Home  / Lifestyle
Gaya Duduk Jokowi saat Ngemper Bikin Salah Fokus, Kenapa Bisa Begitu?
Kamis, 24 Oktober 2019 | 15:40:50
(KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMO)
Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan, Mahfud MD saat dikenalkan oleh Presiden RI, Joko Widodo sebelum pelantikan menteri-menteri Kabinet Indonesia Maju di Istana Negara, Jakarta, Rabu (23/10/2019). Presiden RI Joko Widodo mengumumkan dan melantik Menteri-menteri Kabinet Indonesia Maju serta pejabat setingkat menteri.
JAKARTA - Presiden Joko Widodo resmi memperkenalkan menterinya di Kabinet Indonesia Maju sambil duduk ngemper di tangga teras Istana Merdeka. 

Suasana cair dan terkesan santai ini, sangat kontras dengan lima tahun lalu. Ketika pertama kali menjabat sebagai Presiden pada 2014, Jokowi mengenalkan para menteri yang berjejer di teras belakang Istana Merdeka. 

Cara Jokowi memperkenalkan para menteri memang tidak biasa dan menarik. Namun berkat peristiwa ini juga, banyak warganet yang justru salah fokus dengan posisi duduk Jokowi. 

Pasalnya, Jokowi duduk bersila dengan kedua telapak kaki saling berhadapan.

Banyak netizen bertanya di sosial media, bagaimana bisa Jokowi duduk seperti itu. Bahkan ada yang sampai membuat tantangan di Twitter.

Penasaran dengan hal ini, Kompas.com pun menghubungi dr Michael Triangto, SpKO, spesialis dokter kesehatan olahraga. 

"Sepertinya ini kondisi hyperlaxity," ungkap dokter yang akrab disapa Michael itu kepada Kompas.com, Kamis (24/10/2019). 

Michael menjelaskan, kondisi hyperlaxity tidak dimiliki semua orang. Ini seperti bakat alami yang sudah ada sejak lahir. "Hyperlaxity maksudnya terlalu lentur. 

Hal ini bukan karena latihan tertentu dan tidak ada pada semua orang," terangnya. Michael pun menambahkan, hal ini tidak ada kaitannya dengan kaki atau telapak kaki yang terlalu panjang. 

Bukan kondisi medis 

Hyperlaxity juga terkadang disebut joint hypermobility atau hipermobilitas sendi. Seseorang yang memiliki hyperlaxity atau hipermobilitas memiliki sendi yang lebih lentur dibanding kebanyakan orang. 

Dilansir versusarthritis.org, kondisi ini dibawa sejak lahir dan sudah disadari sejak masih anak-anak. 

Namun perlu diketahui, hypermobility atau hyperlaxity bukanlah kondisi medis dan tidak perlu dikhawatirkan. 

Terkadang, orang yang memiliki hyperlaxity justru berprestasi di bidang olahraga atau menari.

Bisa menyebabkan nyeri sendi 

Dilansir Mayo Clinic, beberapa orang yang memiliki hyperlaxity kerap mengalami nyeri sendi, keseleo, dan dislokasi. 

Bila Anda termasuk orang dengan hyperlaxity yang kerap mengalami gejala di atas, disarankan untuk menjalankan terapi fisik yang dapat menguatkan otot-otot di sekitar persendian.

(kompas.com)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Kader Takut PDIP Kalah di 2024 Karena Jokowi Pangkas Eselon
Fadli Zon: Ahok dan Jokowi Itu Teman Sejati
LSI Denny JA: Kepercayaan Publik Terhadap Jokowi Menurun
Ultimatum Jokowi ke Penegak Hukum: Jangan Gigit yang Benar!
Bukan Berandai! Sandi Sebut Robot akan Ubah Hidup Manusia

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad