Home  / Internasional
Perempuan Tunisia Dihukum Penjara 6 Bulan karena Unggah Ayat Corona Meniru Al-Quran
Rabu, 15 Juli 2020 | 14:10:46
(foto: AFP)
Emma Charki, perempuan Tunisia dijatuhi hukuman penjara 6 bulan karena postingan-nya soal Covid-19 dan Al-Quran
TUNIS - Seorang perempuan di Tunisia dijatuhi hukuman penjara selama enam bulan serta didenda 2.000 dinar Tunisia (Rp10 juta) setelah mengunggah tulisan yang mengaitkan Al-Quran dengan Covid-19.

Pengadilan kota Tunis menyatakan Emma Charki bersalah karena dianggap menodai agama dan menuliskan "hasutan kebencian" dalam sebuah postingan satir pada 4 Mei lalu.

Dalam postingan di akun Facebook-nya, Charki menulis "Surah Corona" merujuk pada Al-Quran yang di dalamnya terdapat 114 surah menggunakan nama-nama berbeda.

Petikan "ayat" dalam Surah Corona yang ditulis Charki berbunyi, 'Tidak ada perbedaan antara raja dan budak, ikuti sains dan abaikan tradisi' dimaksudkan sebagai pengingat bahwa Covid-19 tidak pandang bulu serta menekankan pentingnya memperhatikan saran ilmuwan dalam langkah pencegahan.

Charki yang belum ditahan berencana mengajukan banding. Menurut perempuan 27 tahun, hukuman yang dijatuhkan padanya menunjukkan masih adanya pengekangan kebebasan berpendapat di Tunisia. Dia juga menganggap tuduhan menodai agama tidak masuk akal.

"Di negara dimana konstitusi menjamin kebebasan berekspresi dan hak-hak perempuan, mereka malah mengutuk saya, seorang perempuan bebas dalam keyakinan saya," kata Charki dikutip dari AFP, Rabu (15/7/2020).

Dakwaan yang dijatuhkan pengadilan pada Charki berdampak pada kehidupan sosialnya, dia dan ibunya terpaksa angkat kaki dari apartemen setelah pemilik mengusirnya.

"Masa depan anak perempuan saya hancur. Dia tidaka akan lagi dapat bekerja atau bahkan berjalan bebas," kata Emna, ibu Charki.

Kasus yang menimpa Charki mendapat perhatian dari anggota parlemen Tunisia, Bochra Belhaj Hmida. Bochra mengatakan apa yang dilakukan Charki sebagai bentuk menyalurkan kebebasan berpendapat.

Sedangkan, kata Bochra, negara gagal menerjemahkan amanat dalam undang-undang mengenai kebebasan individu yang diperjuangkan pegiat HAM sejak revolusi Arab pada 2011.

"Setelah semua yang dilakukan para pemuda Tunisia di negara ini, sulit dipercaya bahwa keputusan masih bisa diambil berdasarkan undang-undang anti-kebebasan yang sudah usang," kata Bochra.

"Seolah tidak ada yang berubah, sepuluh tahun setelah revolusi, serta enam tahun setelah debat besar tentang kebebasan individu," ujarnya merujuk pada UU 2014 yang menjamin 'kebebasan berkeyakinan, serta perlindungan agama.

Senada dengan Bochra, Amnesty International juga mengecam otoritas hukum Tunisia yang menjatuhkan sanksi kepada Charki. Organisasi itu menilai tulisan Charki di media sosial tak ubahnya sindiran lucu untuk mengolok-olok situasi penanganan Covid-19 di Tunisia.

"Tidak ada hasutan kebencian atau kekerasan. Postingan itu dimaksudkan untuk lelucon dan pengingat agar tetap di rumah dan mencuci tangan," tulis pernyataan Amnesty International.

Di Tunisia, Covid-19 telah menginfeksi lebih dari 1.300 orang dan merenggut 50 korban.

(iNews.id)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Update Corona 23 November 2020: Bertambah 4.442, Positif Covid-19 Tembus 502.110 Kasus
Update Covid-19 Riau: 171 Positif, 177 Sembuh
Covid RI Nyaris 500 Ribu, Ramalan Ngeri Awal Pandemi Terjadi?
Perempun Tani HKTI Tanam Serentak di Seluruh Indonesia Melalui Video Conference
Berikut Penjelasan Gubri Terkait 688 Kasus Positif Covid-19 di Riau

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad
free web site hit counter