Home  / Parlemen
Mahasiswa Faperta UNRI Audensi Dengan Dewan
Senin, 17 Desember 2018 | 17:13:28
fin/riaueditor.com
Foto: Usai berdialog, mahasiswa Faperta UNRI melakukan foto bersama dengan Ketua Komisi II DORD Riau didampingi Kepala Dinas Holtikultura Riau, Feri HC.
PEKANBARU, riaueditor.com - Berangkat dari keprihatinan atas anjloknya harga kelapa sawit beberapa bulan terakhir, sebŕnyak 13 mahasiswa Fakultas Pertanian (Faperta) UNRI melakukan audensi dengan Komisi II DPRD Riau, Senin (17/12/18). Dalam audensi itu mengemuka bahwa pasca kedatangan Presiden Jokowi di Riau harga TBS kembali naik ke posisi Rp 1.200.

Sebagaimana diungkapka juru bicara Syahbudin Ahmad. Ia mengaku heran atas naiknya kembali harga sawit ke posisi Rp 1.200, meski harga di tingkat petani masih Rp 600.

"Kami datang kesini karena penurunan harga sawit dan karet sangat merisaukan masyarakat. Terutama orangtua kami sangat memprihatinkan sekali. Entah kenapa tiba-tiba harga TBS langsung naik pasca kedatangan pak Jokowi ke Riau", ujar Ikhwan mahasiswa Faperta UNRI lainnya saat ditanya usai audensi.

Ikhwan mengakui, dari penjelasan Kepala Dinas Tanaman Pangan Holtikultura Riau, Feri HC belum memuaskan. Hanya saja ia bisa memaklumi karena jadwal Feri HC yang harus ia selesaikan. Beberapa hari kedepan ia berjanji akan kembali berdialog untuk membahas masalah tersebut.

Dikonfirmasi terpisah, Feri HC mengatakan anjloknya harga sawit akhir akhir ini merupakan hal biasa.

"Ya itu biasa. Merupakan proses pasar dimana disaat permintaan sedikit tawaran banyak, itu harga semakin turun. Disisi lain beberapa pembeli dari luar melakukan penahanan karena over load dari stock yang mereka punya", ucapnya.

Ia menjelaskan, beberapa minggu terakhir sudah mulai berangsur normal kembali. Disamping itu ucap Feri anjloknya harga sawit juga dipicu oleh adanya blackcampaign dari pihak luar terhadap regulasi CPO di Indonesia.

Feri mengaku pihaknya juga memiliki peran dalam menetapkan harga TBS. "Setiap hari Selasa kita tetapkan harga", ujarnya.

Untuk itu ia menghimbau para petani harus kuat dan kelembagaan harus kuat, tutup Feri.

Sementara ketua Komisi II DPRD Riau Ma,mun Solikhin mengungkapkan, kembali naiknya harga sawit menuju hrga normal, murni karena penyesuain harga. Dan harga itu juga ditetapkan oleh daerah yang melibatkan stackholder.

"Kenaikan ini tak ada sangkut pautnya dengan kedatangan Jokowi ke Riau. Sekarang kan tahun politik, maka wajar saja kalau setiap hal dianalisa diarahkan ke politik. Saya kira kita harus bijak dengan pemahaman. Makanya ketika adik-adik kita mahasiwa menyuarakan pak Kadis yang langsung menjawab", tegas Solikhin. 

Solikhin juga mengaku turut prihatin atas fluktuasi harga sawit termasuk produk unggulan di Riau beberapa bulan terakhir. 

"Tapi memang harga sawit masih ditentukan oleh yang membutuhkan. Kita berharap pemerintah baik pusat maupun daerah membuat inovasi atau industri hilir supaya diperbanyak. 

Ia pun menghimbau masyarakat Riau khususnya para petani tidak hanya menunggu buah kelapa sawit. Melainkan tanaman lain yang bisa menopang kehidupan.

Misalnya sambung Solikhin, tanaman jagung. Sehingga ketika harga kelapa sawit anjlok, ada bumpernya, ucap politisi PDIP tersebut.

Audensi yang berlangsung sekitar 2,5 jam itu, tampak hadir sejumlah staf Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura. Sedangkan dari Komisi II tampak Eva Yuliana, Malik Siregar, dan James Pasaribu.(fin)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Kelola Lahan Gambut, Unri Berencana Bentuk Pusat Unggulan Iptek
Kepala Bakamla RI Terima Audiensi PNTI
Gubernur Syamsuar Terima Audiensi Dewan Pendidikan Provinsi Riau
Panglima TNI Terima Audiensi Direktur Utama PT. KAI
Kepala Bakamla Terima Audiensi Universitas Andalas

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad