Home  / Iptek
Inikah Kiamat? Astronom Lihat Tanda-tandanya di Antariksa
Jumat, 4 Oktober 2019 | 23:27:31
Photo : U-Report
Galaksi Bima Sakti.
GUGUSAN Tata Surya atau galaksi tempat planet kita berada, Galaksi Bimasakti, memiliki tetangga terdekat yaitu Galaksi Andromeda. Kini para astronom memprediksi, kedua galaksi akan berbenturan dalam tempo 4,5 miliar tahun.

Perkiraan ini didasarkan atas penemuan terbaru mengenai "kebiasaan" Galaksi Andromeda, yaitu "menelan" semua benda-benda ruang angkasa yang berada pada lintasannya.

Kebiasaan Andromeda ini diketahui telah terjadi pada 10 miliar tahun silam ketika galaksi tersebut masih dalam proses pembentukannya dan "menelan" begitu banyak benda ruang angkasa di sekitarnya.

Kemudian, terjadi lagi pada sekitar 4 miliar tahun yang lalu dalam skala yang lebih kecil.

Temuan ini merupakan hasil penelitian astronom Dr Douglas Mackey dari Research School of Astronomy and Astrophysics di Australian National University.

"Yang kita ketahui tentang Andromeda yaitu ukurannya kira-kira sama dengan Bimasakti, baik dalam hal jarak maupun massa," katanya kepada ABC News.

"Bimasakti memiliki sistem spiral; dan Andromeda juga memiliki sistem yang sangat mirip," jelasnya.

Hasil penelitian Dr Mackey yang diterbitkan dalam jurnal Nature pekan ini, menemukan bukti-bukti bagaimana Andromeda "memakan" benda-benda langit.

Setelah mempelajari lingkar cahaya, atau halo, bintang-bintang di Galaksi Andromeda, para peneliti menyadari adanya dua gugus bintang yang terikat secara gravitasi, dikenal sebagai gugus bola, yang mengorbit pada jalurnya masing-masing.



Dua gugusan gravitasi tatasurya diketahui mengorbit Galaksi Andromeda secara vertikal dan horisontal. Kiriman: Universitas Sydney

Arah orbit Andromeda

Para astronom berusaha memahami bagaimana Andromeda berkembang dari waktu ke waktu. Ternyata arah orbital dari gugusan Tata Surya pada galaksi ini sangat mengejutkan mereka.

Penelitian lainnya, Profesor Geraint Lewis dari University of Sydney, menjelaskan gugusan Tata Surya berkumpul bersama pada waktu yang berbeda miliaran tahun.

"Kita tahu bahwa galaksi seperti Andromeda dan Bimasakti tertanam pada apa yang disebut jaring kosmik. Benda-benda ruang angkasa di sekitarnya jatuh ke galaksi kita dari jaring ini," katanya.

Para astronom antusias dengan temuan ini karena mereka tahu Andromeda mirip sekali dengan Bimasakti.

Ketika suatu galaksi menelan galaksi yang lebih kecil, galaksi itu pun menjadi lebih besar. Namun karena Bimasaksi dan Andromeda memiliki ukuran yang sama, hasil "pertarungannya" sulit diprediksi.

"Pada akhirnya, keduanya akan kalah karena mereka keduanya merupakan galaksi spiral yang indah," kata Profesor Lewis.

"Ketika keduanya saling mendekat, tarikan gravitasi timbal-balik akan menghancurkan mereka," tambahnya.

"Akibatnya, mereka akan menjadi sebuah galaksi tunggal yang baru, ukurannya jauh lebih besar, setelah tabrakan dalam tempo sekitar 4,5 hingga 5 miliar tahun mendatang," jelas Prof Lewis.


Ilustrasi benturan antara galaksa Bimasaksi (kanan) dan Andromeda (kiri) yang diprediksi bakal terjadi mengingat jaraknya yang relatif dekat dan peristiwa benturan galaksi sebelumnya. Supplied: NASA

Skenario lain akibat benturan ini, namun kecil kemungkinannya, yaitu Bumi akan hancur atau Matahari keluar dari lintasannya.

"Meski tidak mustahil, namun secara umum jarak bintang-bintang di suatu galaksi sangat jauh sehingga tabrakan langsung antar bintang jarang terjadi," jelas Mackey.

Namun, katanya, ada kemungkinan Matahari bisa terlempar keluar dari sistem Andromeda dan Bimasakti ke ruang intergalaksi.

Selain itu, setelah benturan dua galaksi ini, Bumi akan dekat dengan lintas bintang lain sehingga mengganggu orbit Bumi dan menjadikannya tidak dapat lagi mendukung kehidupan.

"Jadi tidak salah untuk mengatakan ada risiko dari benturan dua galaksi ini," tambah Mackey.

Keliru memahami gravitasi?

Temuan ini pada akhirnya juga dapat membantu menjelaskan distribusi materi gelap, atau dark matter.

Sejumlah rekan astronom Profesor Lewis meyakini keberadaan dua orbit Andromeda, baik vertikal dan horisontal, yang tak sesuai dengan pemahaman umum mengenai gravitasi saat ini.

Dia sendiri masih belum sepenuhnya yakin dengan hal itu.

"Sejumlah astronom meyakini bahwa kita sangat keliru memahami gravitasi," katanya.

"Klaim besar membutuhkan bukti besar dan jika kita mengatakan telah keliru soal gravitasi, maka perlu bukti yang luar biasa," ujarnya.

Diterbitkan ulang dari artikel ABC News.

LIHAT ARTIKEL ASLI >>

abc.net.au/news/indonesian 

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
10 September Terjadi ‘Kiamat Kecil’, Ratusan Masjid Hancur
Warga Ponorogo Hijrah karena Bisikan Kiamat, Khofifah: Yo Opo Rek
Fenomena Salju di Arab Saudi Tanda Kiamat Semakin Mendekat?
Subhanallah, Macam-Macam Kiamat Dijelaskan dalam Alquran dan Sains
Gempa Bumi sebagai Salah Satu Tanda Kiamat Dijelaskan Alquran dan Sains

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad