Home  / Internasional
Ramai-ramai Negara Barat `Kepung` China di LCS, Mau Perang?
Selasa, 23 Februari 2021 | 08:16:53
(Twitter/@FlorenceParli)
Foto: Kapal Selam Prancis
JAKARTA - Ekspansi China di wilayah Laut China Selatan (LCS) yang masih dalam sengketa membuat dunia internasional, khususnya negara-negara barat, meradang. Beberapa negara barat tercatat mengirimkan armada tempur lautnya ke perairan itu.

Dilansir VOA, Senin (22/2/2021), beberapa negara barat bergabung dengan Amerika Serikat (AS) untuk menahan China di kawasan jalur perdagangan yang sibuk itu. Bahkan ada yang berminat mengirimkan kapal induk. Menteri Pertahanan Prancis Florence Parly mengatakan pada awal Februari kalau Prancis telah mengirimkan kapal selam penyerang ke laut itu bulan ini.

Pengiriman kapal selam itu merupakan misi yang bertujuan untuk memperkuat hubungan Paris dengan mitranya seperti AS, Australia, dan Jepang

"Patroli luar biasa ini baru saja menyelesaikan satu bagian di Laut Cina Selatan. Bukti yang mencolok dari kemampuan Angkatan Laut Prancis kami untuk dikerahkan jauh dan untuk waktu yang lama sehubungan dengan mitra strategis Australia, Amerika, dan Jepang kami," ujar Parly dalam akun Twitter resminya.

Ia juga menambahkan bahwa misi itu untuk memperkuat kekokohan hukum internasional yang berada dalam perairan LCS yang sangat disengketakan itu,

"Mengapa misi seperti itu? Untuk memperkaya pengetahuan kita tentang bidang ini dan menegaskan bahwa hukum internasional adalah satu-satunya aturan yang berlaku, terlepas dari laut mana kita berlayar," kata Parly.

Inggris juga menggelar misi serupa. Seorang pejabat pertahanan Inggris mengatakan bulan lalu kelompok penyerang kapal induk utama Inggris itu siap memasuki jalur tersebut.

Selain tiga negara itu, sebuah kapal perang Angkatan Laut Kanada berlayar di dekat laut pada bulan Januari dengan melewati Selat Taiwan dalam perjalanannya untuk bergabung dalam latihan dengan angkatan laut Australia, Jepang, dan AS di LCS.

Sebelum beberapa negara itu, AS merupakan negara barat yang paling sering mengirimkan armada tempurnya ke lautan itu untuk misi "kebebasan navigasi." Bahkan baru-baru ini dua kapal induk AS, USS Theodore Roosevelt dan USS Nimitz, berlayar melewati Kepulauan Spratly untuk menggelar latihan militer bersama dalam operasi kebebasan navigasi di LCS.

Kegiatan yang diperintahkan Gedung Putih ini sempat ditentang China. Beijing mengatakan bahwa misi AS ini adalah misi yang sia-sia.

"Fakta menunjukkan bahwa menahan China adalah misi yang mustahil, dan hanya akan berakhir dengan menembak diri Anda sendiri," kata Juru Bicara Kementerian Pertahanan Wu Qian, bulan lalu.

LCS sedang menjadi potensi konflik global yang meluas. Sebab, China terus mengklaim 90% wilayah lautan itu miliknya dan melakukan ekspansi besar-besaran di lautan yang juga diklaim oleh beberapa negara-negara di Asia Tenggara.

Bahkan, China dilaporkan telah membangun kota seluas 800 ribu mil persegi salah satu kepulauan LCS yang disengketakan, Paracel. Kota itu dinamai Shansa. Kota itu memiliki luas 1.700 kali luas New York.

Di kota itu, China sudah membuat beberapa fasilitas kelas kota yang memiliki fasilitas seperti desalinasi air laut dan fasilitas pengolahan limbah, perumahan publik baru, jangkauan jaringan 5G, sekolah, dan penerbangan sewa reguler.

(CNBCIndonesia.com)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Gubri Diminta Beri Perhatian Terhadap Sengketa Lahan di Inhu
AS Tolak Hasil Temuan Penyelidikan COVID-19 oleh WHO di Wuhan
Gempa Magnitudo 7,1 Guncang Melonguane Sulawesi Utara
Agresifitas China Karena Fragmentasi Sikap Indonesia
LAPAN: Roket China yang Jatuh di RI Bawa Satelit Observasi

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad
free web site hit counter