Home  / Iptek
Terungkap, Energi Gelap di Alam Semesta dalam Kosmologi
Jumat, 16 Oktober 2020 | 17:17:48
(dok. NASA)
Ilustrasi energi gelap alam semesta.
JAKARTA - Dalam kosmologi, energi gelap adalah suatu bentuk hipotesis dari energi yang mengisi seluruh ruang dan memiliki tekanan negatif yang kuat. Energi gelap juga berlaku di alam semesta.

Menurut teori relativitas umum, efek dari adanya tekanan negatif secara kualitatif serupa dengan memiliki gaya pada skala besar yang bekerja secara berlawanan terhadap gravitasi.

Energi gelap membentuk 72 persen dari kepadatan energi massa total alam semesta. Penyumbang dominan lain yaitu materi gelap dan sebagian kecil disebabkan oleh atom atau materi baryonic (barion).

Materi barion adalah proton dan neutron yang membentuk sebagian besar massa materi yang terlihat di alam semesta, seperti dikutip Astronomy Swin.

Jenis energi gelap lainnya telah diusulkan, menurut Earth Sky, termasuk medan kosmik yang terkait dengan inflasi dan medan energi rendah yang disebut 'intisari'. Diperkirakan bahwa alam semesta paling awal juga yang mengalami periode ekspansi cepat yang disebut inflasi.

Inflasi terjadi sekitar 10 sampai 36 detik setelah Big Bang, berperan untuk memuluskan alam semesta dan membuatnya datar secara geometris. Jika massa terjadi di alam semesta sama persis dengan massa jenis perseptif, maka geometri alam semesta berbentuk datar seperti selembar kertas.

Ketika para astronom mengukur jumlah materi dan energi di alam semesta saat ini, mereka hanya menemukan sekitar 30 persen dari apa yang dibutuhkan untuk membuat alam semesta datar yaitu dengan menambahkan energi gelap. 

Ada pesawat ruang angkasa yaitu WMAP telah mengukur geometri alam semesta. Jika alam semesta datar, fluktuasi latar belakang gelombang mikro kosmik yang paling terang akan berukuran sekitar satu derajat. Artinya, alam semesta saat ini datar dengan margin kesalahan hanya dua persen.

`Intisari` sendiri berasal dari bahasa Yunani kuno untuk menggambarkan elemen kelima yang misterius, selain udara, api, tanah, dan air.

Sedangkan konstanta kosmologis adalah bentuk energi tertentu, energi vakum. Intisari bersifat dinamis, berevolusi, dan bentuk energinya spasial. Artinya, intisari merupakan medan kuantum dengan energi kinetik yang potensial.

Sebab ia bergantung pada rasio dua energi dan tekanan, intisari dapat menarik atau menolak. Ia memiliki persamaan yaitu p = wρ (p adalah tekanan dan ρ adalah densistas, lalu w persamaan komponen energi yang mendominasi alam semesta.

Jika w mengalami transisi kurang dari -1/3, maka ekspansi akan dipercepat. Sebaliknya, konstanta kosmologis itu statis dengan kepadatan energi tetap dan w = -1.

Ada sejumlah program berkelanjutan yang bertujuan untuk mengetahui lebih banyak tentang energi gelap. Salah satu studi tersebut melibatkan pengukuran Baryonic Acoustic Oscilliations (BAO).

Big Bang (ledakan besar) mungkin telah menciptakan gelombang berskala besar ini dalam ruang dan waktu. Saat gelombang primordial ini bergerak melalui alam semesta, ia meninggalkan riak dengan kepadatan rendah beberapa puluh juta tahun cahaya di mana galaksi sekarang berada.

Meskipun kemungkinan perbedaan ruang dan waktu ini akan melanggar prinsip Copernican yang menyatakan bahwa alam semesta dalam skala besar bersifat homogen.

(CNNIndonesia.com)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Kuasa Hukum 7 Tersangka Penggelapan CPO yang Ditahan Polres Siak Beberkan 7 Item Diduga Mal Administrasi
Ungkap Peredaran Gelap Narkoba, Polda Riau Amankan 2 Karyawan dan Seorang Pemandu Lagu di Imperial KTV Hotel Grand Central
Astronom: Usia Alam Semesta 13 Miliar Tahun
Tiang Listrik Roboh, 14 Desa di Kabupaten Kampar Gelap Gulita
Riau Kehilangan Potensi Pajak Rp107 T Akibat Sawit Ilegal

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad
free web site hit counter