Home  / Iptek
Studi: Emisi Tak Turun, Manusia `Terpanggang` 50 Tahun Lagi
Kamis, 7 Mei 2020 | 20:24:07
(Lillian SUWANRUMPHA / AFP)
Ilustrasi kekeringan.
JAKARTA - Penelitian yang dilakukan oleh sejumlah universitas menemukan bahwa manusia akan sulit bertahan hidup bila emisi tak turun secara drastis dalam 50 tahun mendatang.

Para peneliti dari China, Amerika Serikat dan Eropa menilai bahwa wilayah Bumi yang dihuni sepertiga populasi penduduk dunia akan mengalami kemarau bak wilayah terpanas di Gurun Sahara, lima dekade mendatang.

Mereka memprediksi bahwa pemanasan global yang terjadi dengan sangat cepat bisa menyebabkan 3,5 miliar manusia hidup di wilayah yang tidak layak huni.

Mereka menjelaskan populasi manusia kini menumpuk di zona iklim yang sempit, dengan sebagian besar bersuhu tahunan rata-rata 11-15 derajat Celsius, dan hanya sedikit yang menghuni di wilayah bersuhu rata-rata 20-25 derajat Celsius.

"Masalah wilayah layak huni yang terus menerus ini menunjukkan adanya hambatan yang dihadapi manusia dalam bertahan hidup ataupun berkembang," ujar Profesor Marten Scheffer dari Universitas Wageningen.

Dalam penelitian yang masuk dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences dan terbit pekan ini, para peneliti memproyeksikan suhu Bumi akan meningkat dengan cepat akibat emisi gas rumah kaca.

Pada skenario emisi terus meningkat tanpa ada penghentian, pada 2070 nanti suhu yang dirasakan setiap orang akan lebih panas 7,5 derajat Celsius. Temuan ini lebih tinggi dibanding perkiraan kenaikan suhu rata-rata global sebesar 3 derajat.

Lebih lanjut, peneliti berkata sekitar 30 persen dari populasi dunia akan hidup di tempat yang suhu rata-ratanya di atas 29 derajat Celsius dalam 50 tahun mendatang jika emisi gas rumah kaca terus meningkat.

Kondisi iklim tersebut kini hanya dirasakan di 0,8 persen dari wilayah permukaan Bumi, yang sebagian besar merupakan area terpanas Gurun Sahara. Akan tetapi, kata tim peneliti, kondisi itu bisa menyebar hingga 19 persen wilayah Bumi pada 2070.

"Situasi seperti ini akan membuat 3,5 miliar orang masuk ke dalam kondisi yang mungkin tidak akan dapat bertahan hidup," ujar Jens-Christian Svenning dari Aarhus University.

Di sisi lain, penulis juga mencatat bahwa sebagian dari 3,5 miliar penduduk akan terpapar panas ekstrem bila pemanasan global tak berhenti yang memungkinkan terjadinya migrasi manusia.

Namun peneliti juga menekankan bahwa ada banyak faktor selain iklim yang memengaruhi manusia bermigrasi. "Meramalkan besarnya angka migrasi yang didorong oleh perubahan iklim sangat menantang," kata Scheffer.

"Orang-orang cenderung enggan pindah. Selain itu ada ruang untuk adaptasi lokal dalam dunia yang terbatas. Namun di Bumi selatan, ini membutuhkan peningkatan perkembangan manusia dengan cepat," lanjutnya.

Penelitian yang dirilis kala miliaran orang mendekam dalam rumah akibat pandemi ini diklaim menjadi peringatan nyata bahwa emisi karbon yang melaju tinggi akan meningkatkan risiko dan krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya kepada penduduk Bumi.

"Perubahan akan berlangsung lebih cepat, tetapi tidak seperti pandemi, yang bisa kita cari vaksin penolongnya ...Satu-satunya hal yang dapat menghentikannya adalah pengurangan emisi karbon secara cepat," kata Scheffer.

Berdasarkan data, sebanyak 1,2 miliar penduduk India akan terdampak pemanasan global. Di posisi kedua ditempati oleh Nigeria dengan 485 juta penduduk, Pakistan dengan 185 juta penduduk, dan Indonesia dengan 145 juta penduduk. 

(CNNIndonesia.com)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Polwan Polsek Teluk Meranti Turun ke Pasar Sosialisasikan AKB
Tak Pernah Lelah Personil Polsubsektor Pelalawan Lakukan Sosialisasi AKB Guna Cegah Covid-19
Tak Pakai Masker, 83 Orang Terjaring Patroli Yustisi Polsek Tenayan Raya
Cegah Covid-19 Bhabinkamtibmas Turun ke Pasar, Himbau Warga Untuk ikuti Protokol Kesehatan.
Tak Pakai Masker, 48 Warga Sungai Apit di Hukum Bersihkan Taman

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad
free web site hit counter