Home  / Nasional
Duh! BUMN Karya Banyak Utang, Anggota DPR Ikutan Nagih
Selasa, 18 Februari 2020 | 08:13:59
(CNBC Indonesia/Anisatul Umah)
Foto: Komisi 6 DPR
JAKARTA - Sejumlah direksi perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bidang karya disentil para anggota Komisi VI DPR RI, Senin (17/2/2020).

Pasalnya, anggota DPR banyak menemukan tunggakan utang yang dilakukan oleh perusahaan BUMN ke pengusaha-pengusaha kecil di daerah.

Salah satunya diungkapkan oleh politisi Golkar dari Dapil Sumatera Utara 2, Lamhot Sinaga. Ia menyebut ada salah satu BUMN karya yang belum membayar utang kepada vendor lokal ketika mengerjakan projek pembangunan di jalan lingkar Samosir, Sumatera Utara.

"BUMN kita itu banyak berutang kepada pengusaha-pengusaha kecil. Contohnya ini Pembangunan Perumahan. Waktu membangun ring road di Samosir itu, nilainya sangat besar. Padahal itu dibiayai negara, APBN. Kok bisa sih ke perusahaan-perusahaan kecil, lokal punya hutang sampai satu tahun bahkan dua tahun lebih tidak dibayar," kata Lamhot saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VI DPR RI dengan sejumlah BUMN bidang karya.

"Waktu mengerjakan Ring Road Samosir, ada yang utang Rp 500 juta, ada yang Rp 1 miliar. Bagi mereka itu kesulitan, kasihan pengusaha-pengusaha lokal kecil itu," katanya.

Padahal, pengusaha lokal membutuhkan dana untuk memutar arus kas. Jika proses pembayaran mandeg, Lamhot menyebut dampaknya bisa mengganggu bisnis secara keseluruhan.

"Saya mohon minta pada BUMN karya khususnya hutang ke pengusaha kecil lokal di mana BUMN karya mengerjakan pengerjaan, segera diselesaikan. Kasihan mereka, karena jika nggak melakukan pembayaran kepada mereka sama saja menahan laju ekonomi di daerah tersebut. Adanya projek di daerah itu kan tujuannya untuk menumbuhkembangkan ekonomi di daerah itu," katanya.

Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Aria Bima meminta para BUMN konstruksi untuk menyelesaikan utang-utangnya kepada pengusaha kecil atau vendor di daerah. Ia menilai, pengawasan yang tidak ketat seperti di pusat menjadi celah adanya tindak pelanggaran.

"Vendor-vendor ini perlu kita perhatikan, jika tidak ada kejelasan maka vendor ini juga bisa terganggu bisnisnya," sebutnya.

Wakil Ketua Komisi VI DPR lainnya, M Hekal bahkan mengaku menjadi pihak yang terkena korban tunggakan utang BUMN konstruksi.

"Ramai-ramai bicara vendor, utang hingga tahunan. Saya pun termasuk, belum dibayar, jangankan UKM. Pimpinan komisi VI pun ada yang belum diselesaikan," katanya sambil tertawa.

Namun, ia enggan menyebutkan BUMN mana yang dimaksud. Menjawab apa yang disampaikan Komisi VI DPR, salah satu BUMN konstruksi Dirut PT Wijaya Karya (Persero) Tbk Tumiyama menyebut akan mencari tahu persoalan yang ada di lapangan.

Ia pun berjanji akan menyelesaikan persoalan tersebut. "Kami tidak akan korbankan mitra-mitra kita yang kecil. Jika ada deviasi dari volume sekian itu pasti ada. Akan kami verifikasi," sebutnya.

(cnbcindonesia.com)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Corona Makan Korban Lagi, 87 Karyawan di Ramayana Kena PHK
Cerita Tentang Surat Utang Terbesar Sepanjang Sejarah RI
`RI Terbitkan Surat Utang Dolar Terbesar Sepanjang Sejarah`
Pasien Corona Tembus 1 Juta, 5 Negara Catat Kasus Terbanyak
Personel Pamtas Yonif 411 Kostrad dan Warga Kampung Kondo Gelar Karya Bhakti

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad