Home  / Khazanah
Tausiyah: Ketika Kening Bertakwa, Lidah Memfitnah
Jumat, 29 Mei 2020 | 12:03:34
(Foto: Freepik)
Sholat Berjamaah
PADA suatu subuh, Muadz menjadi imam sholat Fajr di masjid. Seorang lelaki Arab menjadi makmum di belakang Muadz. Rakaat pertama Muadz terasa panjang.

Lelaki Arab itu tampak kepayahan dan berusaha sekuat mungkin untuk bertahan berdiri. Gelisah, barangkali. Namun, di rakaat kedua, ia tak lagi tahan. Ia mufaraqah, keluar dari jamaah. Ia memutuskan sholat sendirian, tak lagi bermakmum kepada Muadz yang masih menjadi imam sholat di depan.

Riwayat itu muncul berbeda-beda. Sebagian mengatakan Muadz mengimami sholat Fajr, sebagian lagi mengatakan ia menjadi imam shalat Maghrib dan Isya. Ia memang terbiasa sholat berjamaah dua kali. Tak begitu penting di sholat yang mana Muadz datang dan menyodorkan diri untuk menjadi imam. Yang menarik justru peristiwa setelahnya.

Selepas sholat, Muadz tampak kecewa. Kepalanya penuh prasangka kepada lelaki Arab yang memisahkan diri itu. Innahu munafiq, kata Muadz. Muadz menuduhnya sebagai orang munafik. Terekam jelas dalam memori Muadz ketika Nabi Muhammad SAW pernah memberikan petunjuk:

"laysa shalaatun atsqala 'alal munaafiqiin min shalaatil fajri wal 'isyaa". Yang merasa berat, tertahan-tahan tersuruk-suruk, dan sering meninggalkan sholat Isya dan Subuh adalah mereka yang kemungkinan besar terdera kemunafikan. Muadz menuduhkannya. Bagi Muadz, keluar dari jamaah sholat yang begitu panjang bacaannya adalah satu dari ciri mereka yang merasa keberatan.

Lelaki Arab itu ikut murka dengan tuduhan Muadz. Ia menghadap Nabi Muhammad SAW, mengadukan kekesalannya terhadap Muadz yang mencemarkan nama baiknya di tengah jamaah.

Ya Rasulullah, katanya memulai. Inna qawmun na'malu biaydiinaa wanasqiy binawaadhihina. Kami ini kaum yang bekerja keras dengan tangan dan kemampuan kami sendiri sepanjang siang dan malam. Tenaga kami sudah terkuras sedemikian hebat di ladang dan kebun. Mengapa pula Muadz datang kepada kami, menjadi imam, lalu membaca surat Al Baqarah?

Prasangka Muadz barangkali juga prasangka yang mendekam di kepala kita yang tengah diamuk semangat keagamaan. Ghirah kita meningkat. Bacaan kita menumpuk. Hafalan kita menggunung. Tirakat ibadah kita menanjak pesat. Ketika menjadi imam, kita ingin menunjukkan kualitas terbaik dengan memanjangkan dan memperbagus bacaan surah.

Ketika berkumpul bersama, kita penuhi lisan kita dengan nasihat, bahkan pengingatan keras yang tak pernah putus. Ketika melihat kekeliruan orang, kita merasa teramat perlu untuk mengoreksinya sesuai standar yang kita anut, bahkan menghukum mereka dengan pandangan-pandangan yang berkeliaran di kepala kita.

Kita kehilangan kearifan sosial yang semestinya kita tumbuhsuburkan dalam interaksi kemanusiaan dengan sesama manusia. Kita mengubur kearifan itu dengan standar yang kita patok sendiri sesuai kompatibilitas kemampuan diri kita. Anak yang belum sanggup, kita paksakan untuk menjadi mampu meski di wajahnya muncul rona penderitaan dalam beribadah.

Orang yang masih tertatih-tatih beragama, kita dorong untuk berlari sekuat tenaga meski kita melihat jelas keringatnya yang kepayahan. Orang yang belum menegakkan syariat dengan sempurna, kita tuduh dengan sebutan yang tak laik: fasik, munafik, bahkan kafir dan musyrik.

Dakwah dan ibadah bukan sekadar soal benar dan baik. Ia juga soal kepantasan dan kelayakan. Patokannya bukan belaka soal iman, Alquran dan hadits, tetapi pemahaman dalam memandang karakteristik sosial orang-orang di sekitar.

Memahaminya dan menyelami kearifan sosial butuh keterampilan. Kearifan tidak muncul begitu saja dari buku-buku teks, dari artikel di internet, dari postingan di media sosial. Kebijaksanaan terbit dari interaksi yang hangat dan luwes, yang dimulakan dengan kebesaran hati untuk menampung sebanyak-banyak kegembiraan dan kebahagiaan orang lain di dalam hati kita.

Di dalam kearifan itu, hukum menjadi perkara yang menyenangkan, tidak kaku dan terasa mengerikan. Dalam kebijaksanaan itu ada kebersamaan langkah untuk bersama-sama menapak ke surga, bukan saling menyingkirkan satu sama lain.

Afattaanun anta? Nabi Muhammad mengulangnya hingga tiga kali kepada Muadz. Apakah Muadz - dan kita - menjadi ahli fitnah?

Kita dengan mudah menuduh orang lain buruk karena tak menuruti standar kita tanpa memahami konteks personal dan komunal mereka. Kita dengan gampang menyingkirkan orang lain dari jalan kebaikan karena tak sesuai dengan langkah gerak kaki kita tanpa tahu sebab dan latar belakang mengapa mereka melakukannya. Syariat kita sangkakan sebagai produk mutlak tanpa tahapan.

Hukum kita anggap sebagai ketukan palu final yang tak boleh diganggu gugat. Padahal, dakwah dan kebaikan adalah jalan panjang berliku yang di setiap tikungannya selalu ada hikmah dan pelajaran untuk dipahami.

Waraa-akal kabiir wa dzul haajah wadh dha'iif. Di belakangmu, Muadz - kata Nabi Muhammad SAW - ada orang-orang tua, ada orang-orang yang juga punya urusan lain, ada orang-orang yang lemah dan tak kuat mengikuti standarmu. Di sekeliling kita, ada orang-orang yang belum paham dengan sempurna, yang tak paham sama sekali, bahkan tak punya ide apapun tentang standar-standar yang kita patok tinggi bagi diri kita.

Tugas kita bukan sekadar showing off, mempertontonkannya, menunjukkan, mensuar-suarkannya, tetapi terlebih dahulu memahami psikologi, karakteristik, dan konteks sosial budaya mereka yang beragam.

Pada perkara yang substantif, tauhid, keyakinan kepada Allah, pilar keagamaan, Nabi Muhammad SAW memberi marka yang tegas. Tetapi, juga memberikan kelonggaran dalam ibadah. Nabi Muhammad SAW tidak hadir di Madinah dengan standar tinggi yang tak substantif. Beliau manusia biasa - yang dari kenormalannya kita belajar banyak tentang dinamika hidup dan syariat.

Kita mendapati ragam dan variasi riwayat yang bertebaran di sepanjang hidupnya sehingga - dalam kaidah fikih - menyebabkan ikhtilaf dan perbedaan rumusan hukum.

Idzaa shallaa ahadukum linnaasi, falyukhaffif. Kalau kita mengimami sholat bagi orang lain, maka ringankanlah bacaannya. Jika kita berada di tengah keluarga, pertemanan, jamaah, komunitas, maka ringankanlah standar agar dengan mudah mereka ikuti. Agar tak timbul di kepala mereka gambaran agama yang menyusahkan, menyengsarakan, dan menjadi beban yang memberatkan.

Agama ini harus tampil di hadapan kita dalam citranya yang mudah sehingga kita berlomba dan bersenang-senang mengarungi lautan cinta kita kepada Allah. Jangan sampai kening kita menjadi simbol ketaatan, tetapi lisan kita menjadi mercusuar fitnah bagi orang lain.

Oleh: dr. Ahmad Fuady, M.Sc.-HEPL
Peneliti di Erasmus University Medical Center, Rotterdam, Belanda. Penulis buku "Negeri Sukun: Kelakar Sang Kiai untuk Negeri"

(okezone.com)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Masalah e-Commerce: Data Bocor Hingga Jual-Beli Rekening Bank
Ngeri! Cara Penjahat Kuras Rekening Bank Via Nomor Ponsel
Pembobolan Rekening Ilham Bintang, Data Dijual Orang Bank
Mendagri Cek PPATK Soal Rekening Kasino Kepala Daerah Rp50 M
Viral Rekening Bank Terpotong BPJS Kesehatan, Otomatis Tanpa Izin

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad
free web site hit counter