Home  / Kesehatan
Yang Terjadi pada Otak Setelah Berhubungan Seks
Selasa, 11 Agustus 2020 | 23:08:45
(Foto: Istockphoto/Napadon Srisawang)
Ilustrasi: Aktivitas seks mendatangkan pelbagai dampak bagi tubuh, salah satunya melepas stres atau rileks. Apa sebenarnya yang terjadi pada otak setelah berhubungan seks?
JAKARTA - Selain melamun, aktivitas lain yang juga akan membuat Anda lebih rileks adalah seks. Tak bisa dipungkiri, aktivitas seks mendatangkan dampak bagi tubuh.

Ada penjelasan ilmiah soal ini. Dikutip dari SheKnows, sentuhan fisik melalui seks akan memunculkan keintiman dengan pasangan Anda. Malah bisa dibilang, ada yang merasa jatuh cinta pada pasangan setelah berhubungan intim.

Saat melakukan seks, ada yang terjadi pada otak kita sehingga segala sesuatu akan terasa lebih intim, dekat dan indah.

Seorang psikolog dan pekerja sosial klinis, Sal Raichbach menjelaskan, seks mampu melepaskan oksitosin atau 'love hormone'. Pelepasan hormin ini berkaitan dengan rasa dekat dan intim, merasa lebih baik.

"Oksitosin berhubungan dengan fungsi sosial positif dan dikaitkan dengan ikatan, kepercayaan dan loyalitas," kata Raichbach dikutip dari SheKnows.

Jadi, suatu hal yang wajar jika mengasosiasikan perasaan positif itu dengan seseorang yang berbagi momen tersebut dengan Anda. Barangkali ini pula alasan mengapa Anda mulai lebih memikirkan seseorang setelah berbagi waktu yang penuh gairah dengan mereka.

Meskipun momen berlangsung cepat, sebagian dari Anda menginginkan perasaan serupa lagi berulang.

Foto: CNN Indonesia/Timothy Loen
Infografis Gerakan Yoga untuk Seks yang Lebih Baik

Tak Hanya Melalui Seks
Kabar baiknya, oksitosin sebenarnya bukan hanya didapat dari seks belaka, tidak melulu harus melibatkan sesi intercourse alias penetrasi penis ke vagina.

Ada pula jenis aktivitas lain yang bakal menghasilkan oksitosin dan memunculkan keintiman.

Lauren Brim, edukator seksual dan penulis `The New Rules of Sex` mengatakan oksitosin terlepas ketika melakukan beragam aktivitas lain seperti bermain bersama hewan peliharaan, dipijat atau memijat, olahraga secara tim atau sekadar melihat warna biru.

Brim mengatakan, ikatan kuat antara dua orang bisa terjadi dengan jenis keintiman lain.

"Itulah mengapa kita bisa merasa seperti, kita jatuh cinta pada seseorang yang kita ajak ngobrol sekali saja," jelas Brim.

Penting diingat, berhubungan seks dalam kondisi apapun akan secara otomatis melepaskan oksitosin dan itu membuat Anda merasa terhubung. Misalnya, Brim menunjukkan, korban kekerasan seksual takkan mungkin memiliki perasaan ketertarikan pada pelaku, juga tak akan melakukan seks teratur dalam.

Sementara seks bisa memperdalam ikatan antara dua orang ketika ada keintiman berupa pengalaman dan chemistry bawaan dari pasangan. Hal-hal seperti, saling memandang atau berbagi cerita pribadi dengan orang lain dapat menciptakan jenis ikatan personal satu sama lain.

"Sebagai makhluk sosial, kita dirancang untuk terikat melalui berbagai kegiatan, tetapi seks sering menciptakan perasaan bahwa kita harus menjalin hubungan dengan orang tersebut, karena sebagian masyarakat telah menetapkan itu sebagai norma umum, bagian dari `social sexual script` kita,"imbuh Brim.

(CNNIndonesia.com)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Setelah Terlantar Sepekan Lebih, NasDem Milenial Riau Bantu Pulangkan Pak Misnan dan Isteri ke Batam
Setelah Mangkir, Sihol Pangaribuan Penuhi Panggilan Polda Riau
Setelah 38 Hari, Polsek Tanah Putih Bekuk 2 dari 6 Pelaku Sindikat Pencuri Uang Rp 200 Juta
Viral, Sepasang Kekasih Nekat Berhubungan Seks di Taman Probolinggo
Efek Narkoba Pada Otak: Dari Kebutaan Sampai Kerusakan Saraf

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad
free web site hit counter