Home  / Khazanah
Alasan Jemaah Haji Melaksanakan Tarwiyah
Rabu, 31 Juli 2019 | 22:05:19
Photo : MCH2019
Fadli (43) dan Azwar (45), jemaah haji embarkasi BTH yang melaksanakan tarwiyah
Sejumlah jemaah haji reguler memilih untuk melaksanakan ibadah Tarwiyah pada musim haji tahun 1440 Hijriah/2019 Masehi. Beberapa di antara mereka pun mengutarakan alasannya memilih Tarwiyah saat mengunjungi kantor Media Center Haji (MCH) Mekah, Rabu, 31 Juli 2019.

Fadli (43), jemaah haji Kloter 22 BTH, mengaku ada beberapa rekannya yang melaksanakan Tarwiyah. Untuk prosesnya, ia mendaftar di masing-masing kloter dan nantinya akan digabung dengan jemaah kloter-kloter lain yang mengikuti Tarwiyah.

"Nanti ada yang daftarin ke sektor, ada KBIH yang ngurusin. Jadi dari kloter, kemudian sektor, terus ke kadaker. Harus tanda tangan semua. Total ada 130 orang. Ini yang dekat-dekat di sektor sini-sini aja," ujar Fadli, jemaah haji yang tinggal di hotel nomor 102 Syisyah, Mekah.

Para jemaah haji ini umumnya sudah mengetahui imbauan bahwa pemerintah tidak memfasilitasi ibadah Tarwiyah. Karena mayoritas jemaah haji Indonesia banyak yang lanjut usia dan risiko tinggi. Untuk itu, pemerintah hanya fokus pada rukun haji, yakni wukuf di Arafah.

"Kita memahami pemerintah nggak memfasilitasi Tarwiyah, wajar, karena ada yang pakai kursi roda, jalan aja sulit, kalau ditambahin satu lagi di Mina repot juga," kata Azwar (45), jemaah haji asal Batam saat berbincang dengan MCH.
 
Fadli maupun Azwar, sama-sama menyadari konsekuensi melaksanakan Tarwiyah. Mereka menyiapkan diri melaksanakan Tarwiyah sejak dari rumah. Segala persiapan, baik fisik dan biaya yang dikeluarkan, dilakukan secara mandiri.

"Iya, biaya keluar sendiri, risiko sendiri, insya Allah siap," terang Fadli.

Lagipula, ratusan peserta Tarwiyah ini, terang Fadli, rata-rata masih berusia muda. Rentang usia 30-50 tahun, dan tidak ada yang uzur.

Di luar itu, Fadli dan Azwar sangat ingin melaksanakan Tarwiyah, karena ingin menjalankan sunah Rasulullah. Mereka mengaku sudah merencanakan jauh hari dan sayang apabila tidak melaksanakan Tarwiyah.

"Kita pengen jalankan sunah sesuai Rasulullah. Karena Rasulullah mulai tanggal 8 (Dzulhijah)," ujar Fadli.

Secara teknis, Fadli menambahkan, jemaah haji Tarwiyah itu nantinya akan berkumpul di Maktab masing-masing lalu bergerak menuju Mina pada 8 Dzulhijah. Dari Mina, mereka menggunakan bus langsung bergerak ke Arafah pada 9 Dzulhijah, bergabung bersama jemaah haji Indonesia lainnya. 

"Satu hari aja sih sebenarnya. Tanggal 8 ke Mina, 9 ke Arafah, yang reguler kan langsung ke Arafah. Tanggal 9 kita ke Arafah kumpul sama teman-teman. Nanti naik bus dari Mina ke Arafah, dari Arafah mulai ikut rombongan lagi," paparnya.

Sebelumnya, pemerintah Indonesia melalui Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi tidak memfasilitasi pelaksanaan ibadah Tarwiyah untuk jemaah haji Indonesia. Kendati sifatnya sunah, pemerintah tidak melaksanakan ibadah Tarwiyah.

Kepala PPIH Daker Mekah, Subhan Cholid mengatakan, Tarwiyah merupakan salah satu sunah dalam ibadah haji. Namun, pemerintah tidak melaksanakannya, dengan pertimbangan, yakni, pelaksanaan Tarwiyah dilakukan sehari sebelum wukuf di Arafah, yaitu pada 8 Dzulhijah. Sementara itu, wukuf di Arafah adalah rukun haji yang dilakukan dalam waktu yang sangat singkat.

"Dengan pertimbangan keabsahan haji, pemerintah berkonsentrasi pada rukun hajinya yaitu wukuf di Arafah," kata Subhan Cholid kepada Tim MCH, Kamis, 25 Juli 2019.

Tarwiyah dan Nabi Ibrahim AS

Ibadah Tarwiyah dilaksanakan di hari kedelapan di bulan Dzulhijjah. Tarwiyah erat kaitannya dengan peristiwa yang dialami Nabi Ibrahim AS, yang bermimpi mendapat perintah untuk menyembelih anak kesayangannya dari Siti Hajar, Ismail AS.

Hingga pada malam kesembilan, Ibrahim kembali bermimpi dengan perintah yang sama, menyembelih Ismail. Mimpi yang sama untuk kedua kalinya ini membuat Ibrahim yakin bahwa mimpinya itu merupakan perintah Allah SWT. Karenanya hari kesembilan disebut hari Arafah (mengetahui).

Pada malam kesepuluh, Ibrahim AS bermimpi lagi untuk ketiga kalinya dengan mimpi yang sama persis. Maka keesokan harinya pada 10 Dzulhijjah, di pagi hari, ia melaksanakan perintah itu. Karenanya hari kesepuluh ini dinamakan hari Nahar, yang artinya menyembelih.

Soal hari Tarwiyah ini, terdapat hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan Abu Dawud dan Ibnu Abbas. Ibnu Abbas berkata, "Rasulullah SAW salat Dzuhur pada hari Tarwiyah dan salat Subuh pada hari Arafah dari Mina".

Dari hadis ini diketahui, hari Tarwiyah terjadi sebelum hari Arafah, dan Nabi Muhammad SAW menunaikan salat Dzuhur, Ashar, Magrib, Isya, dan Subuh di Mina pada hari Tarwiyah, kemudian melanjutkan ke Arafah sebelum Matahari terbenam.

(viva.co.id)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Bagaimana Ciri-Ciri Haji Mabrur?
Jemaah Haji Gelombang Kedua Mulai Diberangkatkan ke Madinah
Arab Saudi Rela Belah Gunung untuk Tenda Jemaah Haji Indonesia di Mina
Gubri Sambut Kepulangan 443 Jemaah Haji Riau
Jamaah Haji Riau Tiba Di EHA Tanggal 19 Mendatang

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad