Home  / Opini
Jangan Lengah pada Ketidakpastian Global
Oleh M.H. SAID ABDULLAH*
Senin, 16 Desember 2019 | 19:08:11
M.H. SAID ABDULLAH (Jawa Pos)
KITA segera memasuki tahun 2020 dengan kondisi ekonomi global yang penuh dengan ketidakpastian akibat perang dagang (trade war) AS dan Tiongkok.

Hal itu berimbas pada melambatnya penggerak pertumbuhan ekonomi domestik di banyak negara, termasuk Indonesia.

Di tengah perlambatan ekonomi global, kita patut bersyukur pertumbuhan ekonomi Indonesia sampai dengan kuartal III-2019 masih bisa mencapai 5,02 persen (yoy). Angka pertumbuhan tersebut menunjukkan Indonesia termasuk negara yang mampu bertahan di tengah perlambatan ekonomi global.

Modal pertumbuhan yang relatif stabil sepanjang 2019 harus bisa dimanfaatkan dalam menghadapi situasi ekonomi global yang tidak menentu. Bahkan, kita berharap pemerintah mampu menangkap peluang untuk mengambil manfaat di tengah ketegangan perdagangan antara AS dan Tiongkok tersebut.

APBN 2020 yang telah disahkan DPR dan pemerintah tetap menjadi ukuran untuk melihat kinerja ekonomi. Dalam APBN 2020 telah ditetapkan asumsi ekonomi makro, antara lain, target pertumbuhan ekonomi 5,30 persen; tingkat inflasi 3,10 persen; nilai tukar Rp 14.400 per USD; tingkat suku bunga SPN 5,4 persen; harga minyak (ICP) 63 USD/barel; lifting minyak 755 ribu barel/hari, dan lifting gas 1.191 mboepd.

Target pertumbuhan 5,30 persen pada 2020 bukan suatu hal yang mudah dicapai. Mengingat, hingga kuartal III-2019 pertumbuhan ekonomi baru mencapai 5,02 persen (yoy). Bahkan, hingga akhir 2019, perekonomian nasional diprediksi tumbuh sekitar 5,05 persen. Dengan demikian, target APBN 2019 sebesar 5,30 dan outlook APBN 2019 sebesar 5,20 persen tidak akan tercapai.

Kemampuan ekonomi Indonesia untuk tumbuh pada tingkat 5,05 persen menjadi modal dasar dalam mempersiapkan diri memasuki 2020. Untuk tetap mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia seperti saat ini, kita perlu menyiapkan beberapa langkah mitigasi. Ke depan sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih banyak disumbang oleh konsumsi rumah tangga, investasi, dan belanja pemerintah. Sedangkan ekspor dan impor belum banyak membantu dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.

Pertama, menjaga konsumsi rumah tangga tetap stabil. Golongan masyarakat yang paling rentan terkena dampak fluktuasi ekonomi adalah golongan masyarakat miskin. Kelompok tersebut perlu mendapatkan proteksi dan dukungan dari pemerintah melalui mekanisme APBN. Misalnya, dalam bentuk bantuan sosial, transfer, bantuan pangan nontunai, hingga jaminan kesehatan nasional (JKN). Sedangkan masyarakat menengah diberi insentif agar mampu mempertahankan daya beli.

Kedua, menyiapkan iklim investasi yang kondusif bagi calon investor yang akan menanamkan modalnya di Indonesia. Baik yang bersifat portofolio maupun foreign direct investment (FDI) untuk menjaga likuiditas ekonomi dan membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya. Oleh sebab itu, perlu didukung dengan kebijakan yang memangkas peraturan, biaya, dan birokrasi yang rumit.

Ketiga, mendorong belanja pemerintah yang produktif. Pemerintah mesti konsisten menjaga kinerja belanja publiknya, terutama belanja produktif seperti belanja modal untuk dapat menjaga dan memacu pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Keempat adalah meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM).

Yang kelima adalah mencari sumber pertumbuhan ekonomi baru. Pasca berlalunya booming barang-barang komoditas, Indonesia perlu memiliki sumber pertumbuhan ekonomi baru yang relevan dengan potensi yang kita miliki. Ada dua potensi, yaitu industri wisata dan produk halal.

Kita optimistis bahwa perekonomian nasional akan terus membaik. Tetapi, kita tentu tidak boleh lengah dalam menghadapi kondisi ekonomi global yang penuh dengan ketidakpastian. Langkah-langkah mitigasi ekonomi agar pertumbuhan tetap tercapai sesuai target perlu terus kita lakukan. Dengan kualitas APBN 2020 yang semakin sehat, kredibel, dan berkelanjutan seperti yang ada saat ini, rasanya kita cukup optimistis menghadapi 2020. (*)

*) Ketua Badan Anggaran DPR RI

(sumber: jawapos.com)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Kondisi Saat Ini Versi BI: Semua Orang Selamatkan Asetnya!
Duh, IMF Beri ‘Warning’ Soal Badai Perekonomian Global
Panglima TNI: Perkembangan Politik, Ekonomi dan Teknologi Global Ciptakan Metode Peperangan Baru
Kasum TNI: Hadapi Tantangan Global, Wanita TNI Harus Tingkatkan Perannya Sebagai Prajurit Profesional
Panglima TNI: Kokohnya Sinergitas dan Soliditas TNI-Polri Mampu Waspadai Dampak Global

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad