Home  / Nasional
Mengerikan! Kelangkaan Absolut: 2040 Krisis Air di Pulau Jawa
Senin, 20 Mei 2019 | 15:22:59
(REUTERS/Carlos Garcia Rawlins)
Foto: Warga Venezuela mengerumuni saluran pembuangan air untuk mencari air.
JAKARTA - Tak ada cara lain, pemerintah memang harus memindahkan Ibu Kotanya ke luar Jawa. Ada alasan khusus terutama adalah krisis ketersediaan air di Pulau Jawa terutama DKI Jakarta dan Jawa Timur.

Sebuah data yang dikeluarkan Bappenas dalam Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KHLS) RPJM 2019 memproyeksikan ketersediaan air akan mencapai kelangkaan absolut pada 2040.

Kelangkaan absolut atau 'absolut scarcity' bisa diartikan jumlah sumber daya tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan manusia. 

Kelangkaan absolut ini tidak peduli seberapa banyak mencari sumber tambahan, tidak akan bisa dipenuhi atau didapat. Kekurangan air ini akan menyebabkan kekeringan, haus, gagal panen dan kelaparan.

Dalam proyeksi ketersediaan air tersebut, sejak tahun 2000 terlihat kebutuhan air di Jawa sudah masuk 'scarcity' atau langka.

Tahapan dari kebutuhan sumber daya ini adalah 'No Stress' (Tanpa Tekanan), 'Stress' (Ada Tekanan), 'scarcity' (Ada Tekanan Kelangkaan), dan 'absolut scarcity' (kelangkaan absolut atau mutlak).

Ini datanya :

Direktur Jenderal Sumber Daya Air (SDA) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Imam Santoso membenarkan kondisi air di Jakarta saat ditanya masalah krisis."Iya (krisis air)," kata dia di sela-sela Hari Air Dunia XXVI di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Dia mengatakan, Jakarta memiliki penduduk sekitar 12 juta. Dari jumlah tersebut, baru 60% yang mendapat akses air PDAM yang merupakan air bersih. Hal ini memperkuat kajian Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Di mana, meski orang mengira air tersedia di mana-mana namun Jakarta kekurangan pasokan air.

"Jakarta itu penduduknya sekitar 12 juta, kita butuh air sangat banyak. Saat ini baru 60% airnya di-supply dari air PDAM, air bersih. Tapi sisanya kan diambil dari air tanah," kata dia.

Lanjutnya, hal itu disebabkan oleh minimnya pasokan sumber air baku. Di sisi lain, jaringan air juga masih minim. "Kita tidak bisa menyetop masyarakat, 'enggak boleh ambil air', mereka butuh air kok," ujar dia.

Dia menambahkan, pemanfaatan air tanah sendiri memicu penurunan muka tanah. Sebab itu, pemerintah tengah mengupayakan tambahan sumber air baku untuk memenuhi kebutuhan air di Jakarta. Di antaranya, dari Waduk Jatiluhur di Jawa Barat dan Karian di Banten.

"Kita berharap kebutuhan air baku di Jakarta bisa terpenuhi," tutupnya.

Sebelumnya, Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro menjelaskan air adalah kebutuhan yang seringkali ketersediaannya dilupakan oleh masyarakat. Padahal kebutuhan terhadap air sangat tinggi. 

"Orang masih saja mengira air tersedia di mana-mana dan supply nya banyak. Padahal tidak di Jakarta misalnya, itu gawat sekali sekarang kebutuhan 28 kubik tapi suplainya hanya 18, jadi defisit. Pulau Jawa selalu jadi perhatian karena memang masyarakat banyak di Jawa ini," kata Bambang.

(cnbcindonesia.com)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Beredar Pesan Berantai Air Kelapa Bisa Sembuhkan Batu Ginjal, Benarkah?
Hoaks, Pulau Ambon dan Seram akan Ambles ke Palung Laut
Duh! Rupanya Kondisi Sriwijaya Air Sudah Parah & Berat
Ngeri, Inilah 5 Pulau Paling Menyeramkan di Dunia
Tips Melindungi Diri Saat Diserang Gas Air Mata

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad