Home  / Nasional
Jokowi Sorot Tekornya RI Berdagang dengan China
Jumat, 20 September 2019 | 14:04:37
(CNBC Indonesia/Chandra Gian Asmara)
Foto: Courtesy Call Penasihat Hubungan Luar Negeri Presiden RRT/Anggota Komisi Urusan Luar Negeri RRT
JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) melakukan courtesy call dengan Penasihat Hubungan Luar Negeri Presiden China/Anggota Komisi Luar Negeri China, Y.M Song Tao, di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat.

Dalam pertemuan tersebut, Jokowi ditemani oleh Wakil Menteri Luar Negeri, Abdurrahman Mohammad Fachir; Menteri Sekretaris Negara, Pratikno; hingga Staf Khusus Menteri Sekretaris Negara Bidang Hukum, Alexander Lay.

Adapun delegasi penasihat luar negeri Presiden China antara lain Y.M Song Tao, Sun Haiyan (Direktur Jenderal Biro I IDCPC), Y.M Qiao Qian (Duta Besar China untuk Indonesia), dan anggota lainnya.

Dalam pertemuan yang berlangsung tak sampai 1 jam itu, Jokowi meminta Indonesia dan China terus meningkatkan kerja sama perdagangan sebagai upaya menekan angka defisit perdagangan kedua negara.

"Secara khusus presiden berharap kerja sama bidang perdagangan ini bisa mengurangi dampak dari defisit Indonesia dengan Tiongkok," kata Wamenlu, Fachir, Jumat (20/9/2019).

Sepanjang tahun ini, atau sejak Januari-Agustus 2019, defisit perdagangan Indonesia dan China mencapai US$ 12,5 juta. Angka tersebut membengkak dibandingkan periode 2018 yang mencapai US$ 12,1 juta.

Berbagai kerja sama pun dibicarakan, salah satunya adalah meminta negeri Tirai Bambu itu menyerap habis produk minyak kelapa sawit Indonesia. Sampai saat ini, pangsa pasar terbesar sawit dalam negeri memang berada di China.

"Secara khusus bidang perdagangan, presiden berharap impor CPO ditingkatkan dan juga berbagai komoditas lain seperti buah-buahan," katanya.

"Presiden secara khusus menyampaikan harapan agar Tiongkok melihat peluang kerja sama melakukan produksi yang berorientasi ekspor, baik ke Afrika, Timur Tengah, hingga Amerika," jelasnya.

Tak hanya di bidang kerja sama perdagangan, kedua negara pun berbicara mengenai potensi aliran investasi yang terfokus pada pembangunan infrastrutkur yang salah satunya terangkum dalam kerja sama Belt and Road.

"Upaya-upaya harus dilakukan agar kondisi ekonomi dunia mestinya menjadi tantangan. Sehingga harus dilakukan upaya bersama agar dampak negatifnya tidak berpengaruh ke kedua negara," tegasnya. 

(cnbcindonesia.com)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Tidak Datang Kerja, Warga Simpangtiga Ditemukan Tergantung di Jendela Kamar
Empat Mahasiswa Riau Terjebak Badai di Gunung Marapi Sumbar
Durian Isi Heroin Senilai Rp 3,2 M Gegerkan Bandara Subang
Ariel NOAH Gandeng Wanita Bergaun Hitam Saat Tonton Konser Marcell
Spekulasi Menguat, Jokowi Umumkan Menteri Hari Minggu?

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad