Home  / Iptek
Suami Istri Imigran Turki di Balik Vaksin Covid-19 Pfizer
Rabu, 11 November 2020 | 22:05:37
Ozlem Tureci and Ugur Sahin (twitter: @mrdanwalker)
JAKARTA - Vaksin Covid-19 Pfizer ramai dibicarakan publik beberapa hari terakhir usai mengumumkan 90 persen efektif mencegah Covid-19 dalam uji klinis tahap 3.

Namun, banyak yang tak mengetahui bahwa pengembang utama vaksin itu adalah perusahaan bioteknologi asal Jerman, yakni BioNTech. Perusahaan itu didirikan oleh pasangan suami istri Ugur Sahin (55) dan Oezlem Tuereci (53).

Melansir National Post, Sahin dan Tuereci telah mengabdikan hidup mereka untuk memanfaatkan sistem kekebalan tubuh dalam melawan kanker. Saat ini, Sahin menjabat sebagai Kepala Eksekutif BioNTech dan istrinya sebagai anggota dewan eksekutif perusahaan itu.

Sahin merupakan putra seorang imigran Turki yang bekerja di pabrik Ford di Cologne, Jerman. Sedangkan Tuereci adalah putri seorang dokter Turki yang bermigrasi ke Jerman.

Sahin kini masuk jajaran 100 orang terkaya di Jerman. Hal itu berkat nilai pasar dari BioNTech yang terdaftar di Nasdaq, yang didirikan oleh pasangan itu menggelembung menjadi US$21 miliar atau Rp297 triliun pada penutupan saham pekan lalu, dari US$4,6 miliar atau Rp65,2 triliun setahun yang lalu.

Anggota dewan perusahaan, Matthias Kromayer menilai Sahin adalah sosok yang sangat rendah hati, terlepas dari pencapaiannya. Dia berkata Sahin masih menghadiri rapat bisnis dengan mengenakan jeans, serta membawa helm sepeda dan ransel khasnya.

Sahin disebut gigih mengejar impian masa kecilnya untuk belajar kedokteran dan menjadi seorang dokter. Dia sempat bekerja di rumah sakit pendidikan di Cologne dan kota barat daya Hamburg, tempat dia bertemu Tuereci yang kelak menjadi istrinya.

Riset medis dan onkologi menjadi bidang yang disukai pasangan itu. Sahin dan Tuereci mengasah sistem kekebalan sebagai sekutu potensial dalam perang melawan kanker dan mencoba mengatasi susunan genetik unik dari setiap tumor.

Kehidupan Sahin dan Tuereci sebagai wirausahawan dimulai pada 2001 ketika mereka mendirikan Ganymed Pharmaceuticals untuk mengembangkan antibodi pelawan kanker.

Kerja keras pasangan itu terbayar setelah memenangkan pendanaan dari MIG AG, serta dari Thomas nd Andreas Struengmann yang menjual obat generik Hexal ke Novartis pada 2005.

Satu dekade kemudian, bisnis itu dijual ke Astellas, perusahaan asal Jepang hingga US$1,4 miliar atau Rp19,8 triliun. Saat itu, tim di belakang Ganymed juga membangun BioNTech, yang didirikan pada 2008 untuk mengembangkan perangkat imunoterapi kanker.

Perangkat imunoterapi kanker itu termasuk mRNA, zat pembawa pesan serbaguna untuk mengirim instruksi genetik ke dalam sel.

Melansir Independent, Sahin mulai bekerja untuk membuat vaksin Covid-19 di Januari, ketika wabah Covid-19 pertama kali mulai menyebar ke seluruh dunia. Dia bekerja untuk membuat vaksin dengan sekitar 500 orang yang berdedikasi untuk itu.

Pada Maret, pekerjaan mereka mendapat dukungan dari raksasa farmasi Pfizer dan pembuat obat China Fosun.

Tak Hanya mendirikan keduanya juga mendirikan Ci3, German Cluster Initiative of Individualized ImmunIntervention, sebuah organisasi nirlaba.

(CNNIndonesia.com)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Update 28 November 2020, Pasien Covid-19 Tambah 5.418 Jadi 527.999 Orang
Wali Kota dan Sekda Dikabarkan Positif Covid-19, Ini Penjelasan Pemkot Malang
Pecah Rekor Lagi, 5.828 Kasus Positif Covid-19 pada 27 November 2020
Hari Ini Pasien Sembuh di Riau Bertambah 206 Jadi 16.775 Orang
Bupati Situbondo Dadang Wigiarto Meninggal Dunia karena Covid-19

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad
free web site hit counter