Home  / Internasional
Resesi Dunia Diramal Datang 6 Bulan Lagi, Percaya?
Sabtu, 8 Februari 2020 | 23:17:02
Foto: Arie Pratama
JAKARTA - Resesi ekonomi sedang membayangi sejumlah negara pada pertengahan tahun 2020. Sentimen ini kembali mencuat setelah Hong Kong merilis data pertumbuhan ekonomi sepanjang triwulan keempat 2019, perekonomian Hong Kong tercatat tumbuh negatif alias terkontraksi sebesar 0,4% secara kuartalan.

Melansir Investopedia, resesi sendiri merupakan penurunan aktivitas ekonomi yang sangat signifikan yang berlangsung selama lebih dari beberapa bulan. Suatu negara dapat dikatakan mengalami resesi bila dalam dua triwulan berturut-turut Produk Domestik Bruto (PDB) tumbuh negatif.

Pada kuartal II-2019, perekonomian Hong Kong tercatat terkontraksi sebesar 0,5% secara kuartalan, disusul oleh kontraksi sebesar 3,2% pada kuartal III-2019. Gelombang demonstrasi yang berkepanjangan menjadi faktor utama yang menempatkan Hong Kong ke dalam jurang resesi.

Penelitian yang dipublikasikan MIT Sloan School of Management dan State Street Associates, menyatakan, potensi terjadinya resesi dunia pada paruh pertama tahun 2020 prognosanya mencapai 70%.

Sebagaimana dikutip dari CNBC International, penelitian ini menggunakan pendekatan pengukuran jarak mahalanobis, untuk menentukan bagaimana kondisi pasar saat ini dibandingkan dengan sebelumnya.

Dengan menggunakan prinsip ini, peneliti menganalisa empat faktor pasar. Yakni produksi industri, upah non pertanian, pengembalian pasar saham, dan kurva imbal hasil.

Analisis dilakukan setiap bulan. Mereka mengukur bagaimana hubungan antara empat faktor tersebut dengan sejarah masa lampau.

"Melihat data tahun 1916 (resesi pasca Perang Dunia I) para peneliti mengatakan bahwa indeks dari keempat indikator resesi naik dari sebelumnya," tulis CNBC International, Jumat (7/2/2020).

"Dari perhitungan yang dilakukan, akhirnya mereka mendapatkan hasil, indeks resesi mencapai 70% dalam enam bulan ke depan."

Meski demikian, sebenarnya sejumlah indikator ekonomi di Amerika Serikat masih baik-baik saja. Ekonomi AS misalnya tumbuh 2,1% pada kuartal-IV 2019 dan 2,3% selama setahun kemarin.

Ditandatanganinya kesepakatan dagang AS-China Januari lalu juga menimbulkan kepastian di pasar. Belum lagi data lokal AS, seperti gaji swasta yang naik bahkan tertinggi sejak Mei 2015.

"Latar belakang fundamental mendukung pandangan kami," kata Kepala Strategis Ekuitas Global dan Eropa JP Morgan dalam sebuah catatan.

"Pandangan kami tetap pada dasar tidak seharusnya kita mengharapkan resesi (terutama) menjelang Pemilu AS."

(cnbcindonesia.com)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Bukan Menakuti, tapi IMF Sebut Dunia Kini Masuki Resesi
Tertinggi di Dunia, Corona di AS Capai 100.000 Kasus
2 Dokter Suspect Corona Covid-19 Meninggal Dunia
Malaysia Tangkap dan Karantina 12 Jamaah Ijtima Dunia di Gowa
2 Orang Status PDP Corona di Malang Meninggal Dunia

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad