Home  / Nasional
Klaim Zona Hijau Risma dan Data Merah Sebaran Corona Surabaya
Selasa, 4 Agustus 2020 | 08:46:41
(ANTARA FOTO/Didik Suhartono)
Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini.
JAKARTA - Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengklaim daerahnya telah menjadi zona risiko rendah (zona hijau) penularan virus corona (Covid-19). Klaim itu berdasarkan pada kondisi Surabaya yang mencatatkan angka sembuh yang tinggi.

"Di mana kondisi Surabaya sudah [zona] hijau yang artinya penularannya kita sudah rendah. Lalu yang sembuh sudah banyak," kata Risma mengutip siaran pers, Senin (3/8).

Namun berdasarkan pada data https://covid19.go.id/peta-risiko, Surabaya masih tercatat sebagai zona risiko tinggi penularan (zona merah).

Peta resmi Satuan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Jatim diakses Selasa (4/8) pukul 06.54 WIB, di infocovid19.jatimprov.go.id, Kota Surabaya juga masih tercatat menjadi zona merah penyebaran corona.

Jumlah angka sembuh di Jatim sendiri memang menjadi yang terbanyak di antara provinsi lain. Data harian Satgas Covid-19 melaporkan jumlah kasus sembuh di Jatim sebanyak 15.534 orang. Namun masih terus tercatat angka penambahan kasus positif setiap harinya.

Dalam tiga hari terakhir, penambahan angka positif di Jatim tercatat di atas 100 setiap harinya.

Pada 1 Agustus penambahan angka positif sebanyak 235 kasus, kemudian 2 Agustus penambahan 180 kasus, dan 3 Agustus penambahan 478 kasus.

Sementara indikator untuk berpindah zona menjadi zona hijau, selain angka sembuh adalah tidak mencatatkan penambahan kasus harian.

"Ada satu tambahan indikator [untuk zona hijau], adalah persentase kasus sembuh, yaitu menghitung seberapa banyak orang yang sudah terpapar covid-19 kemudian sembuh di suatu wilayah, dan tidak mencatat kasus [konfirmasi positif] baru," ujar Anggota Tim Pakar Satgas Covid-19, Dewi Nur Aisyah, belum lama ini dalam siaran YouTube BNPB.

Setidaknya ada sejumlah indikator yang menjadi faktor penilaian status zona di sejumlah daerah. Di antaranya indikator epidemiologi, indikator surveilans dan indikator kesehatan masyarakat. Berikut detailnya.

1. Penurunan jumlah kasus positif selama 2 minggu terakhir dari puncak (target ≥50%)

2. Penurunan jumlah kasus ODP dan PDP selama 2 minggu terakhir dari puncak (target ≥50%)

3. Penurunan jumlah meninggal dari kasus positif selama 2 minggu terakhir dari puncak (target ≥50%)

4. Penurunan jumlah meninggal dari kasus ODP dan PDP selama 2 minggu terakhir dari puncak (target ≥50%)

5. Penurunan jumlah kasus positif yang dirawat di RS selama 2 minggu terakhir dari puncak (target ≥50%)

6. Penurunan jumlah kasus ODP dan PDP yang dirawat di RS selama 2 minggu terakhir dari puncak (target ≥50%)

7. Kenaikan jumlah sembuh dari kasus positif selama 2 minggu terakhir

8. Kenaikan jumlah selesai pemantauan & pengawasan dari ODP dan PDP selama 2 minggu terakhir

9. Penurunan laju insidensi kasus positif per 100,000 penduduk

10. Penurunan angka kematian per 100,000 penduduk

11. Jumlah pemeriksaan spesimen meningkat selama 2 minggu

12. Positivity rate <5% (dari seluruh sampel yang diperiksa, proporsi positif hanya 5%)

13. Jumlah tempat tidur di ruang isolasi RS Rujukan mampu menampung s.d >20% jumlah pasien positif COVID-19

14. Jumlah tempat tidur di RS Rujukan mampu menampung s.d >20% jumlah ODP, PDP, dan pasien positif COVID-19

15. Rt - Angka reproduksi efektif

(CNNIndonesia.com)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Rismawati, S.Pi Kembali Terpilih Pimpin PKGBP Pelalawan Periode 2020-2023, Ini Harapannya
Penggerebekan Jurnalis oleh Intel, Media China: Australia Munafik Bicara Soal Kebebasan Pers!
Bukan AS, Apakah China Punya Militer Terbesar di Planet Bumi?
Filipina Tuduh China Palsukan Klaim atas Laut China Selatan
Cormier Puas jika Bikin Muka Miocic Babak Belur di UFC 252

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad
free web site hit counter