Home  / Nasional
Pecah Rekor Lagi, Kasus Positif 25 September 4.823 Orang
Jumat, 25 September 2020 | 15:36:24
(ANTARA FOTO/GALIH PRADIPTA)
Tenaga medis beraktivitas di halaman tower lima Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19 Wisma Atlet Kemayoran, di Jakarta, 11 September 2020.
JAKARTA - Jumlah kumulatif kasus positif virus corona (Covid-19) di Indonesia per Jumat (25/9) adalah 266.845 orang. Angka tersebut bertambah 4.823 dari sehari sebelumnya.

Dari jumlah kumulatif tersebut sebanyak 196.196 sembuh (bertambah 4.343) dan 10.218 meninggal (bertambah 113).

Untuk diketahui, hari ini adalah rekor baru tambahan pasien positif Covid-19 di Indonesia. Rekor sebelumnya adalah pada 24 September lalu sebanyak 4.634 orang. Selain itu, hari ini adalah untuk ketujuh kalinya tambahan harian positif Covid-19 pecah rekor sepanjang September ini.

Bukan hanya tambahan kasus positif, tambahan harian pasien sembuh hari ini pun mencatat rekor baru. Rekor sebelumnya adalah pada 18 September 2020 sebanyak 4.088.

Berdasarkan data Satgas Penanganan Covid-19 jumlah suspek per hari ini mencapai 112.082, dan spesimen yang diperiksa 46.133 dari 34 provinsi di Indonesia.

Sehari sebelumnya, pada Kamis (24/9), jumlah kumulatif positif Covid-19 di Indonesia adalah 262.022 orang per Kamis (24/9). Angka tersebut bertambah 4.634 orang dari hari sebelumnya.

Dari jumlah kumulatif pada Kamis tersebut tersebut, sebanyak 191.853 orang dinyatakan telah sembuh dan 10.105 orang meninggal dunia. 

Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto mengatakan di masa pandemi virus corona (Covid-19) semua orang harus dianggap positif Covid-19. Hal itu dilakukan bertujuan untuk membuat orang disiplin pakai masker dan menerapkan protokol kesehatan. Pernyataan itu ia sampaikan saat kunjungan kerja ke Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Tanjung Pinang pada Kamis (24/9) lalu.

"Harus menganggap semua orang positif, bukan sakit, kita pakai masker karena masa pandemi. Harus ikhlas pakai masker, rajin cuci tangan, dan jaga jarak," kata Terawan mengutip keterangan resmi di laman sehatnegeriku.kemkes.go.id, Jumat (25/9).

Sementara itu Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan pemerintah akan menyiapkan distribusi vaksin virus corona secara bertahap. Distribusi ditargetkan mulai akhir tahun ini atau awal 2021.

Untuk tahap pertama, pemerintah bakal siapkan 1,3 juta vaksin untuk tenaga kesehatan yang merupakan garda terdepan penanganan Covid-19.

Setelah itu, pemerintah akan mendistribusikan vaksin virus corona kepala pelayan publik dan aparatur sipil negara (ASN). Selanjutnya, vaksin diberikan kepada masyarakat berusia produktif, kelompok comorbid, dan peserta penerima bantuan iuran (PBI) BPJS Kesehatan.

"Nanti pada Desember atau awal Januari 2021 bisa mulai vaksinasi," ujar Airlangga dalam rapat koordinasi pimpinan Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PC-PEN) dan Kementerian/Lembaga (K/L) di kawasan Wisata Lagoi, Bintan, Kepulauan Riau, Jumat (25/9).

Sementara itu, sejumlah epidemiolog Indonesia meminta pemerintah tak hanya fokus ke pengembangan vaksin, tapi juga ke strategi dasar 3T (testing, tracing, dan treatment) dalam pengendalian pandemi Covid-19.  

Salah satunya epidemiolog dari Universitas Indonesia, Pandu Riono yang mengatakan kesehatan publik dari Covid-19 dapat dicapai dengan langkah pengawasan atau surveilans dengan menggunakan pendekatan 3T dan isolasi. Menurutnya masalah surveilans masih menjadi sebuah momok di Indonesia.

"Enggak usah urusin vaksin atau obat,obat vaksin lupakan. Kesehatan publik saja lewat surveilans," kata Pandu.

Senada dengan Pandu, Epidemiolog dari Universitas Griffith, Dicky Budiman menyatakan vaksin dan obat tidak bisa menjadi senjata utama untuk mengatasi pandemi Covid-19. Bila melihat sejarah, Dicky mengatakan tidak ada pandemi yang selesai karena kehadiran vaksin atau obat.

"Harus dipahami dalam strategi pengendalian pandemi, belum ada pandemi yang selesai dengan vaksin atau obat," ujar Dicky.

Dicky mengingatkan vaksin merupakan strategi tambahan dari strategi utama yang berupa surveilans. Strategi surveilans ini dilakukan dengan menerapkan 3T dan isolasi secara masif. Data surveilans, bagi Dicky dijadikan strategi utama dalam pengendalian Covid-19. Vaksin merupakan pelengkap dan tambahan dari strategi utama tersebut. Ia mengatakan program vaksinasi akan berhasil apabila didasari data surveilans.

Pemerintah Indonesia sendiri telah melakukan sejumlah kerja sama dengan negara lain untuk pengadaan vaksin Covid-19 dari mulai Sinovac-China, Sinopharm-China dan CanSino, hingga vaksin buatan lokal dari LBM Eijkman.

Berdasarkan data Satgas Penanganan Covid-19, kasus Covid-19 sudah memapar di seluruh provinsi negeri ini. Dari 34 provinsi Indonesia, kasus terbanyak ada di DKI Jakarta disusul Jawa Timur dan Jawa Tengah.

(CNNIndonesia.com)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Update Covid-19 Riau, Bertambah 294 Kasus Terkonfirmasi
Bertambah 29 Kasus, Total Pasien Covid-19 Capai 723 Kasus
10 Daerah dengan Penambahan Covid-19 di Atas 100 Orang per 25 Oktober, Riau Nomor 5
Update 25 Oktober: Positif Covid-19 Bertambah 3.732 Jadi 389.712 Orang
Sebaran Positif Covid-19 Tembus 385.980 Orang, Riau Kembali Melonjak

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad
free web site hit counter