Home  / Internasional
Penduduk Xinjiang Curhat di Medsos soal Lockdown oleh China
Selasa, 25 Agustus 2020 | 22:10:50
(GREG BAKER / AFP)
lustrasi etnis Uighur di Provinsi Xinjiang. Penduduk di provinsi Xinjiang mengeluhkan lockdown virus corona oleh pemerintah China yang dirasa terlampau ketat.
JAKARTA - Penduduk di provinsi Otonomi Khusus Uighur Xinjiang di kawasan barat laut China mengeluhkan penerapan penguncian wilayah (lockdown) akibat penyebaran virus corona (Covid-19) yang dirasa terlampau ketat melalui media sosial Weibo.

Dilansir AFP, Selasa (25/8), ratusan warga setempat membanjiri Weibo dalam beberapa hari terakhir, mereka mengeluhkan kondisi lockdown yang ketat.

Akibat aturan sensor yang diberlakukan secara ketat di China, beberapa komentar yang diunggah penduduk sudah dihapus. Namun, warganet kembali membanjiri media sosial mirip Twitter itu.

Pengguna Weibo juga membagikan sebuah foto yang memperlihatkan pintu yang disegel dengan linggis baja dan kunci yang dipasang oleh pekerja sosial.

"Mengapa prefektur tanpa kasus (virus) tidak bisa menghapus lockdown? Mengapa Anda perlu mengunci seluruh Xinjiang?" tulis salah satu pengguna Weibo dan memperoleh ribuan tanda suka.

"Pintu-pintu ditutup, ini membawa ketidaknyamanan yang sangat besar bagi para pekerja dan kehidupan orang-orang. Harga barang kebutuhan sehari-hari naik... banyak barang yang saya beli sudah kadaluarsa," tulis pengguna Weibo lainnya.

Hanya sedikit informasi yang dirilis oleh pihak berwenang tentang klaster Xinjiang. Sementara pemerintah daerah lain di China telah memberikan informasi tentang pergerakan pasien secara terperinci.

Foto-foto yang beredar di Weibo dan WeChat juga memperlihatkan orang-orang yang dirantai dengan borgol, sebagai hukuman karena mereka meninggalkan rumah di tengah lockdown.

Beberapa penduduk juga menulis bahwa mereka dipaksa oleh aparat untuk meminum obat dari pemerintah setiap hari dan mereka diharuskan merekamnya.

Sebuah video yang beredar pada 22 Agustus menunjukkan puluhan warga di ibu kota Urumqi berteriak dari jendela rumah mereka dengan putus asa.

Selain itu, pekerja migran yang terdampar, mahasiswa, pelancong bisnis, dan turis juga mengeluh karena tidak dapat meninggalkan Xinjiang.

China memang dilaporkan mampu mengendalikan penularan virus domestik melalui lockdown, pembatasan perjalanan, dan pengujian. Namun, wabah regional kembali muncul secara sporadis.

Sebuah klaster baru di Urumqi pada pertengahan Juli mendorong diberlakukannya pembatasan baru. Sebanyak 902 kasus terjadi dalam klaster tersebut.

Para pejabat setempat mengatakan awal bulan ini mereka "secara efektif menahan" penyebaran klaster di Urumqi dan tidak ada kasus baru yang dilaporkan dalam delapan hari terakhir. Namun, pada konferensi pers Kamis pekan lalu, pejabat kesehatan lokal di Xinjiang mengatakan situasi epidemi tetap "rumit dan parah".

Sekitar setengah dari lebih dari 21 juta orang di Xinjiang adalah etnis Uighur dan Muslim Turki. Banyak dari mereka mengeluhkan penindasan politik dan agama selama beberapa dekade oleh Partai Komunis yang berkuasa di China.

Hal itu dibantah oleh pemerintah China.

Aktivis menuduh pemerintah China memenjarakan sekitar satu juta orang Uighur dan orang Turki lainnya di kamp Xinjiang. Namun pemerintah China menggambarkan kamp itu sebagai pusat pelatihan kejuruan untuk melawan radikalisme.

(CNNIndonesia.com)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Tensi AS-China Naik, USS Ronald Reagan ke Laut China Selatan
Malaysia Tahan 6 Kapal China di Perairan Johor, 60 Orang Ditangkap
Survei: Perspektif Negatif tentang China Naik Drastis
Petugas Lapas Tangerang Tidur Saat Narapidana WN China Kabur
Laporan Lembaga Australia: China Hancurkan 16.000 Masjid di Xinjiang

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad
free web site hit counter