Home  / Khazanah
Sains Dalam Alquran, Sinar Matahari Butuh 8 Menit untuk Sampai ke Bumi
Jumat, 3 Januari 2020 | 20:52:52
(Foto: US News)
Matahari bersinar terang
Matahari merupakan benda angkasa yang sangat panas. Bahkan panas di bagian tengahnya mencapai 20 juta derajat Celcius, luar biasa panasnya bukan.

Ukuran matahari lebih besar daripada bumi hingga 1.300.000 kali lipat. Sedangkan jarak matahari dari bumi sekitar 150 juta kilometer. Oleh sebab itu, sinar yang datang dari matahari menuju ke bumi membutuhkan waktu selama 8 menit.

Sebagaimana dibuktikan oleh sains, di matahari terdapat suatu fenomena yang dinamakan dengan prominensa atau lidah api (mutawahhijat). Fenomena ini terjadi di bagian bawah matahari, di mana suhu panasnya meningkat tajam akibat medan magnet.

Oleh karena itu, terbentuklah lidah api yang menjulur ke atas permukaan matahari kira-kira setinggi 500 ribu kilometer. Lidah api ini adalah sebuah pelita yang menyala-nyala dan menghasilkan cahaya dari dirinya sendiri dan memancarkannya.

Hal yang mengagumkan, para ilmuwan menemukan bahwa perut matahari gelap dan tidak bisa dilihat karena ia memancarkan sinar-sinar tak terlihat, seperti sinar gamma, sinar X, dan sinar ultra violet. Lapisan luar mataharilah yang mengubah sinar-sinar tak terlihat itu menjadi sinar yang bisa dilihat.

Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika kemudian Alquran mendeskripsikan penanda siang (yaitu matahari) sebagai mubshirah (terang benderang sehingga menyebabkan orang bisa melihat), dalam bentuk aktif.

Dari sinilah Alquran membuat pembedaan yang akurat antara sinar matahari dan cahaya bulan, antara matahari sebagai siraj (pelita) dan bulan sebagai nur (cahaya), sebagaimana di sebutkan dalam ayat-ayat Alquran.

Di antara hal yang perlu diperhatikan, Alquran dalam banyak ayat memperhadapkan kegelapan (zhulumat) dengan cahaya (nur), bukan dengan sinar (dhiya').

Misalnya firman Allah, "Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi, dan menjadikan kegelapan dan cahaya. Namun, orang-orang kafir masih mempersekutukan Tuhan mereka dengan sesuatu." (QS Al-An'am: 1).

Ketika Allah mendeskripsikan api, Dia menyebutnya sebagai sinar (dhiya') dan menyebut pancaran sinar tersebut sebagai cahaya (nur). Dia berfirman, "Perumpamaan mereka seperti orang-orang yang menyalakan api. Setelah api itu menyinari sekelilingnya, Allah melenyapkan cahaya (yang menyinari) mereka dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat." (QS Al-Baqarah: 17).

Allah pun mendeskripsikan diri-Nya sebagai cahaya langit dan bumi, dan membuat perumpamaan atas cahaya tersebut sebagai minyak yang bersinar dan memancarkan cahaya ke sekelilingnya.

Allah berfirman,

Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Akurasi yang sangat tinggi yang terdapat dalam Alquran ini, yaitu tentang pembedaan antara sinar yang terpancar dari benda pijar yang menyala dan bersinar dari dirinya sendiri dengan cahaya yang dipantulkan oleh benda dingin yang mendapatkan cahayanya dari sinar benda pijar tersebut.

Hal ini belum pernah diketahui manusia kecuali setelah abad ke-19. Padahal, Alquran telah memaparkannya sejak 1.400 tahun yang lalu.

Dalam ayat-ayatnya, Alquran berbicara tentang kegelapan-kegelapan (dalam bentuk jamak) dan cahaya (dalam bentuk tunggal) seakan-akan terdapat banyak kegelapan dan hanya ada sedikit cahaya.

Sains empiris kemudian datang menegaskan bahwa lapisan cahaya yang mengelilingi bumi merupakan suatu lapisan yang sangat tepat sangat tipis, yang ketebalannya tidak lebih dari 200 kilometer. Lapisan cahaya itu pun hanya ada di sekeliling dari bumi yang menghadap matahari.

Adapun sekeliling dari separuh bumi yang tidak menghadap matahari merupakan lapisan gelap yang menyatu dengan kegelapan semesta yang sangat pekat. Sinar matahari sendiri sebetulnya bukan cahaya murni yang berwarna putih yang dinamakan nur (yang memungkinkan manusia untuk bisa melihat).

Ketika sinar matahari memasuki atmosfer yang melingkupi bumi, dimulailah penguraian sinar itu oleh partikel-partikel atom padat dan uap air yang ada di udara, lalu sinar itu pun berubah menjadi cahaya.

Kemudian menjadi teranglah siang hari dan terang itu membantu manusia untuk menjalani hidup. Kalau bukan karena karakter sinar matahari yang demikian itu, tentu manusia sama sekali tidak akan mampu menjalani kehidupannya di permukaan planet bumi ini.

Jadi, matahari pada siang hari hanya terdapat pada rentang 200 kilometer di atas permukaan bumi yang mendapatkan cahaya terang. Lalu, apa yang terjadi di luar rentang 200 kilometer tersebut? Yang terjadi adalah kegelapan yang amat pekat dan matahari hanyalah sebuah titik berwarna biru pada lembaran hitam yang sangat legam.

Allah berfirman, "Demi matahari dan sinarnya pada pagi hari. Demi bulan apabila mengiringınya. Demi siang apabila menampakkannya." (QS Asy-Syams: 1-3).

Sepanjang sejarah, manusia mengira bahwa mataharilah yang menampakkan siang, sedangkan Alquran menyatakan bahwa sianglah yang menampakkan matahari.

Sesungguhnya sinar matahari yang sangat terang itu tidak bisa dilihat kecuali pada lapiran tipis atmosfer bumi yang menghadap matahari. Jadi, yang membuat matahari tampak adalah lapisan siang, bukan sebaliknya.

Manusia selama ini mengira bahwa matahari yang menerangi siang, padahal Alquran mengatakan, "Demi siang apabila menampakkannya (matahari)." ( QS Asy-Syams: 3).

Sinar matahari di luar rentang 200 kilometer tersebut hampir tidak bisa dilihat dan hanya terlihat berupa titik berawan biru pada lembaran berwarna hitam. Yang membuat matahari tampak adalah lapisan siang, yaitu lapisan atmosfer bumi yang menghadap matahari.

Lapisan ini membantu debu-debu dan partikel-partikel uap air dalam mengurai spektrum-spektrum sinar matahari menjadi cahaya putih indah yang bisa kita nikmati dalam bentuk terang siang hari.

Pengetahuan ini dikutip dari Buku Pintar Sains Dalam Alquran Mengerti Mukjizat Ilmiah Firman Allah, karya Dr. Nadiah Thayyarah.

(okezone.com)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Warga Suku Anak Dalam Tewas Dililit Ular Piton, Evakuasi Sulit karena Jasad Dibelit
Pembunuh Guru dalam Ember Dibekuk, Motif Pemerkosaan
Dukung Generasi Cinta Alquran, Rumah Yatim Salurkan Kitab Suci Di MDTA Al Ikhlas
2 Ayat dalam Alquran Paling Dicintai Nabi Muhammad dari Seisi Bumi
Mayat Pria Yang Ditemukan Dalam Parit Jalan Nelayan Diduga Korban Lakalantas

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad
free web site hit counter