Home  / Khazanah
Sains Dalam Alquran, Banyak Bintang Lebih Besar dari Matahari
Rabu, 1 Januari 2020 | 00:22:25
(Foto: Pinterest)
Matahari dan bintang-bintang raksasa
Matahari merupakan suatu bola gas yang berpijar. Umurnya 5 miliar tahun, diameternya lebih dari 1,33 miliar kilometer, keliling lingkarannya 325 kali keliling lingkaran bumi, dan beratnya mencapai 332 ribu kali lipat berat bumi.

Temperatur di bagian tengah matahari mencapai 20 juta derajat Celcius. Sementara pada permukaannya sekitar 6.000 derajat Celcius.

Terdapat lidah api yang menjulur dari permukaan matahari. Api itu menjulur sampai pada ketinggian 500 ribu kilometer dan terus-menerus memuntahkan energi sekitar 168.400 tenaga kuda per meter persegi. Dari energi sebesar itu, hanya satu per dua juta saja yang sampai ke bumi.

Matahari sejatinya hanya sebuah bintang kecil. Ia tidak termasuk kategori bintang besar. Masih banyak bintang yang jauh lebih besar dari matahari di semesta.

Berikut ini bintang yang lebih besar dari matahari antara lain Sirius A, The Dog Star, Pollux, Arcturus, Aldebaran, Rigel, Pistol Star, Antares A, Mu Cephei, VY Canis Majoris.

Pada permukaan matahari terdapat topan elektrik dan magnetik yang sangat dahsyat. Persoalan yang membingungkan para ilmuwan adalah fakta bahwa matahari senantiasa memancarkan energi panas yang sama sejak jutaan tahun yang lalu.

Maka tidak diragukan lagi bahwa proses pembakaran yang terjadi di dalam tubuh matahari tidak seperti yang biasa kita lihat dan bayangkan. Kalau proses itu seperti yang biasa kita lihat dan bayangkan, tentu 6.000 tahun merupakan waktu yang cukup baginya untuk menyala dan kehabisan energi panasnya.

Sebagian ilmuwan berpendapat, meteorid dan meteor yang berjatuhan di permukaan matahari menggantikan suhu panas matahari yang hilang karena proses penyinaran.

Terbukti kemudian bahwa proses reproduksi energi matahari merupakan perubahan dari gas hidrogen yang terdapat melimpah di tubuh matahari-juga di tubuh bintang-bintang lain-menjadi gas helium. Hal itu terjadi melalui serangkaian reaksi nuklir yang kompleks dan menghasilkan energi yang sangat besar dan tak terbayangkan.

Wakil Direktur Observatorium Greenwich, Dr. Thomas Gold mengatakan, ledakan yang terjadi di matahari pada 13 Februari 1956 setara dengan kekuatan yang dihasilkan oleh ledakan 1 juta bom hidrogen. Ledakan tersebut menyebabkan bumi dihujani oleh berbagai pancaran sinar radio aktif.

Ia menjelaskan, bertambahnya pancaran sinar radio aktif dimulai pada pukul 03.45 pagi waktu GMT dan berlangsung hingga kira-kira dua jam kemudian. Pertambahan pancaran sinar radio aktif yang diterima bumi ini merupakan yang terbanyak sepanjang sejarah.

la juga mengatakan, ledakan tersebut terjadi pada suatu wilayah yang luasnya lebih besar daripada luas bumi dan kekuatan ledakan itu sangat dahsyat. "Saking dahsyatnya, akal manusia tidak mungkin bisa membayangkannya. Tubuh setiap orang, laki-laki dan perempuan, anak-anak dan semua makhluk hidup di segenap penjuru semesta, merasakan pancaran sinar itu dalam jumlah yang berlipat dari biasanya," kata Gold.

Sementara itu Direktur Observatorium Harvard, Dr. Donald Menzel mengatakan, peristiwa ledakan di matahari telah direkam dalam beberapa film dengan teknologi alkongraf, yaitu sebuah perangkat untuk merekam nyala api dan cahaya yang keluar dari matahari. Dari film itu tampak jelas bahwa kekuatan ledakan tersebut setara dengan ledakan 100 juta bom hidrogen dalam sekali ledakan.

"Kekuatan tersebut juga lebih besar daripada 1.000 kali lipat kekuatan gravitasi bumi," kata Menzel.

Allah berfirman, "Dan, Kami menjadikan pelita yang terang benderang." (QS An-Naba’: 13).

"Dan di sana Dia menciptakan bulan yang bercahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita (yang cemerlang)." (QS Nuh: l6).

"Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya." (QS Yunus: 5).

"Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan bintang-bintang dan Dia juga menjadikan padanya pelita (matahari) dan bulan yang bersinar." (QS Al-Furqan: 61).

"Dan, Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda (kebesaran Kami). Kemudian, Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang benderang." (QS Al-Isra’: 12).

Ketika membicarakan matahari, Alquran mendeskripsikannya sebagai siraj (pelita). Sesuatu tidak dinamakan siraj (pelita), kecuali apabila ia memiliki panas dan bisa menyinari. Dua sifat ini sesuai dengan matahari yang bisa memancarkan panas dan cahaya ke bumi.

Di sisi lain, Alquran mendeskripsikan bulan sebagai munir (bercahaya). Sebab, bulan hanya memantulkan cahaya dan tidak memiliki panas.

Bulan adalah benda langit yang dingin, tidak memiliki panas. Ia mendapatkan cahayanya dari matahari. Sifat- sifat ini sangat selaras dengan apa yang dikatakan oleh para ahli astronomi.

Pengetahuan ini dikutip dari Buku Pintar Sains Dalam Alquran Mengerti Mukjizat Ilmiah Firman Allah, karya Dr. Nadiah Thayyarah.

(okezone.com)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Kerap Terima Penghargaan Inovasi, Bupati Harris Ingatkan Pentingnya Terobosan Dalam Kerja
Luar Biasa, Pelukis Cantik Ini Menulis Ulang Alquran dengan Emas di Atas Kain Sutra
Alquran Selamat dari Kebakaran, Ustadz Sebut Mirip Peristiwa di Masa Nabi Ibrahim
Harvard Law School Sebut Alquran sebagai Sumber Hukum yang Adil
Prajurit TNI Bantu Warga Bangun Rumah di Pedalaman Papua

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad