Home  / Internasional
Kasus Covid-19 Terus Meningkat, Perempuan di India Dilarang Aborsi
Senin, 13 Juli 2020 | 16:18:45
(foto: AsianTimes)
Pemerintah India melarang perempuan aborsi di tengah tingginya kasus Covid-19
NEW DELHI - Di tengah tingginya kasus baru Covid-19, otoritas kesehatan India dihadapkan juga permintaan tingginya aborsi. Guna menjaga fokus tenaga kesehatan menangani pasien Covid-19, perempuan hamil sementara dilarang untuk menggugurkan kandungan.

Aborsi janin merupakan dampak dari budaya patriarki di India yang tidak menginginkan anak perempuan. Mulai 1990-an akibat ketersediaan teknik USG, perempuan hamil di India memilih untuk menggugurkan kandungan ketimbang 'berjudi' mengenai jenis kelamin anak yang tengah dikandungnya. Berdasarkan penelitian diperkirakan terdapat 15,6 juta kasus aborsi di India setiap tahunnya.

Dilansir dari Reuters, Senin (13/7/2020), angka aborsi di India sepanjang pandemi Covid-19 dalam rentang Januari-Juni yakni 1,85 juta. Fakta ini terbilang rendah dalam kurun waktu setengah tahun jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Tren tersebut belakangan diketahui akibat pembatasan pelayanan aborsi secara medis di fasilitas kesehatan selama pemberlakukan lockdown akibat Covid-19. Otoritas kesehatan India menyarankan warga agar menggunakan alat kontrasepsi atau mengonsumsi pil penggugur kandungan sebagai cara aborsi.

Sebagai informasi, ada dua cara aborsi yang umum di India. Pertama meminum pil penggugur kandungan namun pilihan tersebut kerap tidak memberikan hasil yang diharapkan. Sedangkan, cara kedua adalah menjalanin aborsi secara medis.

"Dalam trimester pertama, saya mendengar ada kasus penolakan aborsi di rumah sakit pemerintah. Para dokter akan meminta mereka untuk menunggu beberapa pekan lagi. Kami harus menemukan dokter lain yang bisa membantu perempuan ini," kata Dr Shilpa Shroff dari Kampanye Aborsi Aman Asia.

Permasalahan lainnya muncul, perempuan hamil dari keluarga miskin kerap mengambil jalan pintas dengan melakukan aborsi medis secara mandiri tanpa edukasi yang memadai. Hal ini berpotensi menimbulkan penyakit atau infeksi rahim bagi perempuan yang melakukannya.

"Dia (perempuan) marah dan menangis. Kami merujuknya ke rumah sakit pemerintah terdekat, tahu betul bahwa kebanyakan akan membiarkannya. Sebagian besar klien kami mengeluhkan hal itu," jelas Vijaylaxmi Rao yang menjalankan Klinik Asosiasi Keluarga Berencana.

"Banyak perempuan dari komunitas pertanian dan tidak ingin memiliki anak lagi. Sekarang mereka dipaksa untuk melanjutkan kehamilan mereka," lanjutnya.

India berada di urutan ketiga negara dengan kasus Covid-19 tertinggi di dunia, data hari Minggu (12/7/2020) kemarin mencatat angka infeksi di negara tersebut menyentuh 849.553 dengan kematian sebanyak 22.674.

(iNews.id)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Personil Polsubsektor Pelalawan Cegah Covid-19 Dengan Rutinkan Ops Yustisi
Untuk Cegah Covid-19, Polsek Teluk Meranti Lakukan Himbauan Adaptasi Kebiasaan Baru
Polsek Pangkalan Kuras Berantas Covid-19 Dengan Lakukan Operasi Yustisi
Tahap Pencegahan Covid-19, Polsek Bunut Terus Lakukan Ops Yustisi
Tekan Penyebaran Covid-19, Polsek Kerumutan Terus Gelar Ops Yustisi

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad
free web site hit counter