Home  / Nasional
Blokir Internet Papua, Rudiantara Digugat Sederet Lembaga Ini
Senin, 26 Agustus 2019 | 15:37:48
Aristya Rahadian Krisabella
Foto: Infografis
JAKARTA - Lembaga yang melayangkan teguran pada Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara karena blokir internet Papua dan Papua Barat terus bertambah. Terbaru adalah Organisasi Masyarakat Sipil.

Dalam teguran terbaru ini terdapat 20 organisasi memberikan suara dan akan menyerahkan surat teguran kembali kepada pemerintah. Kali ini teguran akan diterima langsung oleh Menkominfo Rudiantara.

"Bertemu Menkominfo langsung. Karena sudah tujuh hari dipadamkan internet," ujar Direktur Eksekutif South East Asia Freedom of Expression Network (SAFEnet) Damar Juniarto seperti dikutip dari CNNIndonesia.com, Senin (26/8/2019)

Lembaga tersebut adalah Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI),  Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Lembaga Bantuan Hukum Pers (LBH Pers) Jakarta, Institute for Criminal Justice Reform (ICJR), Southeast Asia Freedom of Expression Network (SAFEnet), Amnesty International Indonesia, Yayasan Pusaka, Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Greenpeace, Perkumpulan Jubi, Lembaga Studi & Advokasi Masyarakat (ELSAM).

Penyerahan teguran juga diikuti oleh, Yayasan Satu Keadilan, Federasi Komisi Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Federasi KontraS), VIVAT Indonesia, Asia Justice and Rights (AJAR), Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Yayasan Perlindungan Insani Indonesia (YPII), Perkumpulan Pengacara HAM (PAHAM) Papua, GARDA-P (gerakan Rakyat Demokratik Papua), FIM-WP (Forum Independen Mahasiswa West Papua).

Hingga berita ini diturunkan Rudiantara belum memberikan konfirmasi apakah akan menerima teguran tersebut.

Pemerintah memblokir akses internet di Papua dan Papua Barat sejak Rabu (21/8/2019). Itu artinya pemblokiran ini sudah terjadi selama enam hari.

Rudiantara sempat memberikan penjelasan kenapa pemblokiran internet di Papua masih berlanjut. Menurutnya kebijakan tersebut untuk menangkal kabar palsu atau berita hoax.

"Di dunia nyata itu lebih kondusif artinya di jalanan (sudah) tidak ada yang demo dan sebagainya. Tapi berlainan di dunia maya justru makin banyak yang namanya hoax. Hoax itu macam-macam, hoax itu berita bohong masih mending. Tapi hoax yang sudah memprovokasi bahkan ada yang mengadu domba," kata Rudiantara seperti dikutip dari Detik.com.

Kondisi memanas di Papua dipicu oleh penyerangan sekelompok orang ke asmara mahasiswa Papua di Surabaya. Berdasarkan keterangan Kepolisian setempat ada informasi bahwa mahasiswa tersebut menolak untuk mengibarkan bendera merah putih. Aksi penyerangan ini memicu aksi demonstrasi massa di Papua dan Papua Barat.

(cnbcindonesia.com)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Untuk Kesekian Kalinya, Satgas Pamtas Yonif Raider 514 Mengajar Anak-Anak Kampung Tirineri
Satgas Batalyon Infanteri 411 Kostrad Gelar Nobar Bersama Warga Pedalaman Papua
Ibu Kota Dilanda Kerusuhan, Cile Deklarasikan Keadaan Darurat
Rusuh di Penajam Paser Utara, Ratusan Keluarga Mengungsi
Hong Kong Kembali Rusuh, Stasiun MRT Dilempar Bom

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad