Home  / Internasional
Wew! Babi Korut Bikin Korsel Kirim Penembak Jitu, Kok Bisa?
Kamis, 17 Oktober 2019 | 15:06:03
REUTERS / Maxim Shemetov
Foto: Babi mini terlihat selama presentasi di Balashikha, Rusia 11 Desember 2018. Foto diambil 11 Desember 2018.
JAKARTA - Korea Selatan benar-benar kalang kabut menghadapi masalah wabah demam babi Afrika (ASF). Pasalnya, seperti China, negara ini juga merupakan salah satu konsumen dan produsen daging babi terbesar dunia.

Akibat wabah demam babi, Korea Selatan telah memusnahkan sekitar 154.500 babi dalam sebulan terakhir. Semua babi yang dimusnahkan itu berada di peternakan dekat perbatasan Korea Utara.

Negara yang dipimpin Kim Jong Un itu sendiri, juga memiliki cukup banyak peternakan babi. Pejabat Korea Selatan mengatakan Korea Utara memiliki sekitar 2,6 juta babi di 14 peternakan yang dikelola pemerintah atau koperasi sebelum wabah penyakit menyebar.

Sayangnya, Korea Utara enggan untuk pusing-pusing mengurus masalah wabah babi ini. Padahal agen mata-mata Korea Selatan mengatakan bahwa kawanan babi di satu provinsi Korea Utara telah dimusnahkan dan harga daging babi di pasar di sana telah melonjak.

Korea Utara untuk pertama kali melaporkan wabah ini pada Mei, setelah banyak babi dimusnahkan di negara tetangganya, China. Saat itu, Korea Utara mengatakan kepada Organisasi Kesehatan Hewan Dunia bahwa 77 dari 99 babi di sebuah peternakan di provinsi Jagang, yang berbatasan dengan China, mati karena penyakit itu. Sebanyak 22 babi yang tersisa telah dimusnahkan.

Namun begitu, negara itu menolak ajakan untuk melakukan upaya karantina bersama dari Korea Selatan. Itu lah yang membuat Korea Selatan meningkatkan upaya pencegahannya.

Menurut laporan AP News, Korea Selatan sampai mengerahkan penembak jitu, memasang jebakan dan menerbangkan drone di sepanjang perbatasan untuk memusnahkan babi hutan yang masuk ke wilayahnya dari Korea Utara. Hal ini dilakukan demi mencegah penyebaran demam babi karena babi hutan dianggap sebagai penyebab utama penyebarannya, kata para pejabat.

Padahal, perbatasan Korea sepanjang 248 kilometer itu sudah memiliki sistem pengamanan yang paling kuat di dunia, memiliki pagar kawat berduri dan ladang ranjau.

Militer Korea Selatan mengatakan petugas perbatasan akan bekerja secara bergiliran sepanjang waktu bahkan hingga malam, menggunakan kacamata night vision untuk dapat melihat binatang dalam keadaaan gelap.

Militer juga akan mencoba menerbangkan drone yang dilengkapi dengan kamera termal untuk memonitor area babi hutan dan akan menggunakan helikopter untuk mengangkut bangkai dan sampel lain ke laboratorium, kata Kementerian Pertahanan.

Lebih lanjut, pihak berwenang negara itu mengatakan telah memasang ratusan perangkap dan berencana untuk memasang lebih banyak pagar kawat berduri untuk mencegah babi hutan mencapai peternakan babi. Ribuan orang juga telah ditugaskan untuk menjalankan karantina dan meningkatkan praktik biosekuriti di pertanian di wilayah perbatasan. Di wilayah ini juga telah ada 2.000 pos pemeriksaan yang dibentuk untuk membatasi pergerakan manusia dan ternak serta melakukan dekontaminasi kendaraan.

Sebenarnya, demam babi Afrika ini tidak menjangkit manusia. Tetapi penyakit ini telah menyebabkan banyak babi di negara-negara Asia seperti Korea Selatan dan China, mati dan dimusnahkan. Hingga saat ini belum ada vaksin yang bisa mencegah penyakit ini.

Korea Selatan mengkonfirmasi wabah pertamanya di kota perbatasan Paju pada 17 September. Korea Selatan melaporkan 13 kasus lagi di dekat perbatasan dan memusnahkan 154.500 babi, termasuk semua babi di Paju.

Pencegahan yang dilakukan Korea Selatan ini bukan tanpa alasan, mengingat kegagalan untuk mencegah penyakit ini dapat berpotensi menghancurkan industri daging babi negara yang sangat besar. Korea Selatan memiliki 6.300 peternakan babi dan memelihara sekitar 11 juta babi.

Di sisi lain, Korea Utara mengatakan mereka sudah berjuang keras untuk menghentikan penyebaran penyakit ini, dan belum melaporkan adanya wabah lain.

Cho Chung-hui, mantan pejabat Korea Utara yang bertanggung jawab atas masalah ternak, yang telah melarikan diri ke Korea Selatan pada tahun 2011, mengatakan daging babi menyumbang hingga 80% dari konsumsi protein untuk 25 juta orang Korea Utara.

(cnbcindonesia.com)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Polisi Tangkap Pembuang Bangkai Babi di Sungai Sumut
Kena Jerat Babi di Sungai Mandau, Kaki Bayi Gajah Terluka dan Nyaris Putus
Baru Empat Hari Menjabat, Kapten Inf Kasmir Kumpulkan Para Babinsa
Buset! Merana Karena Babi, China Buat Daging Palsu
Duh! Babi-Babi "Dipaksa" Gemuk di China, Kenapa?

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad