Home  / Internasional
Kasus Corona Makin Parah, Italia Minta Bailout Uni Eropa
Jumat, 20 Maret 2020 | 20:35:38
Foto: REUTERS/Alessandro Bianchi
JAKARTA - Perdana Menteri Italia Giuseppe Conte meminta Uni Eropa menggunakan dana penyelamatan bailout untuk mengurangi dampak gejolak ekonomi dari pandemi virus corona (COVID-19) menyusul jumlah kematian akibat corona di Negeri Pizza itu kini terbanyak di dunia, melewati China.

Italia kini bergulat dengan jumlah kasus virus corona terbanyak di Eropa. Korban tewas sudah mencapai 3.405 jiwa, dengan 41.000 lebih kasus, melampaui jumlah kasus kematian di China yakni 3.253 jiwa.

Kepada Financial Times pada Kamis, dikutip CNBC International, Conte mengatakan dalam konteks perang melawan virus corona, "waktu adalah kuncinya".

Negara di Eropa selatan ini sudah dikunci alias lockdown selama lebih dari seminggu, dengan populasi warga Italia hanya diperbolehkan pergi ke apotek dan toko kelontong.

Virus ini juga membuat ekonomi Italia macet. Bahkan konsensus di antara para ekonom memperkirakan bahwa ekonomi Roma tidak akan dapat lepas dari resesi pada tahun 2020 ini.

Conte mengatakan bahwa UE harus menggunakan dana senilai 500 miliar euro atau setara US$ 539 miliar (sekitar Rp 8.085 triliun), yang dikumpulkan sejak puncak krisis utang di Eropa dalam satu dekade terakhir, untuk menyelamatkan negara-negara yang terkena dampak corona, termasuk Italia.

"Langkah yang harus diambil adalah membuka jalur kredit ESM [Mekanisme Stabilitas Eropa/European Stability Mechanism] ke semua negara anggota untuk membantu mereka melawan epidemi COVID-19, tentu dengan akuntabilitas penuh setiap negara anggota soal pengeluaran dana talangan tersebut," kata Conte.

Menteri Keuangan Italia Roberto Gualtieri juga menegaskan pada Jumat bahwa di tengah kondisi pandemi ini, Uni Eropa perlu memakai alat-alat ekonomi dengan cara yang "inovatif."

"Kita harus melihat bahwa masing-masing negara di Uni Eropa bisa memakai dana sekuritas, dalam kondisi yang sama dan harus bertujuan untuk melawan virus corona dan konsekuensi ekonominya," kata Gualtieri kepada koran Italia, Il Corriere della Serra, dikutip Reuters.

Gualtieri juga bukan yang pertama kali mencetuskan adanya kemungkinan penerbitan surat utang bersama di Eropa atau Eurobonds. Para pemimpin Eropa secara singkat juga sempat memperdebatkan kemungkinan penerbitan obligasi global tersebut sejak Selasa lalu.

Penerbitan surat utang ini sangat sensitif karena Eurobond secara teknis akan menggabungkan utang negara-negara Eropa menjadi satu ikatan bersama. Kendalanya, negara-negara yang lebih sehat secara fiskal tidak ingin utang mereka dikaitkan dengan utang negara-negara yang 'kurang sehat' secara ekonomi.

Sebab itu, permintaan Italia ini kemungkinan akan diterima dengan beberapa skeptisisme.

Negara-negara seperti Belanda, Jerman dan Finlandia telah mewaspadai integrasi lebih lanjut soal ekonomi Eropa saat corona ini. Secara keseluruhan, negara-negara yang secara fiskal lebih konservatif enggan berbagi kebijakan fiskal dengan negara-negara lain yang cenderung rentan secara ekonomi.

Florian Hense, ekonom Eropa di Berenberg Bank, mengatakan kepada CNBC melalui email bahwa "tidak akan mudah" untuk mendapatkan lampu hijau penerbitan "obligasi corona" yang merupakan upaya bersama Uni Eropa untuk membiayai ekonomi negara anggota yang terkena virus.

Namun, "jika [Kanselir Jerman Angela] Merkel ingin aktif membuat keputusan untuk itu [obligasi Eurobond], itu bisa terjadi," kata Hense.

(CNBCIndonesia.com)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Wander Luiz Positif Corona, Tukang Cukur Rambut Ikut Panik
Satgas Yonif 411 Kostrad Bersama Lintas Sektoral Sota Gencarkan Sosialisasi Pencegahan Covid-19 di Perbatasan
Sempat Sesak Nafas, PDP Corona di Ketapang Meninggal Dunia
Bukan RI, WHO Pilih Malaysia buat Uji Coba Obat Corona
Earth Hour 2020, Matikan Lampu Saat Diam di Rumah di Tengah Pandemi Corona COVID-19

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad