Home  / Lifestyle
Orang Selingkuh Bukan karena Pasangannya, Begini Penjelasan Sains
Senin, 4 November 2019 | 16:21:47
Ilustrasi selingkuh
Kasus perselingkuhan kembali ramai dibahas di sosial media lewat kisah layangan putus yang ditulis akun Mommi Asf. 

Tak lama setelah ramai, postingan tersebut kemudian dihapus oleh pengunggah. Singkat cerita, Ibu empat anak itu menceritakan kisah hidupnya yang ditinggalkan suami demi perempuan lain, atau sekarang kita kenal dengan istilah pelakor - perebut laki orang. 

Fenomena perselingkuhan yang sering terjadi dalam rumah tangga rupanya dapat dijelaskan dalam kajian sains. 

Seperti dijelaskan dalam artikel sebelumnya, ada beberapa alasan yang membuat seseorang memutuskan menyelingkuhi pasangan. 

Mulai dari gangguan kepribadian, trauma masa kecil, pengaruh media sosial, dan kontrol diri yang buruk. Sementara itu, alasan paling umum kenapa pasangan menikah selingkuh ialah frustasi dalam pernikahan dan tidak puas dalam rumah tangganya. 

Dilansir Fatherly, (23/6/2019), alasan seseorang selingkuh bukan karena pasangannya. Dalam beberapa kasus, seseorang yang diselingkuhi sangat mencintai pasangannya dan begitu juga dengan orang yang selingkuh. 

Alasan rumit perselingkuhan 

Menurut penelitian, orang-orang selingkuh karena alasan yang rumit. Berikut adalah beberapa alasan rumit yang dimaksud pakar: 

Selingkuh bukan berarti tidak bahagia 

Seseorang yang selingkuh dari pasangan sering dikaitkan dengan perasaan tidak bahagia dalam menjalani hubungan bersama pasangannya. 

Namun banyak ahi berkata lain. Meninjau pengalaman klinis, para ahli menemukan bahwa orang yang berselingkuh sebenarnya sedang "melarikan diri" dari masalah lain atau mencari jati diri. 

"Bagi mereka yang mencari jati diri atau menghindari masalah lewat perselingkuhan, selingkuh cenderung menjadi tanda masalah," ungkap psikoterapis Esther Perel di The Atlantic. 

Diumpamakan oleh para peneliti, perselingkuhan seperti efek lampu jalan. 

Di mana seorang pria mabuk mencari kuncinya yang hilang, tetapi dia mencari bukan di tempat di mana ia menjatuhkan kunci itu, melainkan di tempat yang terkena cahaya (efek lampu hijau) di jalan. 

"Masalahnya adalah bahwa tidak seperti orang mabuk yang pencariannya sia-sia, kita selalu dapat menemukan masalah baru dalam pernikahan," jelasnya. 
Arti dari perumpamaan ini adalah kunci yang hilang ibarat jati diri, yang dicari di tempat orang lain dengan melakukan perselingkuhan. Bukannya menemukan jati diri, kebanyakan perselingkuhan mendatangkan masalah lain. 
Tak berhubungan dengan penampilan atau kepribadian pasangan 

Menurut survei yang dilakukan Victoria Milan - situs web untuk mengetahui orang-orang yang selingkuh - pria ataupun wanita yang selingkuh mengaku memiliki pasangan yang lebih menarik dibanding selingkuhannya. 

Dari 4.000 pengguna situs, sebagian besar pria mengaku memiliki istri yang lebih menarik dan mumpuni dibanding simpanannya. Hanya 25 persen pria yang mengaku, selingkuhannya lebih menarik. 

Selingkuh itu tentang peluang (kesempatan) 

Dalam sebuah survei anonim yang dilakukan MSNBC, semua orang yang sudah menikah bisa berselingkuh. Tak peduli berapa umurnya, apakah sudah memiliki anak atau belum, dan dari latar belakang apa. 

Survei ini juga menemukan, sebagian besar pelaku perselingkuhan memiliki kesamaan, yakni mereka dihadapkan dengan godaan untuk berselingkuh. 

Dalam penelitian yang terbit di The Journal of Sex Research, yang melibatkan 423 orang, penelitian menemukan bahwa pria dan wanita berselingkuh karena alasan oportunistik. 

Alasan yang sering digunakan ketika kedapatan selingkuh adalah, "saya digoda" atau "ada orang yang benar-benar 'ada' untuk saya". 

Hal inilah yang kemudian terjadi dan memicu orang tersebut berselingkuh. Sebab ada kesempatan yang datang padanya. 

Sifat alamiah sejak anak-anak 

Ada bukti yang menyebut bahwa jika salah satu pasangan menunjukkan rasa takut untuk ditolak atau diabaikan, mereka justru cenderung dapat berselingkuh. 

Hal itu sesuai dalam konteks Attachment Theory, dan beberapa penelitian lainnya juga telah mengkonfirmasi bahwa gaya keterikatan individu yang terbentuk pada masa bayi dan anak-ana, berdampak besar untuk hubungan cintanya di masa mendatang. 

Seorang ilmuwan berkata, hal ini merupakan proses yang sebagian besar terjadi secara spontan dan tanpa usaha, dan mereka mungkin telah dibentuk oleh faktor biologis atau pengalaman anak usia dini. 

Tidak banyak hal yang dapat Anda lakukan untuk mencegah pasangan Anda selingkuh, menurut ahli. 

Strategi seperti mengendalikan perilaku pasangan, mengisolasi pasangan dari orang lain, memata-matai, menguntit, mengancam, manipulasi emosional, dan merendahkan pasangan, tidak akan membuat rumah tangga utuh. 

Sebuah rumah tangga akan berhasil bila menekankan cinta dan kepedulian terhadap pasangan, menjadi pasangan yang baik, menjaga penampilan fisik dan juga perilaku yang dapat membuat pasangan bahagia dan sehat, terlepas dari ancaman perselingkuhan itu. 

Hal yang sederhana namun itulah cara terbaik untuk mencegah perselingkuhan. Adalah dengan melakukan apa yang akan dilakukan pasangan sehat lainnya

(kompas.com)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Mantan Aktivis Walhi Angela Hindriati Hilang Sejak Juni
Rilis ADB Soal 22 Juta Orang Kelaparan Kronis di Jaman Jokowi
ADB Laporkan 22 Juta Orang Kelaparan di Era Jokowi
Alquran dan Sains, Meteor Mengejar Setan yang Menguping
Kepala Sekolah Digerebek Suami Sedang Ngamar Dengan Wakilnya Di Hotel

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad