Home  / Iptek
Mengenal Teknik Serangga Mandul Batan yang Bisa Cegah DBD
Sabtu, 14 Desember 2019 | 17:51:57
(Foto: Dok Batan)
Teknik serangga mandul yang diterapkan pada nyamuk penyebab DBD
JAKARTA - Sebagai daerah tropis, Indonesia masih menduduki peringkat tertinggi dalam jumlah kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di kawasan Asia Tenggara. Untuk itu, Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) mengembangkan salah satu teknik untuk mencegah DBD yang lebih efektif, yaitu teknik serangga mandul (TSM).

Sebelumnya, pengendalian penyakit DBD hanya dilakukan melalui pengendalian vektornya, yaitu nyamuk Aedes aegypti. Cara yang paling populer adalah gerakan menguras, menutup dan mengubur atau dikenal 3M dan terakhir berubah menjadi 3M-Plus (gunakan larvasida, kelambu, kawat kasa, dan obat antinyamuk).

Namun, semua cara ini sudah dianggap tidak efektif dan menyebabkan pencemaran lingkungan. Kini di beberapa negara sudah dikenal teknik pengendalian DBD yang dikembangkan oleh Oxitec dari Oxford, Inggris dan Australia, yaitu penggunaan nyamuk Aedes aegypti yang tubuhnya diinfeksi oleh bakteri Wilbachia.

Kedua cara terakhir ini pada akhirnya banyak yang menentang karena merupakan hasil rekayasa genetika yang dikhawatirkan akan menimbulkan dampak negatif di kemudian hari. Tak terkecuali teknik fogging yang sering dilakukan masyarakat Indonesia.

TSM adalah teknik yang digunakan untuk memandulkan nyamuk jantan dengan menggunakan radiasi sinar gamma. Tujuan dari teknik tersebut adalah menurunkan jumlah populasi nyamuk dengan cara menyebarkan nyamuk jantan pada habitatnya.

Meskipun terjadi perkawinan antara nyamuk jantan dengan nyamuk betina, tetapi dari perkawinan tersebut tidak akan terjadi pembuahan. Dengan demikian, jumlah populasi nyamuk semakin lama akan semakin menurun.

TSM merupakan teknologi nuklir yang sudah lebih dari 50 tahun dipakai di seluruh dunia yang awalnya untuk melawan lalat buah, ngengat, dan serangga pengganggu lainnya. Teknologi ini kemudian dikembangkan oleh Badan Tenaga Atom Internasional untuk melawan penyakit berbasis virus yang dibawa nyamuk. Indonesia bersama Italia, China dan Mauritius dijadikan pionir untuk program ini.

Teknik serangga mandul memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan teknik lainnya, di antaranya adalah lebih murah, ramah lingkungan dan lebih mudah digunakan. Efektivitas penurunan populasi bisa mencapai 96,35% pada penyebaran nyamuk jantan minggu keempat, dapat menahan munculnya kasus baru di atas 7 bulan, dan dapat menghilangkan keberadaan virus yang dianalisis pada tubuh nyamuk setelah pelepasan kedua.

Batan melalui Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR) sudah melakukan penelitian TSM sejak tahun 2005. Pada 2011 hingga 2015, Batan bahkan telah mengaplikasikan teknik tersebut di wilayah Jakarta, Salatiga, Tangerang dan Bangka Barat.

Hasilnya, ternyata teknik ini berhasil menurunkan populasi nyamuk secara signifikan. Dengan memanfaatkan TSM, diharapkan jumlah populasi nyamuk Aedes aegypti dapat diturunkan, serta dapat menekan biaya dan terhindar dari bahan kimia berbahaya sebagai bahan baku.

Kini, Batan masih terus mengembangkan teknik ini, terutama mencari waktu yang tepat dalam aplikasi TSM. Batan juga mengajak stakeholder maupun industri untuk mengembangkan teknik ini maupun mengkomersialisasikannya, terutama untuk mencegah penyakit DBD yang kini banyak diderita masyarakat Indonesia. 

(cnnindonesia.com)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Bakamla RI Siap Cegah Kapal Buang Limbah di Perairan Batam
Wagubri Apresiasi Pelatihan Sinergi Upaya Pencegahan Karhutla
Lintah Diprediksi Bisa Cegah Virus Corona di Masa Depan
Cegah Perkembangbiakan Anopheles, Satgas Yonif 136 Ajak Warga Suku Mausuane Bersihkan Lingkungan
Hingga Awal Februari, 116 Warga Pekanbaru Terpapar DBD

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad