Home  / Lifestyle
Tips Memanfaatkan Karantina untuk Memahami Anak dan Pasangan
Rabu, 27 Mei 2020 | 23:52:26
(Foto: marcisim/Pixabay)
Ilustrasi: Masa karantina bisa Anda manfaaatkan untuk lebih mengenal anak juga pasangan, demi menyongsong new nomal pandemi virus corona.
JAKARTA - Masa karantina selama pandemi virus corona membuat sebagian besar orang menghabiskan lebih banyak waktu di rumah. Bagi yang sudah berkeluarga, tak dimungkiri kondisi ini memungkinkan tatap muka dengan anggota keluarga pun kian intens.

Ada kalanya akan menimbulkan gesekan emosional. Tapi sesungguhnya menurut psikolog anak Erfiane Cicilia, pada waktu-waktu pandemi inilah justru bisa jadi kesempatan untuk saling mengenal di antara anggota keluarga secara lebih mendalam.

"Kalau mau jujur dan niat, sebetulnya iya (bisa saling mengenal). Saya biasanya menawarkan klien untuk membuat semacam 'goal setting', bahwa mumpung saya lebih banyak di rumah maka saya perlu memahami dia (anak atau pasangan)," saran Fifi saat dihubungi CNNIndonesia.com.

Goal atau tujuan ini perlu dibuat spesifik. Harapannya, selesai masa pandemi maka orang akan terbiasa hidup dengan 'new normal' alias normal yang baru.

Seperti apa cara untuk lebih mengenal anggota keluarga?

1. Sadari kondisi
Pertama, Anda musti menyadari kondisi anak maupun pasangan. Fifi mengambil contoh sang puteri yang bersekolah di kelas 5 SD. Dia bungsu dari dua bersaudara, sekaligus paling muda dibanding sepupu-sepupunya.

Dari kondisi tersebut ia menganalisis kemungkinan, anak menjadi agak manja. Selain itu ia sudah masuk masa puber.

Ilustrasi: Orang tua perlu memahami karakter anak dengan menganalisis kondisi yang tengah dihadapi sang bocah. (Foto: Istockphoto/ Fizkes)

"Nah ini yang harus saya sadari bahwa yang mau saya hadapi, saya ajak ngobrol kondisinya begini. Dia banyak fasilitas, jadi manja, oh kemandiriannya perlu saya bantu," imbuh dia.

Ini pun juga berlaku pada pasangan. Anda perlu menyadari kondisi pasangan semisal Anda mengamati sejak pandemi, suami cuek menyangkut pekerjaan rumah tangga atau ogah-ogahan saat mengurus anak karena sudah lelah bekerja. Maka Anda perlu mengenali kondisi pekerjaan pasangan, mengenali waktu yang tepat untuk diajak mengobrol dan diskusi untuk menemukan jalan tengah.

2. Diskusi
Ajak anak atau pasangan berdiskusi. Anda perlu mengungkapkan persoalan atau hasil pengamatan Anda atas sikap anak atau pasangan. Fifi mengingatkan orang tua untuk berdiskusi dua arah, artinya Anda pun sebaiknya mendengarkan pendapat dari lawan bicara.

"Misalnya gini, 'Dik, Ibu lihat kamu begini, apa kamu melihat hal yang sama?'," kata dia.

Dari sini, orang tua bisa menawarkan solusi atau apa yang sebaiknya orang tua lakukan. Misal anak sulit mengendalikan emosi. Orang tua bisa bertanya pada anak apa yang sebaiknya dilakukan dan dengarkan pendapat anak.

"Ibu bisa lihat enggak sih? Ibu diem dulu," kata Fifi menirukan sang anak.

Ribet? Sejujurnya iya. Perubahan dan adaptasi bisa terjadi begitu saja tanpa usaha. Namun menurut Fifi, waktu bersama keluarga selama pandemi akan sia-sia jika tidak dimanfaatkan untuk lebih banyak diskusi dan menemukan solusi.

3. Tulis
Jika perlu, tulis apapun yang perlu diperbaiki atau diubah. Ini perlu ditulis detail misalnya, intonasi bicara, kalau anak sedang 'bete' sebaiknya ibu atau ayah diam dulu beberapa menit baru bicara, pilihan kata yang anak tidak cocok dan hal-hal lain.

"Kalau enggak detail misalnya, harus mendampingi anak lebih baik, lebih dewasa, tenang menghadapi hal-hal yang tidak diinginkan, nanti malah enggak ada action," ujarnya.

4. Evaluasi berkala
Secara berkala sebaiknya lakukan evaluasi. Untuk anak-anak yang masih kecil termasuk usia SD bisa dilakukan seminggu sekali. Anak yang sudah lebih dewasa bisa sebulan sekali.

Sedangkan bersama pasangan, waktunya bisa disesuaikan. Evaluasi bertujuan untuk mengetahui sejauh mana praktik dari perbaikan-perbaikan yang ingin dilakukan dan jika menemukan ada hal-hal baru pada anak maupun pasangan.

"Masa pandemi, kita banyak waktu di rumah, kita melihat hal-hal yang tidak kita ketahui sebelumnya. Dari sini kita dilatih untuk legowo, terbuka mengakui ya anak saya begini, pasangan begini dan saya begini," ucap Fifi lagi.

(CNNIndonesia.com)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Kisah Penjual Sayur Miliki Putra Kuliah S-2 dan Jadi Imam Masjid di Amerika
Gubri Launching Aplikasi jualBuy.com, Startup Asli Budak Melayu Riau
WN Prancis Cabuli Ratusan Anak Diancam Hukuman Mati
Iming-imingi Jadi Model, WN Perancis Cabuli 305 Anak-anak
Tak Terima Anaknya Ditembak Oknum Polisi, Kasat Reskrim Langkat Dilaporkan ke Polda Sumut

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad
free web site hit counter