Home  / Khazanah
Pentingnya Belajar Fikih dan Menghindari Riya
Jumat, 21 Februari 2020 | 08:40:11
(Foto: Philadelphia Tribune)
Ulama harus menyampaikan ilmunya
Setiap muslim hendaknya belajar fikih untuk meningkatkan ilmu agamanya dan meningkatkan imannya kepada Allah SWT.

Sejatinya, hakikat fikih dalam Kitab Bughyatul Musytarsyidin adalah sesuatu yang terletak dalam hati dan tampak di lisan. Fikih memberi manfaat terhadap pengetahuan.


Melalui ilmu pengetahuan soal fikih maka setiap muslim jadi mengerti kewajibannya sebagai seorang muslim. Selain itu juga membuat muslim merasa takut berbuat sesuatu yang dilarang oleh syariat Islam.

Ulama sebagai seseorang yang mengetahui syariat Islam dan fikih wajib menyampaikan ilmunya kepada umat, terlebih lagi para ahli ibadah.

Namun, kadang esensi fikih membuat seseorang yang ahli fikih hanya tahu teori dan praktik tanpa menghayatinya. Artinya, ilmu fikih yang mencakup rangkaian ibadah itu hanya akan diamalkan karena rasa takut atau rasa riya ketika menjalankannya, tidak karena Allah SWT

Seperti dilansir dari website Pondok Pesantren Lirboyo, Imam an-Nawawi mengatakan, "Seorang ulama tidak akan tampak karomahnya, seperti halnya orang yang ahli ibadah, meskipun ulama lebih utama, ketika ada sifat riya dalam dirinya."

Seorang laki-laki bertanya kepada Abu Hurairah R.a., ia berkata "Aku menginginkan belajar ilmu (fikih), disaat yang sama aku juga takut suatu saat menyia-nyiakannya."

Abu Hurairah menjawab, "Kamu meninggalkan (belajar) ilmu, itu adalah kesia-siaan."

Jawaban ini bukan tanpa alasan, di mana laki-laki tersebut takut ketika ia mengetahui banyak hukum dalam fikih, ia tidak mengamalkannya karena takut bahwa yang dia lakukan akan sia-sia, ada unsur riya di dalamnya. Ini juga tidak baik.

Dalam hal ini, Imam Haramain berkata, "Termasuk tipu daya setan, meninggalkan amal karena takut dibicarakan orang-orang, bahwa ia seseorang yang munafik."

Setan tercipta lebih pintar daripada manusia dalam urusan menggoda, terlebih ketika akan melakukan amal saleh. Sesuatu yang sangat sia-sia, bahkan bisa dikatakan sulit dan tidak mungkin, mensucikan amal dari godaan setan itu sendiri.

Ketika seseorang masuk sebuah lingkaran setan, menjadikannya selalu urung melakukan amal baik karena takut dicap orang yang munafik, sampai akhir hayatnya ia tak akan berbuat amal baik.


Dengan demikian, pengetahuan fikih sangatlah penting untuk acuan manusia dalam beramal baik, juga dibutuhkan keberanian dan menata hati di setiap amal yang dikerjakannya.

(okezone.com)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Belajar dari Rasulullah Cara Menghadapi Masa Sulit
Staf Baznas Belajar Menulis Berita ke Diskominfotik
Gubri Paparkan Langkah Penting Pencegahan Karhutla di Depan Kepala BNPB
Satgas Pamtas RI-PNG Yonif 411 Bagikan Buku Tulis Untuk Anak-Anak Belajar Mengaji
Kepala Bakamla RI : Pentingnya Bersinergi Antar Instansi Maritim Indonesia

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad