Home  / Nasional
Biar Mudah Diawasi, Erick Thohir Bagi BUMN jadi 15 Klaster
Sabtu, 22 Februari 2020 | 06:20:08
(CNBC Indonesia/Monica Wareza)
Foto: Menteri BUMN Erick Thohir
JAKARTA - Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bakal membagi 142 perusahaan dalam 15 sub-holding berbeda berdasarkan kelompok usahanya masing-masing. Termasuk di dalamnya satu subholding untuk perusahaan yang dinilai sudah masuk dalam kategori dead-weight.

Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan dua wakil menterinya nanti masing-masing akan memegang 7 subholding untuk mempermudah pengawasan 142 perusahaan di BUMN.

"Saya inginnya, belum selesai ya, masing-masing Wamen pegang 7 sub-holding atau lebih atau kalau bisa 7. Lalu ada subholding dead-weight, 15 lah tapi belum selesai. Lagi di-mapping. Karena tidak mungkin Wamen masing-masing, termasuk saya mengawasi 142 perusahan, belum lagi cucu cicit BUMN yang jumlah berapa ratus," kata Erick di kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Jumat (21/2/2020).

Pembagian kelompok perusahaan ini juga merupakan upaya kementerian untuk mengurangi jumlah perusahaan-perusahaan BUMN yang dinilai sudah tak lagi menguntungkan atau dead-weight. Beberapa kriteria untuk perusahaan di kategori ini seperti tak lagi mempunyai prospek bisnis yang ekonomis dan kinerja keuangan merosot alias merugi.

Untuk perusahaan dalam kategori ini, kata Erick, nantinya akan ada dua keputusan apakah perusahaan tersebut akan dilikuidasi atau digabung (merger) dengan perusahaan lain yang sejenis.

Dia menyebutkan, proses merger ataupun likuidasi ini diharapkan dapat selesai dalam waktu tiga bulan sejak diputuskan oleh pemerintah. Saat ini kementerian BUMN masih menunggu restu dari Presiden dan Kementerian Keuangan.

Adapun saat ini Erick sudah memegang 10 perusahaan, baik BUMN maupun anak usahanya, yang sudah siap dilikuidasi. Lima diantaranya merupakan anak usaha PT Garuda Indonesia Tbk. (GIAA), termasuk salah satunya adalah PT Garuda Tauberes Indonesia.

"Saya ga mau bicara detail sebelum pantas dijadikan statement. Tapi kan yang anak usaha itu direksi dan komisaris yang bisa liat duluan mana yang ga efisien dan ga masuk bagian strategi. Yang baru siap Garuda, mereka melihat ada 5 yang ga dibutuhkan. Salah satunya Tauberes," jelasnya.

(cnbcindonesia.com)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Viral Postingan Anggota DPR Dites Corona Positif Korupsi, KPK: Hoaks
Eks Dirkeu PT AP II Dituntut Lima Tahun Penjara
Lurah Kerinci Timur Kabupaten Pelalawan Dititip di LP Sialang Bungkuk 20 Hari Kedepan
BUMN Minta Kejagung Amankan Aset dari Tersangka Jiwasraya
Kerugian Negara Rp 16,8 T, Aset Jiwasraya Disita Rp 13 T

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad