Home  / Internasional
WHO Naikkan Status Risiko Corona ke Level Tertinggi
Sabtu, 29 Februari 2020 | 15:14:17
Foto: CNBC Indonesia TV
JAKARTA - Organisasi Kesehatan Dunia (The World Health Organization/WHO) pada hari Jumat (28/2/2020) waktu Swiss, kembali menaikkan status risiko dari virus corona ke level tertinggi. ini dilakukan setelah epidemi itu menyebar ke sub-Sahara Afrika dan membuat pasar keuangan merosot.

WHO menilai, virus ini telah menjamur di seluruh dunia selama sepekan terakhir, dan muncul di setiap benua kecuali Antartika. Ini mendorong banyak pemerintah dan pelaku usaha melakukan pelarangan warganya untuk bepergian atau berkumpul di tempat-tempat ramai.

WHO mencatat, virus ini telah menewaskan lebih dari 2.800 orang dan menginfeksi lebih dari 84.000 di seluruh dunia. Jumlah ini sebagian besar berasal dari China.

Namun, tidak hanya di China, yang membuat kekhawatiran adalah bagaimana virus ini menyebar dengan cepat ke negara-negara lain yang tidak hanya di asia tapi hingga ke AS dan Eropa. Dalam 24 jam terakhir, telah menginfeksi ke sembilan negara baru, mulai dari Azerbaijan ke Meksiko hingga ke Selandia Baru.

"Kami sekarang telah meningkatkan status tentang risiko penyebaran dan risiko dampak COVID-19 hingga 'sangat tinggi' di tingkat global," ujar ketua WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus kepada wartawan seperti dikutip melalui AFP, Sabtu (29/2/2020).

Disisi lain, investor global mulai menarik semua investasinya di banyak negara karena takut akan penyebaran virus ini. Ini membuat pasar keuangan dunia menjadi yang terburuk selama pekan ini sejak krisis keuangan pada 2008 lalu.

Gubernur Bank Sentral AS (The Fed) Jerome Powell mengatakan, bank sentral siap untuk melakukan intervensi jika diperlukan, mengingat risiko "berkembang" untuk ekonomi terbesar di dunia yang ditimbulkan oleh wabah mematikan tersebut.

Negara-negara di dunia pun telah melakukan langkah dalam mewaspadai virus corona ini. Misalnya Swiss yang telah membatalkan semua pertemuan lebih dari 1.000 orang, dan Arab Saudi melarang sementara untuk melakukan Umroh ke Mekah dan Madinah.

"Ini bukan saatnya untuk panik. Ini saatnya untuk bersiap - siap sepenuhnya," kata Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres.

Langkah-langkah ini dilakukan oleh negara-negara karena jumlah yang terinfeksi dan kematian akibat virus ini semakin meningkat. Meski di China telah dilakukan karantina dan ada juga yang telah sembuh dari virus ini.

Namun, di negara lain masih banyak yang terjangkit seperti di Iran, Italia dan Korea Selatan. Dengan penambahan ini, sudah tercatat sekitar 58 negara yang sudah terjangkit virus ini.

"Kami melihat sejumlah negara berjuang dengan pencegahan," kata Michael Ryan, kepala program kedaruratan kesehatan WHO.

WHO pun telah menyuarakan keprihatinan khusus tentang kesiapan Afrika, memperingatkan bahwa sistem perawatan kesehatan di benua itu tidak diperlengkapi untuk menghadapi penyebaran COVID-19.

Sebelumnya telah dilaporkan di Mesir dan Aljazair mulai terjangkit, tetapi tidak di wilayah sub-Sahara sampai Jumat ketika Nigeria melaporkan kasus pertamanya.

Di Iran, sumber sistem kesehatan yang tidak disebutkan namanya mengatakan kepada BBC bahwa setidaknya 210 orang telah meninggal karena virus corona, jauh melebihi angka kematian resmi 34. Tetapi seorang juru bicara kementerian kesehatan dengan marah membantah angka itu.

(cnnindonesia.com)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Berikut Riwayat Perjalanan 12 Kasus Positif Corona di Riau
Malaysia Sembuhkan 236 Pasien Corona Sehari, RI 12 Orang
Google Luncurkan Pusat Berita Khusus Corona Covid-19
Sejumlah Film Soal Wabah Corona Mulai Digarap
Pasien Corona di Jambi Nekat Pulang, Tim Jemput Balik ke RS

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad