Home  / Internasional
Penggerebekan Jurnalis oleh Intel, Media China: Australia Munafik Bicara Soal Kebebasan Pers!
Rabu, 9 September 2020 | 16:44:44
(foto: Getty Images)
Ketengangan Australia dan China meningkat setelah muncul dugaan intimidasi pada jurnalis dua negara.
BEIJING - Pemerintah China merespons tuduhan melakukan intimidasi pada jurnalis Australia. Beijing menyebut, pemerintah Australia pernah melakukan upaya merampas kebebasan pers serta pembungkaman beberapa jurnalisnya.

Pemerintah Australia baru saja memulangkan dua jurnalisnya yang bertugas di China, Senin (7/9/2020). Kedua Kedua wartawan itu adalah Bill Birtles dari Australian Broadcasting Corporation (ABC), dan; Michael Smith, koresponden Australian Financial Review (AFR).

Penarikan mereka dari China terjadi tak lama setelah otoritas negeri tirai bambu menahan seorang jurnalis terkenal asal Australia yang bekerja untuk jaringan TV CGTN, media milik Pemerintah China.

Insiden itu terjadi di tengah memburuknya hubungan diplomatik antara kedua negara, serta menyusul penahanan seorang warga Australia yang bekerja sebagai pembawa berita bisnis untuk CGTN, Cheng Lei, bulan lalu. Otoritas Tiongkok sampai hari ini tidak mengungkapkan alasan penahanan Chen.

Media pemerintah China merespons langkah Australia dengan menyebutnya sebagai bentuk kemunafikan. Xinhua menulis laporan yang mengungkap agen intelijen Australia melakukan penggerebekan rumah beberapa jurnalis China di negeri Kanguru pada 26 Juni lalu.

Saat itu, polisi maupun agen intelijen Australia menolak menjelaskan alasan penggerebekan itu serta meminta jurnalis China tutup mulut terkait insiden tersebut.

Sementara media pemerintah China lainnya, Global Times, mempublikasi tulisan yang mengklaim beberapa jurnalis China diinterogasi, serta perangkat komputer dan telepon mereka disita. Global Times mengaku mendapat informasi tersebut dari sumber tanpa nama yang dekat dengan masalah tersebut.

Laporan itu juga mengutip pendapat ahli anonim yang mengatakan "insiden itu mengungkap kemunafikan Australia dalam menegakkan apa yang disebut kebebasan pers", demikian yang dikutip dari BBC, Rabu (9/9/2020). 

Selama setahun terakhir, banyak jurnalis asing yang bekerja untuk perusahaan media Barat dipaksa meninggalkan China. Sebagian besar dari wartawan itu diusir lantaran izin kerja mereka dicabut atau tidak diperpanjang oleh otoritas negeri tirai bambu.

Klub Koresponden Asing China (FCCC) pada Senin (7/8/2020) mengungkapkan, penguasa Tiongkok telah mencatat rekor dengan mengusir 17 jurnalis asing dari negara itu sepanjang paruh pertama tahun ini saja.

Pengusiran itu terjadi di tengah memburuknya hubungan diplomatik antara China dan Amerika Serikat beserta sekutunya yang dipicu oleh berbagai isu, mulai dari masalah perdagangan hingga teknologi. Terakhir, konflik kedua pihak semakin meruncing tatkala China semakin membatasi hak-hak demokrasi di Hong Kong.

Hubungan antara China dan Australia mengalami peningkatan ketegangan setelah Canberra mendukung penyelidikan internasional mengenai asal-usul pandemi Covid-19.

(iNews.id)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Jepang Minta Solusi Damai Sengketa Laut China Selatan
Ronaldo: Insya Allah, Khabib Kalahkan Gaethje
Tensi AS-China Naik, USS Ronald Reagan ke Laut China Selatan
UFC 254: Khabib Tak Bisa Sembarang Banting Gaethje
Malaysia Tahan 6 Kapal China di Perairan Johor, 60 Orang Ditangkap

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad
free web site hit counter