Home  / Internasional
Sst.. China Dikabarkan Timbun Makanan & Minyak, Untuk Apa?
Rabu, 20 Mei 2020 | 18:50:33
(CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: Ilustrasi Penjualan Buah
JAKARTA - Di tengah pandemi virus corona (COVID-19), China dikabarkan telah menimbun bahan pangan dan energi. Penimbunan minyak dilakukannya di saat harga minyak mentah sedang turun dan jauh sebelum pandemi corona mengganggu pasokan.

Sementara alasan menimbun makanan adalah karena negara asal wabah COVID-19 tersebut memiliki lahan subur yang terbatas. Termasuk juga karena harga makanan mulai naik lebih tinggi tahun lalu.

Upaya penguncian (lockdown) yang diterapkan untuk membendung penyebaran wabah, juga telah membuat transportasi dan logistik tidak bisa beroperasi sebagaimana mestinya. Upaya lockdown yang banyak diterapkan negara lain juga telah menimbulkan ancaman akan terjadinya gangguan rantai pasokan global.

Oleh karenanya, isu kekurangan pangan telah menjadi salah satu hal yang paling mengkhawatirkan bagi banyak negara, baik di negara maju maupun negara berkembang. Konsumen di China juga khawatir tentang dampak lanjutan dari pandemi karena terus menyebar secara global.

"Orang-orang di sana (di China) panik karena virus corona pada akhirnya akan menutup pelabuhan dunia, sehingga tidak mungkin bagi mereka untuk mengimpor," kata Arlan Suderman, Kepala Ekonom Komoditas untuk INTL FCStone dalam sebuah tweet, sebagaimana ditulis CNBC International.

"Karena itu, mereka menimbun persediaan sekarang saat masih murah dan tersedia."

"Ketakutan adalah motivator yang kuat. Ini yang mendorong kebijakan di China saat ini. Cocok dengan keinginan untuk membangun kembali cadangan makanan."

Bukti China menimbun makanan terlihat dari tingginya impor daging ke negara itu pada empat bulan pertama tahun ini. Pada periode itu, impor daging di negara itu naik 82% dibandingkan tahun lalu. Ini sudah termasuk daging babi, sapi, dan unggas.

"Kami memperkirakan penimbunan makanan terus berlanjut terutama di kota-kota yang terpapar gangguan logistik. Berbagai faktor seperti kenaikan harga pangan yang diproyeksikan, serta kontraksi ekonomi dan meningkatnya pengangguran akan meningkatkan risiko kerusuhan sipil," kata Kaho Yu, analis risiko senior Asia di lembaga konsultasi Verisk Maplecroft.

Sebelumnya pada Selasa lalu, China telah mengumumkan bahwa harga pangan naik 14,8% pada April dari tahun lalu. Meskipun lebih rendah dari kenaikan 18% di bulan Maret, itu masih tergolong tinggi.

Sebagai perbandingan, harga non-makanan naik hanya 0,4% pada bulan April, menurut data resmi pemerintah.

Mengenai beras, China adalah produsen biji-bijian pokok terbesar di dunia dengan sebagian besar pasokannya dikonsumsi di dalam negeri.

Meski begitu, kekhawatiran tentang keamanan pangan biji-bijian pokok telah menyebabkan pembelian dalam jumlah besar (panic buying) dan mendorong negara untuk memperoleh lebih banyak stok dari pasar untuk cadangan nasionalnya.

"Kami memproyeksikan China terus menimbun pangan untuk memastikan pasokan yang cukup selama enam bulan ke depan dengan menjelajahi dunia untuk [memastikan] pasokan tersedia," kata Yu dalam sebuah laporan baru-baru ini.

Timbun Minyak

China juga telah membangun cadangan minyak mentahnya, dan terus melakukan pembelian pada kuartal pertama tahun ini, menurut data.

Meskipun impor minyak mentah turun di bulan April dibandingkan tahun lalu, angkanya masih naik dibandingkan bulan Maret. Tetapi analis mengatakan fasilitas penyimpanan yang terbatas dapat membatasi impor.

"Para importir minyak mentah utama seperti China telah dikenal untuk menambah cadangan strategis mereka ketika harga rendah, seperti yang terlihat dalam penurunan harga minyak sebelumnya," kata Lei Sun, konsultan senior di Wood Mackenzie, dalam sebuah laporan Maret. "China diperkirakan akan terus mengimpor minyak mentah untuk mengisi cadangannya dengan mengambil keuntungan dari harga minyak yang lebih rendah."

Namun, negara ini memiliki lebih sedikit ruang untuk mengimpor daripada dalam dua tahun terakhir, karena keterbatasan kapasitas penyimpanan, katanya.

Karena jalur pasokan terus terganggu akibat wabah virus corona, Yu mengatakan dia memperkirakan China akan meningkatkan kapasitas penyimpanannya.

"Energi juga merupakan inti dari mesin ekonomi negara itu. Sepanjang pandemi, Beijing telah memprioritaskan mempertahankan pasokan batubara yang stabil dengan memperhatikan pembangkit listrik untuk kegiatan industri," kata Yu. "Kami juga mengharapkan China untuk mempercepat dimulainya kembali proyek infrastruktur energi skala besar."

(CNBCIndonesia.com)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Penikaman di Supermarket, 3 Orang Tewas dan 7 Terluka
India Sebut China Kerahkan Militer di Daerah Perbatasan
Makin Memanas! China Kirim Jet Tempur ke Perbatasan India
Dokter RS Wuhan Meninggal Kena Corona Bertambah
Cabut Hak Istimewa Hong Kong, Ini Balasan Terbaru China ke AS

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad