin
Facebook Siap Kucurkan Dana 300 Juta Dolar Demi Selamatkan Media Lokal
Kodim 0313/Kpr Gelar Karya Bhakti Di Masjid Baitul Hamdi Simpang Aman Dusun Semiri Desa Kuok
Dipecat, Pekerja Hajar 2 Bos WN China hingga Bonyok

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad