Home  / Lingkungan
Lebah Raksasa Pembunuh Asli Asia `Hijrah` ke Amerika Serikat
Senin, 4 Mei 2020 | 19:53:15
(Istockphoto/macroart)
Ilustrasi lebah raksasa.
JAKARTA - Para peneliti dari Washington State University (WSU) menemukan lebah raksasa yang berasal dari Benua Asia di negara bagian Washington, Amerika Serikat (AS).

Lebah ini memiliki tubuh berukuran lebih dari dua inci dari lebah biasa dan langsung disematkan sebagai lebah terbesar di dunia. Tak hanya itu, lebah raksasa itu juga punya sengatan yang dapat membunuh manusia.

Lebah jenis hornet ini juga diberi julukan `lebah pembunuh` dan memiliki warna tubuh hitam-keemasan dengan nama latin Vespa Mandarinia.

Sebab, sejumlah peternak lebah di Washington melaporkan bahwa hewan ternak mereka itu mati akibat serangan yang dilancarkan hornet.

"Mereka menyerang sarang lebah madu, membunuh lebah dewasa, dan melahap larva serta kepompong demi mempertahankan koloni mereka," kata Peneliti Ilmu Pertanian dan Sumber Daya (WSU), Seth Truscott dari laman resmi universitas dikutip CNN.

"Sengatan mereka besar dan menyakitkan karena mengandung neurotoksin yang kuat. Lalu sengatan juga dapat membunuh manusia," lanjut dia.

Sengatan yang mengandung neurotoksin ini bisa langsung menyerang syaraf jika masuk ke tubuh manusia.

Lebih lanjut Truscott mengatakan hornet mulai menginvasi ke AS bulan Desember 2019. Saat itu `ratu` lebah terbangun dari hibernasi panjang untuk membangun sarang dan membentuk koloni.

"Serangan hornet terjadi pada akhir musim panas dan awal musim gugur. Saat itu, mereka tengah mencari sumber protein untuk meningkatkan imunitas ratu lebah," tutur Truscott.

Para peneliti WSU pun menyarankan kepada para peternak lebah di Washington untuk menyiapkan baju khusus. Sebab, sengatan hornet bisa menembus baju pelindung yang biasa digunakan.

Truscott memprediksi, pihaknya dapat 'memanen' hornet Vespa Mandarinia pada bulan Juli-Oktober ketika koloni mereka sedang giat-giatnya mencari makan.

"Waktu yang paling mungkin untuk menangkap lebah raksasa Asia adalah mulai bulan Juli sampai Oktober, ketika koloni didirikan dan para pekerja sedang mencari makan," pungkasnya.

Beberapa peneliti di Amerika Serikat kemudian mengatakan bahwa Amerika Serikat harus mengantisipasi keberadaan lebah pembunuh tersebut disamping melawan pandemi virus corona yang juga mengancam nyawa. 

(CNNIndonesia.com)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
China Respons Tuduhan Trump soal Pembunuhan Massal Corona
Luapan Kesal Zuraida Disebut Jamaluddin `Bisa Dicicipi` di Depan Eksekutor
Polres Siak Ringkus Pelaku Pembunuhan Bermotif Cemburu
Gegara Berhubungan Intim dengan Sepupu, Begini Kronologi Pembunuhan Perempuan Muda di Bantaeng
Kronologi Pembunuhan Sadis di Deliserdang, Korban Diperkosa, Dibakar dan Dimutilasi

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad