Home  / Lingkungan
Polusi Udara Jakarta Memburuk, Jokowi-Anies Digugat 31 Warga
Kamis, 4 Juli 2019 | 17:48:02
(CNN Indonesia/Christie Stefanie)
Presiden Jokowi bersama Gubernur DKI Anies Baswedan mendapat gugatan dari 31 warga terkait polusi udara di Jakarta.
JAKARTA - Sebanyak 31 orang mengajukan gugatan warga negara alias citizen law suit (CLS) kepada sejumlah institusi pemerintah melalui Pengadilan Negeri Jakarta Pusat untuk menuntut pemenuhan hak menikmati udara bersih di Jakarta. 

Berdasarkan registrasi nomor perkara 374/Pdt.G/LH/2019/PN Jkt.Pst, para penggugat melayangkan gugatan kepada Presiden RI Joko Widodo, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya, Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. 

Lihat juga: DKI Gandeng TNI AU Buat Hujan Buatan untuk Atasi Polusi Udara
Surat registrasi juga turut mencantumkan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dan Gubernur Banten Wahidin Halim sebagai pihak tergugat. Para penggugat akan dibantu oleh Tim Advokasi Ibu Kota (Gerakan Inisiatif Bersihkan Udara Koalisi Semesta).

Juru bicara Tim Advokasi Ibu Kota Bondan Andriyanu, mengungkap berdasarkan data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), warga Jakarta dan sekitarnya terpaksa harus menghirup udara tidak sehat selama 196 hari selama satu tahun.

Bondan yang juga Juru Kampanye Energi Greenpeace Indonesia menambahkan pemerintah tidak melakukan upaya serius guna menangani permasalahan.

"Dari 196 hari kita menghirup udara tidak sehat, tapi tidak ada upaya dari Pemerintah, minimal mengumumkan saja. Jadi, pertanyaannya kenapa baru diumumkan tahun 2019? Padahal itu sudah terjadi sejak 2018," ujar Bondan kepada awak media di PN Jakarta Pusat, Kamis (4/7).

Penyampaian gugatan itu melibatkan orang-orang dari berbagai latar belakang dan lintas profesi. Mulai dari mahasiswa sampai advokat. 

"Walaupun klaimnya itu tidak sehat untuk kelompok yang sensitif, tapi kalau kita lihat kelompok sensitif itu banyak, ada anak-anak, ibu hamil, manula, balita, dan itu bisa jadi terpapar, range-nya yang dibuat KLHK itu mengatakan tidak sehat," tambah Bondan.

Per hari ini, laman yang mengukur udara Airvisual.com menempatkan Jakarta pada level 'Unhealthy for Sensitive Groups'. Level ini memungkinkan udara berdampak buruk pada sebagian masyarakat yang sensitif udara.

KLHK menyatakan bahwa sumber pencemar udara pada kategori PM (Particulate Matter atau debu) di Jakarta berasal dari sektor transportasi sebesar 70 persen, pada Maret 2019. 

Sementara itu, berdasarkan riset inventory pada tahun 2012 hasil kompilasi data oleh Indonesian Center fo Environmental Law (ICEL), transportasi disebut sebagai sumber pencemar udara dengan kontribusi sebesar 47 persen.

Gubernur Anies Baswedan mengatakan bahwa tingkat kemacetan di kota Jakarta turun sebanyak 8 persen di tahun 2018. Namun, menurut Bondan, hal tersebut ternyata tidak memperbaiki kualitas udara di ibu kota.

(cnnindonesia.com)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Gerindra Sebut Sandiaga Berpeluang Kembali Jadi Wagub DKI
Anies Sebut Warga Betawi Buat Jakarta Jadi Simpul Persatuan
1.600 Orang Mengungsi Karena Banjir, Anies: Pak Ahok 200 Ribu
Inilah Aksi Bakamla dan Wings Bersihkan Pantai Utara Jakarta
Tak Hanya Laut, Bakamla Juga Tingkatkan Kemampuan Personel Udara

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad