Home  / Pemerintahan
Padi Bisa Kalahkan Sawit, Benarkah?
Kamis, 19 Desember 2019 | 13:07:45
istimewa
Gubernur Riau H Syamsuar saat meninjau korban banjir di Peranap, Inhu
PEKANBARU - Sejatinya masyarakat Riau sejak dulu mayoritas bersawah, tanam padi, terutama masyarakat di Riau daratan. Lalu sebagian juga menanam karet. Tapi seiring berjalan waktu, kini Riau lebih dikenal dengan kebun sawit.

Tidak tanggung-tanggung, Riau kini menjadi provinsi dengan hamparan sawit terluas di Indonesia. Lebih 3 juta hektar. Sayangnya, mayoritas bukan milik masyarakat petani Riau, tapi lebih banyak dikuasai para pengusaha besar. Baik dari Jakarta, bahkan negeri jiran Malaysia.

Itu sebabnya, luas kebun sawit di Riau tidak berbanding lurus dengan tingkat kesejahteraan masyarakat Riau secara umum. Karena sekali lagi, mayoritas kebun sawit itu milik pengusaha-pengusaha besar. Tentu saja, hasil sawit sebagian besar juga masuk ke kantong-kantong mereka.

Masyarakat Riau secara umum lebih banyak mendapat imbas negatif dari sawit, khususnya ketika musim membuka lahan, dimana ada sebagian yang membuka lahan (land clearing) dengan cara membakar. Sehingga asapnya pun kemana-kemana.

Menggangu masyarakat. Bahkan juga menganggu masyarakat negeri jiran Malaysia hingga Singapura.

Gubernur Riau (Gubri) Syamsuar sepertinya berkeinginan mengajak para petani di Riau untuk kembali serius menanam padi.

Alasannya jelas, jika petani padi di-support oleh pemerintah, baik dari faktor benih, pupuk dan lainnya, maka tidak mustahil hasil panen padi bisa mengalahkan hasil sawit.
Hal inilah yang diungkapkan Gubri Syamsuar ketika meninjau banjir di Kecamatan Kelayang, Kabupaten Inhu, Rabu (18/12) kemarin.

Di hadapan masyarakat, mantan Bupati Siak dua periode itu menyatakan kesungguhannya membantu petani padi. 
Mulai dari upaya menanggulangi banjir yang rutin melanda Kuansing, Inhu, Rohul, Rohil dan lainnya, hingga meminta dukungan kepada Menteri Pertanian di Jakarta.

"Saya sudah bertemu dengan Mentan, dan beliau sangat komit untuk membantu kita, bahkan beliau segera berkunjung ke Riau," ungkap Gubri, seraya menambahkan bahwa dinas terkait di Pemprov Riau juga sudah turun ke kabupaten/kota se-Riau untuk mendata lahan-lahan pertanian khususnya padi.

Gubri menyatakan bahwa tidaklah mustahil bagi petani padi bisa mendapatkan penghasilan yang lebih besar dari petani karet. Jika saja petani padi bisa panen dua kali dalam setahun dan menghasilkan sekitar 6 ton per hektar, dengan harga gabah sekitar Rp4.300-Rp4.600 per kilogram, maka penghasilan petani padi akan jauh lebih besar.  

Karena itu pula, Gubri Syamsuar meminta masyarakat agar tidak buru-buru melakukan alih fungi lahan, khususnya dari sawah ke sawit.

Gubri Syamsuar memang sudah pernah membuktikan keberhasilannya dalam meningkatkan produksi padi saat menjadi Bupati Siak. Kecamatan Bungaraya, salah satu kecamatan di Siak telah dikenal secara nasional menjadi lumbung padi di Provinsi Riau. 

Mudah-mudahan dengan jabatan Gubernur Riau, Syamsuar berhasil menyulap Provinsi Riau sebagai salah satu lumbung padi nasional. ***

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
PMII Cabang Pekanbaru Pertanyakan Kasus Sawit Ilegal dan Karhutla
Ekspor Sawit Rontok 77 Persen, Mentan Tuding Virus Corona
Uni Eropa Kembali Ganggu Sawit RI, Pemerintah Melawan!
Miliki 4.200 Hektare Lahan Persawahan, Alfedri: Baru Memenuhi 75 persen Kebutuhan Beras Kabupaten Siak
Riau Kehilangan Potensi Pajak Rp107 T Akibat Sawit Ilegal

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad