UCAPAN RAMADHAN RIAUEDITOR
Home  / Opini
Adaptasi Masyarakat Digital di Masa Pandemi Covid-19
Oleh: Nita Rimayanti, M.Comm, Founder LPK Pabrik Cerdas Commit
Kamis, 11 Februari 2021 | 17:36:00
Nita Rimayanti, M.Comm
COVID-19 telah merambah Indonesia selama hampir satu tahun, dampak dari pandemi Covid salah satunya menghantarkan masyarakat lebih cepat menuju masyarakat informasi.

Nurudin dalam bukunya Perkembangan Teknologi Komunikasi 2018 mengatakan bahwa masyarakat informasi merupakan individu-individu yang memiliki pekerjaan dengan kemampuan memproduksi, mengolah, mendistribusikan informasi, atau aktivitas sehari-harinya tidak bisa lepas dari teknologi modern.

Hal ini dapat kita lihat masyarakat mulai terbiasa menggunakan berbagai alat komunikasi seperti smartphone dan komputer. Bagi generasi baby boomers dan generasi X yang masih masuk pada kategori pekerja aktif sampai berumur 64 tahun dengan adanya Covid 19 memaksa mereka untuk beradaptasi dengan teknologi digital yang selama ini lebih cepat dikuasai anak muda atau milleneal.

Dampak pademi Covid 19 memaksa masyarakat untuk menggunakan media online, berbagai pekerjaan yang dilakukan dikantor berubah menjadi bekerja di rumah melalui online, segala sesuatu serba digital.

Budaya organisasi perusahaan berubah menjadi jarang bertemu tatap muka, interaksi dilakukan melalui online, muncul kata work from home, berbagai hastag #jagajarak, #dirumahaja yang menjadi tranding topik di media sosial, siswa dan guru melakukan proses belajar mengajar dengan menggunakan online.

Mau tidak mau, suka atau tidak suka masyarakat dihadapkan pada perubahan yang juga mempengaruhi kebiasaan hidup mereka sendiri. Buruk atau tidak dampak semua ini, tergantung pada diri seseorang bagaimana mereka memiliki habitus, modal dan arena sehingga pada praktiknya bisa beradaptasi dengan berbagai perubahan yang ada.

Bourdieu, seorang filsafat sosiologi kritis yang lahir pada tahun 1930 dan mengakhiri usianya pada tahun 2002 menerbitkan sebuah buku yang berjudul Distinction: A Social Critique of Judgement of taste.

Bourdieu membahas perilaku sosial, dia mengungkapkan bagaimana dalam praktiknya terdapat habitus, kapital (modal) dan arena. Bila dikaitkan dengan kondisi saat ini maka kita bisa melihat bagaimana perilaku sosial masyarakat dalam menghadapi pandemi Covid 19.

Setiap individu memiliki pendapatnya sendiri dalam menghadapi bencana ini, pengalaman yang dirasakan oleh mereka membentuk berbagai opini, pendapat, pemikiran atau keinginan-keinginan yang mereka rasakan.

1. Beradapatasi dengan pademi Covid-19

Penerapan untuk menjaga jarak dan tetap di rumah menjadi langkah awal pemerintah mengatasi pandemi Covid 19. Para pekerja melakukan work from home, berbagai pekerjaan dilakukan dirumah melalui online.

Perubahan juga terjadi pada perekonomian Indonesia, memang selama ini jual beli online sudah banyak dilakukan oleh masyarakat Indonesia tetapi dengan penerapan jaga jarak dan tetap di rumah maka pemenuhan segala kebutuhan konsumen dilakukan secara online.

Hasilnya perubahan gaya hidup ini berdampak pada banyaknya UMKM yang kesulitan untuk berjualan karena kurang menguasai teknologi digital, murid dan guru menghadapi dilema menggunakan metode belajar secara online.

Simpang siur masyarakat berpendapat ada yang baik dan ada yang merasa tidak berguna strategi yang digunakan oleh berbagai pihak. Hal ini karena semua orang sedang beradaptasi dengan kondisi yang terjadi pada awal pandemi Covid 19.

Siapa yang akan bisa beradaptasi dengan kondisi seperti ini? Semua tergantung pada habitus seseorang, bagaimana mereka memiliki keinginan-keinginan yang kuat untuk menghadapi pandemi ini.

Habitus merupakan bagian dari praksis sosial seseorang, bagaimana dia mendapatkan berbagai informasi, pengetahuan yang kemudian masuk kedalam internalnya. Seseorang berperilaku karena apa yang diyakininya, buruk atau tidak karena pemahamannya akan sesuatu.

Setiap orang mendapatkan berbagai informasi baik dari komunikasi tatap muka, maupun melalui media sosial atau media online. Ketika informasi diserap dan
masuk kedalam dirinya atau internal maka setiap orang memiliki pendapatnya sendiri.

Inilah yang akan memunculkan habitus seseorang, seberapa besar seseorang memiliki keinginan untuk berusaha mengatasi pandemi covid 19? Bagi mereka yang memiliki keinginan besar untuk beradaptasi maka akan belajar bagaimana menggunakan internet dan teknologi pendukung lainnya.

Dari sisi ekonomi muncul berbagai strategi untuk meningkatkan penjualan melalui digital marketing, mau tidak mau belajar bagaimana membuat konten menarik di media sosial, menjadi youtuber, memproduksi berbagai foto menarik yang dapat membangkitkan selera konsumen.

Guru dan siswa mempelajari bagaimana menggunakan berbagai aplikasi seperti zoom dan google meet yang dapat memudahkan proses belajar mengajar. Para pekerja semakin menguasai digital, menggunakan berbagai aplikasi untuk menyelesaikan pekerjaan mereka.

Absen yang dilakukan secara manual berubah menggunakan google form, meeting dengan berbagai klien ataupun karyawan dilakukan melalui berbagai aplikasi yang ada didalam smartphone. Akhirnya penggunaan internet semakin diperlukan oleh masyarakat Indonesia.

Setiap orang memiliki habitus yang berbeda-beda. Bagaimana nilai-nilai, gaya hidup, benar atau salah tergantung bagaimana kita memahami lingkungan di sekeliling. Habitus dapat berubah-rubah ketika penyerapan berbagai informasi yang masuk kedalam diri seseorang maka dapat merubah pendapat sebelumnya.

Saat awal berkata bahwa sulit sekali menggunakan media virtual untuk berkomunikasi tetapi setelah setahun beradaptasi telah menjadi sebuah kebiasaan dan semakin menguasai teknologi komunikasi.

Jika memiliki keinginan untuk berubah maka akan ada upaya untuk beradaptasi dengan pandemi Covid 19, tetapi jika mereka berpendapat bahwa teknologi sangat sulit untuk dikuasai maka tidak begitu besar upaya untuk merubah perilaku seseorang.

"Maka jika ingin bisa beradapatasi setiap orang harus membentuk habitus yang tepat menghadapi kejadian ini. Mungkin tidak ada yang menyangka bahwa dirinya kemudian menjadi seorang youtuber karena sejak sering berada di rumah belajar merekam dan mengedit video yang menghasilkan sebuah konten."

Hal ini terjadi karena adanya keinginan, nilai-nilai yang dianutnya untuk yakin bisa menguasai teknologi. Jika tidak yakin tentu tidak mau untuk mencoba melakukan perubahan pada hidupnya.

Setelah setahun dapat kita lihat munculnya youtuber tidak hanya dari milleneal tetapi juga dari generasi baby boomers dan generasi X. Para ibu-ibu pelaku usaha belajar menggunakan kamera untuk membuat konten yang menarik, memiliki kemampuan untuk membuat berbagai pesan menarik untuk bisa di upload ke media sosial.

Guru dan murid semakin mudah berinteraksi melalui media online, penggunaan tatap muka melalui berbagai aplikasi seperti what's app, zoom, meet maupun aplikasi seperti google classroom. Efektifnya pertemuan tergantung dari kemampuan setiap orang untuk memiliki strategi dalam menciptakan pesan yang tepat melalui aplikasi tersebut. Kembali lagi menyangkut pada bagaimana habitus seseorang dalam menyelesaikan berbagai problem yang mereka miliki.

2. Internet sebagai arena masyarakat informasi

Disisi lain, habitus yang merupakan internalisasi eksterior, atau segala yang kita amati disekeliling kita akan masuk kedalam ranah internal atau kedalam diri yang kemudian akan membentuk sebuah pemikiran.

Meski memiliki kejadian yang sama seperti work from home tetapi tidak semua orang akan memiliki pendapat yang sama ataupun berperilaku yang sama ketika mengungkapkannya ke masyarakat. Makanya perdebatan di media sosial terjadi, ada yang mengatakan sulit melakukan proses belajar mengajar melalui online tetapi ada yang berpendapat bahwa mereka mampu beradaptasi dan menguasai media online. Salah menyalahkan pun terjadi, hal ini karena hasil dari habitus yang berbeda-beda dan kemudian mengungkapkannya kedalam arena yang merupakan eksternalisasi interior.

Media sosial merupakan arena bagi penggunaanya untuk mengungkapkan berbagai pendapatnya yang dishare melalui status mereka. Untuk bisa beradaptasi dengan keadaan saat ini melihat pendapat Bourdieu, tidak cukup hanya habitus saja tetapi kita juga menguasai arena.

Memasuki era industry 4.0 perkembangan teknologi terus mengalami kemajuan. Smartphone sebagai ponsel cerdas yang memiliki kemampuan untuk membentuk jaringan berbagai alat komunikasi lainnya seperti kamera, merekam suara, mengedit berbagai video maupun foto, menggunakan email dan saling terintegrasi satu sama lainnya.

Dari satu smartphone bisa terkoneksi dengan televisi, kamera professional, sound, maupun alat lainnya yang serba digital dan semua menjadi media komunikasi untuk berinteraksi satu sama lainnya mempermudah manusia menjalankan aktifitasnya.

Komunikasi merupakan penyampaian pesan dari seseorang kepada orang lain melalui berbagai media, akan tetapi tidak semua media diperlakukan sama dalam menyampaikan pesan, pengguna harus mengetahui kelemahan dan kelebihan setiap media yang digunakannya.

Salah satu contoh adalah media sosial yang merupakan media publik sehingga penggunaannya tidak cocok untuk menyampaikan berbagai informasi yang sifatnya privat, kecuali pengguna memang telah memahami efek akibat informasi yang diproduksinya dan di share ke media sosial termasuk pemahaman akan UU no. 11 Informasi dan Transaksi Elektronik tahun 2008 (UU ITE).

Efek kurangnya memahami arena mengakibatkan munculnya berbagai konflik antarpribadi. Penyampaian pesan yang tidak tepat, kesalahan dalam menyampaikan informasi bahkan terlalu banyaknya informasi yang sama masuk dalam berbagai ruang komunikasi, hal ini juga merugikan pengguna seperti habisnya data yang digunakan karena informasi yang tidak berguna diterima oleh mereka.

Disisi lain munculnya berbagai informasi yang tidak layak untuk dikonsumsi anak-anak yang tanpa sadar mereka temukan dalam smartphone. Tetapi mereka yang menguasai teknologi digital serta mengetahui kelebihan dan kekurangan menggunakan media tersebut sebagai alat komunikasi akan memiliki kemampuan meliterasi dirinya.

Sebagai contoh membuat konten di Instagram berbeda dengan membuat konten di yotutube atau facebook. Pengguna harus mengetahui siapa audiensnya, mereka biasa menggunakan media sosial seperti apa, dan apa kelebihan setiap media sosial yang akan menjadi media komunikasi.

Contohnya Instagram yang lebih banyak menggunakan foto atau komunikasi visual, sementara facebook lebih banyak menggunakan teks, dan lebih banyak digunakan oleh oleh usia 18 sd 34 tahun ke atas, berbeda dengan Instagram yang disukai anak anak muda.

Jika kita ingin berkomunikasi melalui Instagram maka diperlukan kemampuan memproduksi gambar-gambar menarik dan tentu saja ini membutuhkan sebuah keahlian seperti ingin menjadi youtuber maka mampu untuk membuat video, baik merekam maupun mengedit berbagai gambar, video dan teks yang menghasilkan video yang diupload di youtube.

Berbagai aplikasi telah dapat digunakan baik berbayar maupun gratis melalui smartphone. Smartphone menjadi alat komunikasi yang memudahkan seseorang untuk berinteraksi dan membantu menyelesaikan berbagai kebutuhan masyarakat seperti masalah ekonomi, Pendidikan, maupun sebagai individu yang bekerja dalam sebuah perusahaan.

Dalam dunia Pendidikan proses belajar mengajar juga mengalami perubahan, penguasaan akan berbagai aplikasi tidak hanya dituntut untuk dikuasai oleh pengajar tetapi juga anak didiknya.

Permasalahan muncul ketika pengajar aktif berkomunikasi tetapi siswa tidak aktif untuk bertanya. Untuk bisa efektif diperlukan keinginan dari setiap orang untuk bisa menyukseskan proses belajar mengajar.

Pengajar menambah skill dalam membuat berbagai konten menarik yang memudahkan siswa untuk dapat menyerap berbagai bahan ajar yang diberikan. Siswa memiliki keinginan untuk mau aktif dalam mendapatkan berbagai informasi yang diberikan oleh guru ataupun pengajarnya.

Lagi-lagi penguasaan akan teknologi digital akan memudahkan seseorang beradaptasi dengan pandemik Covid 19. Oleh karena itu individu yang sukses selain memiliki habitus juga menguasai arena dalam menghadapi pandemi Covid 19.

3. Modal untuk bisa beradaptasi dengan Pandemi Covid-19

Habitus yang besar untuk bisa beradaptasi masih memerlukan modal sebelum bertarung ke arena. Modal ekonomi salah satunya adalah memiliki handphone, komputer, atau kemampuan untuk menguasai digital, seperti menggunakan editing, atau berbagai aplikasi. Ini merupakan kendala terbesar bagi masyarakat terutama yang berada di pelosok.

Sementara lahan pekerjaan akan menerima mereka yang menguasai digital. Insfrastruktur pendukung jaringan internet belum memadai, keinginan belajar seorang siswa sudah ada tetapi ketika sedang online mengalami kendala dengan sulitnya menemukan sinyal internet.

Hal ini harus menjadi perhatian pemerintah bagaimana mengatasi kendala ini. Tidak semua masyarakat memiliki modal untuk membeli berbagai peralatan digital seperti yang kita ketahui harganya relatif mahal.

Disisi lain kemampuan mengoperasionalkan berbagai peralatan untuk mengakses internet juga tidak dimiliki tiap orang, bagi mereka yang memiliki modal dengan sendirinya akan mampu mengeluarkan dana untuk membeli berbagai kebutuhan digital, mengikuti berbagai pelatihan untuk menambah skill mereka.

Tentu saja hal ini akan menjadi kesenjangan besar nantinya, terdapat masyarakat yang menguasai teknologi dan masyarakat yang kurang menguasai teknologi bahkan tidak pernah menggunakan internet sama sekali. Oleh karena itu siswa atau pengajar yang tidak memiliki handphone atau laptop akan tertinggal dalam beradaptasi.

UMKM yang memiliki handphone dengan kamera yang canggih akan menghasilkan foto yang tajam akan berbeda dengan konten untuk mereka memiliki kualitas ponsel dengan kamera yang berkualitas rendah. Untuk itu perlu sinergi dari berbagai pihak dalam menyelesaikan permasalahan ini, bagaimana masyarakat mendapatkan kemudahan dalam menggunakan berbagai teknologi digital.

Modal tidak hanya secara ekonomi saja tetapi juga modal simbolik, modal kultural dan modal sosial. Setiap modal tidak harus sama diperlukan dalam setiap ruang, ada sebuah ruang yang memerlukan modal sosial seperti memiliki banyak teman, relasi, rekan kerja yang memudahkan mereka dalam berinteraksi.

Pada dunia Pendidikan, guru atau tenaga pendidik telah memiliki modal simbolik. Siswa mengetahui bahwa pengajarnya seorang pendidik yang ahli pada bidangnya, pengajar adalah seseorang yang memiliki kemampuan dalam menyampaikan pengetahuan kepada anak didiknya, pengajar memiliki pendidikan yang tinggi. Ini merupakan modal simbolik untuk bisa mengarahkan seseorang dalam berinteraksi, kemampuan berkomunikasi menjadi salah satu faktor untuk bisa memudahkan interaksi dengan orang lain.

Seorang guru yang menguasai teknologi dan memiliki kemampuan berkomunikasi secara aktif dalam menyampaikan bahan ajar melalui online akan lebih diterima siswanya dalam proses belajar melalui online. Maka dapat kita lihat bahwa untuk bisa beradaptasi memerlukan habitus, arena dan modal.

Masyarakat harus memiliki keinginan untuk mau terus menimba ilmu, menguasai berbagai media komunikasi dan modal yang bisa saja selain diri pribadi juga mendapatkan bantuan dari pihak lainnya.

Sinergisitas antara semua pihak, pemerintah, masyarakat dan pihak swasta akan memudahkan masyarakat untuk bisa beradaptasi memasuki era revolusi industry 4.0.(*)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Hadapi Terorisme, Indonesia Bisa Adaptasi Strategi CTAP Selandia Baru
Ketum Dharma Pertiwi: Wanita TNI Harus Adaptasi Dengan Perkembangan Jaman
Warga di Zona Merah Dianjurkan Salat Tarawih di Rumah
Sikapi Masalah Banjir, Ini yang Dilakukan Dinas PUPR Pekanbaru
Ketua Dewan Pers: Pengelola Media Massa Berbasis internet Perlu Memahami Digital Culture

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad
free web site hit counter