Home  / Lingkungan
El Nino Diramal Terjang Indonesia Tahun 2019, Petani Harap Siap-siap
Selasa, 26 Februari 2019 | 23:52:52
Photo : Dok. VIVA
Lokakarya Prospek Perkembangan El Nino 2019
Pemerintah diharapkan mewaspadai dampak El Nino yang kemungkinan akan terjadi di tahun 2019. El Nino, meskipun kekuatannya masih lemah diperkirakan akan berdampak pada  musim kemarau di Indonesia. 

"Peluang terjadinya El Nino sebesar 55-60 persen, sementara 25,5 persen wilayah berpotensi musim keringnya maju, 24 persen wilayah keringnya di atas normal dan Juli - September 2019 iklim diperkirakan lebih kering," kata Drs Deputi bidang klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, (BMKG), Herizal di Institut Pertanian Bogor, Selasa, 26 Februari 2019. 

Herizal menjelaskan, El Nino-Southern Oscillation (ENSO) merupakan salah satu fenomena Iklim yang dapat menyebabkan terjadinya penyimpangan atau anomali iklim di Indonesia. Fase hangat dari ENSO biasa dikenal dengan istilah El Nino, yang dapat menyebabkan kekeringan panjang. 

Pengamatan kondisi ENSO pada menjelang akhir tahun 2018 hingga awal tahun 2019 menunjukkan berlangsungnya fenomena El Nino di Samudera Pasifik. 

"Dampak El Nino berupa kemarau dapat berpotensi mengganggu produksi padi pada musim tanam kedua, dan mengubah pola tanam untuk musim tanam berikutnya," paparnya.

Ditegaskan Herizal, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tahun 2015 mencatat, dampak El Nino yang ditimbulkan terhadap pertanian cukup luas. Pada saat itu,  kekeringan melanda 16 provinsi meliputi 102 kabupaten/kota dan 721 kecamatan. 

"Pulau Bali dan Nusa Tenggara mengalami defisit air sekitar 20 miliar meter kubik. Selain itu, lahan pertanian seluas 111 ribu hektar juga mengalami kekeringan," paparnya. 

Sementara itu, perwakilan KTNA Zulharman Djusman, mengatakan, informasi mengenai prediksi pola hujan sangat penting bagi petani. Melalui informasi yang akurat, petani dapat merencanakan penanaman dengan lebih baik dan mencegah gagal panen akibat perubahan iklim. 

"Kami sangat mengapresiasi peran perguruan tinggi dan private sector yang membangun sistem sehingga petani dapat mengakses informasi mengenai iklim secara lebih mudah," katanya. 

Dalam mempermudah informasi ini, petani Indonesia saat ini memang dapat memanfaatkan layanan informasi iklim melalui aplikasi SIPINDO Powered by SMARTseeds.

Informasi cuaca iklim dalam aplikasi ini juga dapat diakses melalui SMS secara gratis. Petani dapat memperoleh data yang akurat mengenai suhu serta prediksi curah hujan enam bulan ke depan berdasarkan lokasi di mana petani berada.  

"Aplikasi ini sudah dimanfaatkan oleh lebih dari 20.000 petani hortikultura di berbagai wilayah di Indonesia," katannya. 

Menurut Sekjen Masyarakat Perbenihan dan Perbibitan Indonesia (MPPI) Hindarwati salah satu upaya untuk mengantisipasi dampak El Nino adalah dengan menanam varietas tanaman yang adaptif terhadap kekeringan. 

Peran pemulia tanaman dan perusahaan perbenihan sangat penting untuk memberikan akses terhadap benih unggul yang adaptif di musim kering kepada petani. 

"Beberapa contoh varietas yang adaptif di musim kering saat ini sudah ada, misalnya cabai besar Gada MK F1, cabai keriting Laba F1 dan Lado F1, tomat Tymoti F1 dan labu Suprema F1," katanya.

(viva.co.id)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Liga 1: Persebaya Bantai Persib 4-0, Balde Hattrick
Riset: Indonesia Diam Soal Uighur karena Investasi China
Diblokir di AS, Nasib Huawei di Indonesia Juga Bakal Suram?
Kuota Haji Belum Penuh, Akan Dibuka Pelunasan Tahap IV
Gara-gara Jokowi Menang Pilpres, Peringkat Utang Indonesia Naik

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad