Home  / Internasional
WHO Warning Negara yang Klaim Kasus COVID-19 Menurun, Kenapa?
Selasa, 26 Mei 2020 | 08:25:28
(Dok: WHO)
Foto: Kantor WHO.
JAKARTA - Jangan senang dulu jika angka infeksi virus corona di sebuah negara menurun. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan jika angka kasus terinfeksi penyakit COVID-19 di negara yang menurun, kemungkinan besar akan ada gelombang kedua (second wave) yang mengikuti.

Direktur Eksekutif Program Darurat WHO Mike Ryan pada Senin (26/5/2020) mengatakan jika dunia masih berada di tengah-tengah gelombang pertama dari penyebaran COVID-19. Sehingga akan berpotensi menghadapi gelombang kedua.

Kasus menurun diklaim sudah terjadi di Amerika Tengah, Amerika Selatan, Asia Selatan, dan Afrika. Namun ini harus jadi 'perhatian khusus' para pemimpin negara.

"Ketika kita berbicara tentang gelombang kedua, secara klasik adalah gelombang pertama penyakit yang akan kambuh berbulan-bulan kemudian. Ini mungkin dapat menjadi kenyataan bagi banyak negara dalam waktu beberapa bulan (mendatang), " kata Ryan, dikutip dari Reuters.

Kemungkinan terjadinya gelombang kedua sangat berpengaruh oleh kebijakan atau keputusan yang diambil oleh pemerintah negara tersebut. Jika salah mengambil keputusan atau beranggapan bahwa penyebaran virus dengan nama resmi SARS-CoV-2 telah usai, maka potensi gelombang kedua akan lebih besar.

"Tetapi kita juga harus menyadari fakta bahwa penyakit ini dapat melonjak kapan saja. Kita tidak dapat membuat asumsi bahwa hanya karena penyakitnya sedang menurun. Kita mendapatkan beberapa bulan untuk bersiap-siap untuk gelombang kedua. Kita mungkin mendapatkan puncak kedua dalam gelombang ini." lanjutnya.

Ryan mengatakan negara-negara di Eropa dan Amerika Utara harus terus menempatkan kesehatan masyarakat dan aturan jarak sosial, pengawasan, pengujian dan strategi yang komprehensif. "Untuk memastikan bahwa angka terus menurun dan kita tidak memiliki gelombang kedua," katanya.

Banyak negara Eropa dan negara-negara bagian AS telah mengambil aturan dalam beberapa pekan terakhir untuk melonggarkan penguncian (lockdown). Lesunya ekonomi menjadi salah satu penyebab.

Sementara itu, WHO mengumumkan menangguhkan sementara penggunaan hydroxycholoroquine (hidroksiklorokuin), yang diklaim Presiden AS Donald Trump bisa mengobati COVID-19.

"Grup Eksekutif telah menghentikan sementara hidroksiklorokuin dalam "Uji Coba Solidaritas (yang dilakukan WHO dengan sejumlah negara) karena data keselamatan yang ditinjau oleh dewan pemantau," ujar Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus sebagaimana ditulis CNBC International.

Masalah keamanan menjadi penyebab. Meski obat ini aman untuk penderita malaria dan autoimun, namun tidak begitu bagi pasien COVID-19.

Sebelumnya penggunaan hidroksiklorokuin beserta obat lainnya klorokuin, diperkenalkan Trump di awal Maret lalu. Bahkan baru-baru ini, ia berujar mengonsumsi obat itu untuk menghindari COVID-19.

Kini COVID-19 sudah menjangkit 5.582.404 orang di seluruh dunia. Menurut data Worldometers ada sebanyak 347.563 meninggal dan 2.361.082 berhasil sembuh.


(CNBCIndonesia.com)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Gubernur Riau Paparkan Penanganan Covid-19 di Forum Diskusi PMRJ
Seks Bebas saat Karantina Jadi Pemicu Tingginya Kasus Baru Covid-19 di Melbourne
Riset Terbaru, Ada Pengaruh Covid-19 dengan Kerusakan Otak
WHO Ungkap Laporan Pertama Virus Corona Bukan dari China
Skandal Seks di Karantina Picu Lonjakan Kasus Covid Australia

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad
free web site hit counter