Home  / Opini
Petamburan dan Celana Bercak Darah Rama di Aksi 22 Mei
Sabtu, 25 Mei 2019 | 12:29:31
(CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Ledakan petasan di tengah bentrok massa dan polisi saat kerusuhan 22 Mei di depan gedung Bawaslu RI, Jakarta, Rabu malam, 22 Mei 2019.
JAKARTA - Widianto Rizki Ramadan, 17, adalah salah seorang korban tewas dari kerusuhan aksi 22 Mei 2019 lalu yang bermula dari jalan MH Thamrin di depan Gedung Bawaslu RI, Jakarta Pusat.

Tewasnya pemuda yang karib disapa Rama itu meninggalkan kesedihan di antara keluarganya, terutama sang nenek. Pasalnya, Rama yang bersekolah di Jurusan Tata Boga SMK 60 Duri Kepa Jakarta itu tinggal bersama sang nenek sejak ibunya wafat pada 2014 silam.

Dari keluarganya diketahui bahwa Rama yang merupakan anak kedua dari tiga bersaudara itu diketahui saat ini sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Hotel Ciputra. Sejak kematian ibunya tahun 2014, Rama memilih tinggal dengan neneknya.

Celana Bercak Darah

Sepupu korban, Sri Sudarsih (47) mengatakan kalau Rama sempat ke daerah Petamburan usai salat subuh. Saat itu, Rama telah membuat janji dengan teman-teman rumahnya untuk melihat-lihat kondisi di daerah tersebut menyusul kerusuhan semalaman setelah aksi 21 Mei 2019.

Kemudian, lanjutnya, Rama pulang dengan kondisi celana yang sudah terkena bercak darah. Kata Sri, sepupunya itu turut menolong orang lain yang mendapati luka usai kerusuhan pada 21 mei malam hingga lepas dini hari.

Awalnya, kata Sri, setelah pulang Rama sebetulnya akan pergi ke sekolah. Namun, setelah mendapat informasi dari sang kawan bahwa sekolahnya diliburkan, Rama memutuskan kembali ke lokasi demonstrasi bersama dengan rombongan pria dewasa di sekitar rumahnya.

Melihat Rama akan pergi lagi, Sri mengungkapkan bahwa sang nenek berulang kali melarangnya. Rama, kata dia, disuruh tinggal saja di rumah.

"Sempat dilarang sama Neneknya, 'Sudah ga usah balik lagi, mau ngapain?' Rama menjawab, 'Banyak orang luka, kasian'. Namanya anak ya, larangan enggak cukup. Neneknya melarang, dia 'iya-iya' saja, tapi tahu-tahunya dia pergi lagi," ujar Sri saat ditemui di kediamannya, Jalan H Rausin, Palmerah, Jakarta Barat, Jum'at (24/5).

Sri mengatakan wajar Rama ingin ikut dalam aksi 22 Mei, karena sang sepupu diketahui sempat ikut aksi beberapa kali termasuk rangkaian aksi bela Islam 212.

Saat aksi 22 Mei berlangsung, Sri mengungkapkan Rama banyak merekam dan menyebarluaskan peristiwa kericuhan beberapa kali di WhatsApp story. Melihat itu, pihak keluarga lantas memperingatkan dan meminta dirinya segera pulang. 

"Saat aksi dia unggah video tentang kejadian di lapangan terus. Itu dia unggah di WhatsApp story. Kami lantas balas dengan chat berkali-kali yang intinya nyuruh dia pulang. Tapi, dia balas hanya sekali dengan 'iya-iya saja'," katanya.

Sri Sudarsih, sepupu dari korban tewas dalam kerusuhan 22 Mei 2019, Widianto Rizki Ramadan. (CNN Indonesia/Ryan Hadi)

Luka Tembak

Sri mengatakan berdasarkan penuturan salah seorang teman Rama, sepupunya tersebut terkena luka tembak di punggung bagian atas.

Mata Sri berkaca-kaca saat menceritakan peristiwa tersebut. Dia tidak tahu-menahu asal muasal peluru tersebut.

Teman-temannya, ujar Sri, hanya melihat Rama sudah tergeletak kala itu. Barang-barang Rama, seperti handphone dan dompet yang berisi identitas dirinya pun, hilang.

"Teman-temannya enggak dengar tembakan, tapi temannya lihat Rama sudah berdarah di bagian punggung. Terus dibawa ke Ambulans, kata temannya mereka enggak boleh ikut," ujar Sri.

Teman-teman Rama tersebut langsung mengabarkan ke rumah soal peristiwa yang terjadi. Namun saat ditanya Rama dibawa ke rumah sakit mana, kata Sri, teman-teman sepupunya itu juga tak menjawab tepat hanya pilihan yang didengar dari petugas ambulans.

"Rama kita enggak tahu dibawa ke RS mana, tapi menurut teman-temannya yang bertanya ke petugas ambulans, 'Cari saja di 3 RS; RS Pelni, RS Tarakan, dan RS Budi Kemuliaan'. Setelah kejadian, teman-temannya datang ke sini (keluarga) untuk menginformasikan dan memberikan kunci motor," tutur Sri.

Saat mendengar kabar soal Rama, pihak keluarganya segera pontang-panting ke lokasi rumah sakit tempat korban kerusuhan 22 Mei dilarikan.

Pontang-panting Mencari Rama di Tiga Rumah Sakit

Sejumlah relawan membawa korban kericuhan Aksi 22 Mei di RSUD Tarakan, Jakarta Pusat, Rabu (22/5). (ANTARA FOTO/Ari)

Saat mendengar kabar soal Rama, pihak keluarganya segera berpencar mencari di tiga lokasi rumah sakit tempat korban kerusuhan 22 Mei dibawa: RS BUdi Kemuliaan, RS Pelni, dan RS Tarakan.

Sri mengatakan dirinya menuju RS Budi Kemuliaan, Gambir. Berdasarkan informasi pihak rumah sakit, tidak ada korban tembak di sana. Tak berselang lama, Liani (39) yang merupakan Tante Rama mengabarkan kalau terdapat korban luka tembak di RS Tarakan.

"Dapat kabar dari Tantenya yang lain bilang Rama ada di RS Tarakan, saya langsung ke sana. Di RS Tarakan ada jenazah tanpa identitas, saya minta sama sekuriti tolong dong difotoin. Kita satu pun enggak boleh ada yang masuk. Difoto pada bagian wajah, di mana kepalanya sudah diikat kain kafan. Ternyata benar itu dia," tutur Sri lirih.

Liani menambahkan RS Tarakan sangat mempersulit pihak keluarga dengan tidak mengizinkan melihat langsung Rama di kamar jenazah. Dia emosional. Selama sekitar lima jam lebih, katanya, pihak rumah sakit berlindung dengan sejumlah alasan.

"Waktu itu aku lagi di mobil jenazah, dari pagi aku belum ketemu. Berapa jam tuh aku nunggu, katanya lagi divisum. Terus aku tanya sampai kapan? dijawab lagi proses," ujar Liani mengenang lagi kejadian yang dialami saat ingin membawa jasad Rama pulang.

Beruntung, kehadiran Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan ke RS Tarakan siang itu membantu mereka.

Sejatinya, Anies berkunjung ke tempat tersebut untuk menjenguk korban demonstrasi. Berbekal informasi dari salah seorang wartawan yang juga meliput di sana, Liani segera menghampiri sang gubernur untuk meminta pertolongan. Gayung bersambut, kehadiran Anies membuat dirinya bisa membawa pulang jasad Rama. Anies, kata dia, bahkan yang langsung membawa jenazah Rama dan menyerahkannya ke pihak keluarga.

"Terus jam 2 Pak Anies datang, aku bilang, 'Saya tantenya', (Umur berapa?) 17 tahun. (Rumah di mana?) dia tinggal sama neneknya. Saya bilang masih lama Pak Anies. 'Yaudah ayo', kata Pak Anies," imbuhnya.

"Kita ke ruangan jenazah, Pak Aniesnya masuk. Aku nunggu di ruangan luar di mana mobil jenazah lalu lalang. Di situ, enggak lama Pak Anies keluarin jenazahnya. Pak Anies yang ngeluarin. Abis itu kita bawa ke rumah," lanjut Liani.

[email protected]

Prosesi pemakaman pun berlangsung cepat. Hal itu terjadi karena pihak keluarga sudah menyiapkan segala keperluan semenjak mendengar kabar Rama tertembak. Jenazah Rama disalatkan di musala Sa'adatuddarain yang berada dekat dengan rumah duka, lalu dikebumikan di TPU Karet Bivak.

"Kita jalan ke pemakaman Karet Bivak itu azan Asar. Setengah 3 [jenazah] sampai, langsung dimandiin, disalatin di musala Sa'adatuddarain. Dilakukan segera karena kita sudah siap-siap semenjak temen-temen Rama ngabarin Rama kena tembak. Rama dikubur ditumpuk dengan jenazah Ibunya, sudah dapat izin dari pihak pemakaman," jelasnya.

Kini, kata Sri, pihak keluarga sudah mengikhlaskan kepergian Rama. Itulah, sambungnya, yang membuat keluarga sampai dengan saat ini belum membuat laporan kepada pihak terkait mengenai kematian sepupunya itu. 

Tapi, saat mendengar pihak kepolisian akan membentuk tim investigasi mengusut korban jiwa akibat demonstrasi 22 Mei, Sri mengatakan akan berdiskusi dengan pihak keluarga terlebih dahulu untuk keputusan lebih lanjut.

Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Widyastuti juga mengatakan total ada delapan korban tewas usai kerusuhan 22 Mei. Sementara jumlah orang yang sudah mendapat perawatan medis mencapai 905 orang.

Widyastuti mengatakan empat dari delapan korban tewas sudah diautopsi di RS Polri. Sementara empat korban lainnya sudah dibawa pulang keluarga karena menolak autopsi.

"Empat korban meninggal yang dirujuk ke RS Polri dilakukan autopsi dengan hasil seperti pernyataan Karumkit RS Polri. Empat jenazah lainnya keluarga menolak dilakukan autopsi dan sudah dibawa pulang oleh keluarga," kata Widyastuti dalam keterangan tertulis.

Saat dihubungi terpisah, Kepala Rumah Sakit Polri Brigadir Jenderal Musyafak mengatakan, empat jenazah yang diautopsi tersebut diterima dari tiga rumah sakit lain. 

Tiga rumah sakit tersebut adalah Rumah Sakit Angkatan Laut Mintohardjo satu jenazah, Rumah Sakit Pelni dua jenazah dan Rumah Sakit Dharmais satu jenazah.

Jenazah yang sudah diautopsi, kata dia, sudah diserahkan ke keluarga. Namun ia belum menjelaskan lebih lanjut soal hasil dari autopsi korban kerusuhan 22 Mei tersebut.

Hingga kemarin tercatat masih ada 58 orang yang dirawat di Rumah Sakit. Pemprov DKI Jakarta menanggung biaya pengobatan korban. 

(cnnindonesia.com)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Jokowi Ancam Pecat Jenderal, Ini Fakta Kebakaran Hutan RI
Kebakaran Hutan Sempat Bikin Rugi Rp 221 T, Jokowi Trauma?
Kasus Meikarta, KPK Geledah Ruangan Sekda Jabar Iwa Karniwa
Tersangkut Meikarta, Sekda Jabar Jadi Tersangka KPK
KPK Akan Kembangkan Kasus Suap Meikarta, Segera Ada Tersangka Baru?

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad