Home  / Internasional
Emon Ditangkap Polisi karena Diduga Menjelek-jelekkan Pemerintah di Medsos
Rabu, 24 Juni 2020 | 23:04:05
(Foto: iNews.id)
Media sosial Facebook (ilustrasi).
DHAKA - Seorang anak laki-laki berusia 15 tahun ditangkap polisi karena mengkritik Perdana Menteri Bangladesh, Sheikh Hasina, di media sosial Facebook. Bocah bernama Mohammad Emon itu menjadi orang terbaru yang dianggap melanggar Undang-Undang Keamanan Digital (mirip dengan UU ITE di Indonesia) yang kontroversial.

Para pegiat HAM menilai UU itu digunakan penguasa untuk membungkam perbedaan pendapat di kalangan rakyat. Ada ratusan orang didakwa melanggar UU itu sejak 2018, termasuk mereka yang dianggap mencoreng citra Hasina dan tokoh politik senior lainnya.

Kepolisian Sektor Bhaluka di Kota Mymensingh menyatakan, mereka menangkap Emon pada akhir pekan lalu. Emon ditangkap setelah seorang pejabat setempat dari partai berkuasa melaporkan bahwa remaja itu telah menghina Hasina. "Dia (Emon) menjelek-jelekkan pemimpin yang sudah seperti ibu kita (Hasina)," ujar polisi menirukan ucapan pejabat itu seperti dikutip AFP, Rabu (24/6/2020).

Lewat akun Facebook-nya, remaja itu diduga menulis bahwa dari 100 taka Bangladesh (Rp16.700) dibayarkan dalam pajak ponsel baru, 35 hingga 25 persen harus diberikan kepada Sheikh Hasina sebagai "tunjangan janda" karena suaminya sudah tidak ada lagi. Untuk sekadar diketahui, Suami Hasina meninggal dunia pada 2009.

Politikus lokal yang melaporkan Emon, Tofayel Ahammed, mengatakan bahwa pernyataan agresif remaja itu telah membuat penduduk setempat gelisah. Tambahan lagi, orang tua Emon adalah pendukung kelompok oposisi utama, yaitu Partai Nasionalis Bangladesh.

Kepala kepolisian setempat, Main Uddin menuturkan, Emon telah menghapus unggahan tersebut dari laman Facebook-nya. Remaja itu kemudian juga menulis permintaan maafnya lewat akun medsos yang sama.

Namun, bocah itu tetap akan dikirim ke pusat rehabilitasi. "Di sana dia akan menghabiskan waktu untuk menyadari kesalahan dan memperbaiki perilakunya," ucap Uddin.

Amnesty International menilai penangkapan Emon semakin memperlihatkan bahaya Undang-Undang Keamanan Digital. LSM itu menyebut UU itu sebagai senjata untuk membungkan perbedaan pendapat yang sah, di samping melanggar kebebasan berekspresi.

"Pihak berwenang semakin gencar menyasar siapa saja yang memberikan kritik paling lemah terhadap pemerintah atau partai yang berkuasa," kata juru kampanye Amnesty International, Saad Hammadi, kepada AFP.

Dalam beberapa pekan terakhir, Undang-Undang Keamanan Digital juga digunakan untuk menangkap sejumlah orang di Bangladesh yang dituduh menyebarkan hoaks tentang virus corona (Covid-19).

Dalam sepekan terakhir saja, seorang profesor universitas dan satu dosen ditangkap karena dituduh telah mengolok-olok kematian mantan menteri kesehatan Bangladesh akibat wabah virus corona. Kebetulan, mantan menteri itu juga berasal dari partai berkuasa di Bangladesh.

(iNews.id)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Mabes Polri Tangkap 4 Remaja yang Coba Tipu Kaesang di Medsos
Kantongi Identitas, Polisi Buru Pengemudi Pajero Maut Tewaskan Pesepeda
Polisi Tangkap 3 Orang Komplotan Jambret di Pekanbaru, 1 di Dor, 2 DPO
Novel Baswedan Kritik Hukum di Era Jokowi: Bisa Diatur Cukong
Danjen Akademi TNI: Capratar Akademi TNI dan Cabhatar Akademi Kepolisian Generasi Muda Terbaik Pilihan Bangsa

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad
free web site hit counter