Home  / Kesehatan
LIPI Ungkap Penyakit Daging Kelelawar dan Ular Terkait Corona
Sabtu, 25 Januari 2020 | 16:46:46
(CNN Indonesia/Safir Makki)
Ilustrasi kelelawar.
JAKARTA - Kelelawar dan ular menjadi pemicu virus corona menyerang masyarakat yang tinggal di Wuhan, Provinsi Hubei, China.

Meskipun persentase virus corona hanya berkisar 34 persen untuk kasus MERS (Middle East Respiratory Syndrome) dan SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) sebesar 15 persen tetapi mesti diwaspadai penyebarannya.

Menurut Peneliti Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Sugiyono Saputra, kandungan zat pada daging ular dan kelelawar didominasi oleh protein.

Kendati demikian, ketika manusia mengkonsumsi daging ular dan kelelawar, potensi untuk membawa penyakit pun tinggi karena keduanya termasuk hewan liar.

"Kandungan dominan mungkin protein. Bahayanya, karena hewan tersebut liar, potensi membawa penyakitnya juga tinggi. Kita tidak tahu mereka dari mana, mangsanya apa saja," kata Sugiyono saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (24/1).

Biasanya, tubuh ular mengandung sejumlah bakteri, salah satunya adalah Salmonella. Bakteri ini dapat menyebabkan keracunan dan masalah pencernaan.

Selain bakteri, mengkonsumsi daging ular juga rentan terkena infeksi parasit seperti trichinosis, pentastomiasis, gnathostomiasis, dan sparganosis.

Saat ditanya apakah ada efek yang terlihat saat daging ular dan kelelawar masuk ke dalam tubuh manusia, Sugiyono mengatakan efeknya seperti memakan daging biasa kecuali jika daging membawa toksin atau penyakit.

"Mungkin seperti makanan lain. Di beberapa daerah seperti di Minahasa, efek khasiat mungkin juga karena sugesti. Efek signifikan lain, kalau daging tersebut ternyata membawa toksin atau penyakit seperti virus rabies atau corona, yang tentunya berbahaya bagi kesehatan," tuturnya.

Sebelumnya, sejumlah peneliti mengatakan ular krait dan kobra dianggap menjadi sumber asli penyebaran virus corona.

Ular krait China adalah spesies ular elapid yang berbisa dan ditemukan di sebagian besar China tengah, selatan, dan Asia Tenggara.

Ular sering berburu kelelawar di alam liar. Laporan menunjukkan bahwa ular dijual di pasar makanan laut lokal di Wuhan, meningkatkan kemungkinan bahwa 2019-nCoV (kode protein) mungkin telah melompat dari spesies inang - kelelawar - menjadi ular dan kemudian ke manusia pada awal wabah koronavirus ini.

(cnnindonesia.com)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Brazil Umumkan Kasus Corona Pertama di Amerika Latin
Heboh Pasien Suspect Virus Corona di Semarang Meninggal, Why?
Seorang WN Prancis Meninggal Usai Terinfeksi Virus Corona
Pasien Suspect Corona Semarang Meninggal, Hasil Lab Negatif
Diduga Mata-mata Swedia, China Penjarakan Penulis Buku

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad