Home  / Internasional
China Ngamuk, Boikot Produk Australia, Perang Dagang Baru?
Rabu, 20 Mei 2020 | 13:38:57
AP/Mark Schiefelbein
Foto: File Photo: Menteri Luar Negeri Australia Marise Payne mendengarkan pertanyaan wartawan saat konferensi pers bersama dengan Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi di Guesthouse Negara Diaoyutai di Beijing, Kamis, 8 November, 2018.
JAKARTA - China sepertinya makin gencar "menyakiti" Australia. Bukan hanya sapi dan gandum, China disebut tengah mempertimbangkan "sejumlah hukuman" bagi barang ekspor lain.

Di antaranya produk susu, makanan laut, oatmeal, dan buah-buahan, termasuk anggur. Sebagaimana ditulis Bloomberg dan The Print hal ini diungkapkan sumber yang dekat dengan masalah ini.

China disebut menyusun draf potensial yang bisa membuat produk Australia diperiksa lebih ketat, terkena penyelidikan anti-dumping dan dikenai tarif tambahan. "Media pemerintah juga bisa mendorong boikot konsumen," tulis Bloomberg mengutip sumber, Selasa (19/5/2020).

China melakukan hal ini lantaran Australia, yang didukung Amerika Serikat dan 101 negara lainnya, berencana melakukan penyelidikan independen asal-usul virus corona (COVID-19). Pemerintah China tidak terima dan mengancam pemboikotan komoditas Australia.

Kantor Menteri Perdagangan Australia Simon Birmingham menolak berkomentar. Meski demikian, sebelumnya Australia mengatakan berencana melaporkan China ke WTO.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri China juga tidak membahas secara spesifik daftar tersebut. Tetapi mengatakan pemerintah "selalu berusaha mencari titik temu untuk mencapai hasil win-win solution dengan negara lain.

"Kami berharap pihak Australia dan China dapat bertemu di tengah, mengambil lebih banyak langkah untuk meningkatkan hubungan bilateral dan memperdalam rasa saling percaya dan memberikan kondisi dan suasana yang menguntungkan," kata Kementerian Luar Negeri China, dikutip dari The Print.

Sebelumnya, China sudah menangguhkan impor dari empat pemasok daging sapi utama Australia. Yakni Kilcoy Pastoral Company, Beef City, Dinmore dan Northern Cooperative Meat Company.

Keempat pemasok tersebut menghasilkan sekitar 35% dari ekspor daging Australia ke China. Nilainya mencapai US$ 1,1 miliar.

Bukan hanya daging, China juga menetapkan tarif hukuman dengan lebih dari 80% pada impor gandum Australia. China menuding Australia melakukan dumping.

Hubungan China dan Australia yang semakin memanas ini sudah berlangsung sejak 2018 lalu. Di 2019, China juga sempat memperingatkan Australia karena kritik pada penanganan etnis Uighur di Xinjiang.

Menurut data Parliament of Australia, China adalah pasar bagi sejumlah komoditas Australia. Seperti bahan wol, gandum, termasuk sejumlah batu bara, bijih besi dan gas.

China juga tujuan luar negeri terbesar Australia untuk anggur dan produk susu. Dengan pengiriman masing-masing meningkat menjadi US$ 754 juta dan US$ 564 juta.

China pun menjadi pasar bagi sejumlah produk manufaktur yang komplek seperti perangkat medis dan pariwisata. Namun dari segi investasi, proporsi China hanya 3% dari seluruh total investasi asing di Australia atau menduduki peringkat kesembilan.

(CNBCIndonesia.com)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Kasus Merah Putih Berpalu Arit di Unhas Naik ke Penyidikan
New Normal, Masjid Raya An Nur Provinsi Riau Kembali Dibuka
JK: Masjid Boleh Dibuka jika PSBB Berakhir
Gubri Minta RT/RW Perketat Pengawasan Warga yang Datang Dari Luar Daerah
Muhammadiyah Sarankan Jokowi Redakan Kegaduhan Politik

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad