Home  / Pendidikan
Tak Kunjung Bertanggungjawab, Orangtua Murid Tagih Janji SD Narwastu
Sabtu, 10 November 2018 | 20:02:09
fin/riaueditor.com
SD Narwastu Jalan Damai Palas Kecamatan Rumbai
PEKANBARU, riaueditor.com - Delapan bulan sudah Edison Panjaitan (10) meninggal. Duka yang menimpa keluarga Nelson Panjaitan (47) itu, hingga kini masih membekas terutama ibu almarhum, Rona Simbolon (46). Janji pihak sekolah SD Narwastu yang akan menjelaskan kronologis tewasnya siswa kelas III tersebut saat kegiatan renang, hingga kini belum terealisasi.

"Waktu itu kami memang menolak uang Rp 3 juta dari pihak sekolah. Ini bukan semata-mata soal uang, melainkan penjelasan tewasnya ŕnak kami saat kegiatan renang oleh pihak sekolah", ucap Rona serŕya menitikkan air mata saat ditemui, Sabtu (10/11/18).

Warga Jalan Lembah Damai Kelurahan Sri Meranti itu mengungkapkan, saat itu ia langsung pingsan begitu melihat anak ke-5 nya itu yang sudah terbujur kaku dengan terbungkus kain kafan  ditengah-tengah ramainya kerabat di rumahnya.

Singkat cerita setelah 3 hari dikebumikan beber Rona, pihak sekolah datang kerumah orangtua korban. Tujuannya mengantar uang duka Rp 3 juta tanpa menjelaskan kronologi tewasnya Edison saat kegiatan renang di Kuantan Regency.

"Ketika uang itu disodorkan, kami tolak. Masa nyawa anak kami dihargai Rp 3 juta. Yang kami inginkan, pihak Yayasan yang menaungi SD Narwastu datang memberi penjelasan. Tapi ini tidak dilakukan. Mungkin karena status sosial kami makanya mereka anggap remeh keluarga kami", ujar ibu rumah tangga yang berprofesi buruh barang bekas tersebut.

Atas musibah yang menimpa anak ke 5 nya itu, Rona hanya bisa berharap pihak sekolah dan Yayasan bertanggungjawab dengan menunjukkan itikad baiknya.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala SD Narwastu Aci Ferawati SPd membenarkan tewasnya Edison saat kegiatan renang yang dilakukan pihak sekolah bulan Maret silam.

Ia mengatakan, renang merupakan salah satu kegiatan sekolah. Kala kegiatan itu dilakukan ada 2 orang guru yang mendampingi selain petugas dari pihak kolam renang sendiri.

"Ada satu kelas yang ikut saat itu. Jumlahnya sekitar 30 orang", ujar Aci.

Terkait tanggungjawab sekolah atas tewasnya siswa kelas III itu, Aci mengatakan pihak sekolah hanya bisa melakukan apa yang bisa.

"Segala pembiayaan dari rumah sakit sampai kita antarkan kerumah. Setelah itu anak-anak kita kumpulkan uang sosial. Saya rasa begitulah tanggungjawab sekolah", ujarnya.

Namun kata Aci, orangtua pinginnya datang bersama Yayasan kerumah mereka. 

"Itu aja kuncinya, Yayasan pingin ikut kesitu. Nah saya sudah sampaikan ke Yayasan, dan dibilang nanti kita datang", ucapnya.

Ia mengakui, keluarga manapun tidak menginginkan hal seperti ini terjadi. Akan tetapi itu semua kuasa Tuhan.

Namun saat didesak tanggungjawab sekolah atas duka yang menimpa keluarga korban tersebut, Aci mempersilahkan wartawan untuk menghubungi pihak Yayasan, JP Simajuntak. (fin)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Puluhan Siswa Sekolah Atlet Palembang Keracunan Saat Berbuka
Bank Riau Kepri Siap Layani Pembayaran Tagihan ATB di Kota Batam
Trump: Perjanjian Dagang AS-China Diumumkan Sebulan Lagi
Rencana Sekolah Gratis, Komisi V Minta Data Biaya Kebutuhan Siswa per Tahun
Bejat! Guru Honorer di Sumbar Gunakan Ruang Kepala Sekolah untuk Sodomi Muridnya

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad