Home  / Nasional
Entah Apa yang Merasuki Arab, Proyek Kilang RI Digantung Lagi
Jumat, 4 Oktober 2019 | 16:12:27
(CNBC Indonesia/Gustidha Budiarti)
Foto: Kilang Minyak Cilacap. Kilang Cilacap merupakan kilang minyak terbesar di Indonesia dengan kapasitas mencapai 348 ribu barel/hari atau 33,4% dari total kapasitas kilang nasional.
JAKARTA - Megaproyek pengembangan kilang Cilacap lagi-lagi digantung. Perundingan perjanjian yang semula dijanjikan selesai September, diperpanjang oleh Saudi Aramco sampai Oktober.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar menjelaskan Joint Venture Development Agreement (JVDA) diperpanjang sampai 31 Oktober 2019. "Perpanjangan karena evaluasi masih berjalan, kita lihat setelah evaluasi. Penyiapan data dan lain-lain, untuk hitung angka keekonomiannya," jelasnya, Kamis (3/10/2019) di Kementerian ESDM.

Tarik ulur soal nilai investasi Saudi Aramco, perusahaan minyak raksasa asal Arab, untuk membangun kilang Cilacap memang alot. Joint Venture Development Agreement (JVDA) antara Pertamina dengan Saudi Aramco mulanya akan berakhir di akhir Juni 2019. Namun kesepakatan ini diperpanjang sampai akhir September 2019. 

Setelah diperpanjang sampai September, JDVA kembali diperpanjang lagi sampai Oktober.

Menanggapi hal ini VP Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman membantah pembangunan kilang Cilacap molor. Menurutnya sejak akhir Juni agreement sudah disepakati untuk diperpanjang. "Bukan mundur yah, tapi memang sejak akhir Juni kan sudah disepakati untuk agreement diperpanjang," ungkapnya.

Lobi Investasi kilang Cilacap sudah berjalan selama 5 tahun. ndonesia sendiri sebenarnya sudah melakukan pendekatan ke Saudi Aramco sejak 2014, yakni untuk berinvestasi di Kilang Cilacap bersama dengan PT Pertamina (Persero). Namun, sampai sekarang nasib investasi tersebut masih digantung.

Hambatannya sendiri sampai saat ini ada di masalah nilai evaluasi proyek pengembangan kilang. Berdasar dokumen yang didapat CNBC Indonesia beberapa waktu lalu, valuasi yang dihitung Pertamina mencapai US$ 5,66 miliar sementara Aramco hanya menilai proyek sebesar US$ 2,8 miliar atau hampir separuhnya.

(cnbcindonesia.com)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Timteng Makin Panas, AS-Saudi Buat Koalisi "Serang" Iran
Walhi Sebut Proyek di Selatan Jawa Tingkatkan Risiko Bencana
Terkuak Alasan Habib Rizieq Tak Bisa Keluar dari Arab Saudi
Chevron Goyang, Eni Lirik Proyek Laut Dalam Rp 70 T RI?
Menentang Proyek Berpotensi Rugi Rp1 T, Komisaris KS Mundur

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad