Home  / Internasional
Masih Ngambek, Trump Sebut PM Denmark ‘Menjijikan’
Kamis, 22 Agustus 2019 | 11:08:49
(REUTERS/Alister Doyle)
Foto: Greenland
JAKARTA - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sepertinya sangat tidak terima dengan penolakan Denmark atas tawarannya membeli Greenland. Kali ini sebagai bentuk kemarahannya pada Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen, ia menyerang pemimpin wanita itu dengan kata "nasty" alias menjijikan.

Sebelumnya trump mengungkapkan keinginannya untuk membeli Greenland pada akhir pekan lalu. Keinginan ini dijawab Frederiksen sebagai suatu hal yang "absurd" alias mustahil. Penolakan ini berbuntut panjang. Rabu (21/8/2019), Trump bahkan membatalkan agendanya untuk berkunjung ke Copenhagen akhir Agustus ini.

"Denmark, saya berharap untuk pergi (ke Copenhagen) tetapi saya berpikir bahwa pernyataan PM bahwa "itu mustahil" adalah "menjijikan," katanya pada sejumlah wartawan di Gedung Putih sebagaimana diberitakan CNN International. 

"Saya pikir perkataannya sangatlah tidak sopan. Apa yang ia lakukan hanya mengatakan tidak dan kami tidak tertarik," ujarnya lagi. "Dia tidak bicara padaku. Dia berkata seperti itu ke Amerika Serikat. Kamu seharusnya tidak berkata seperti itu ke Amerika Serikat, setidaknya selama dibawah (kepemimpinan) saya,".

Selain dihadapan wartawan, Trump juga menuliskan amarahnya kepada PM Denmark melalui twitter. Ia menyinggung sumbangan Denmark yang kecil ke NATO.

"Sebagai catatan, Denmark hanya 1,35% dari PDB untuk pengeluaran NATO. Mereka adalah negara kaya dan seharusnya 2%. Kami melindungi Eropa, namun hanya 8 dari 28 negara NATO yang mencapai 2%. Amerika Serikat berada pada level jauh, jauh lebih tinggi dari itu," tulisnya.

Sebelumnya Kerjaan Denmark, otoritas yang memegang kuasa pertahanan dan kebijakan luar negeri Greenland angkat bicara. "Greenland tidak untuk dijual. Greenland juga bukan milik Denmark. Greenland ya milik Greenland. Saya sangat berharap hal ini tidak akan menjadi sesuatu yang serius," kata Frederiksen.

Perjanjian antara Denmark dan AS ditandatangani tahun 1951. Perjanjian tersebut memberi wewenang pada Militer AS untuk mendirikan pangkalan di bagian utara Greenland.

Greenland berada di antara laut Atlantik dan Artik. Untuk urusan domestik Greenland memiliki pemerintah sendiri. 

Menteri Luar Negeri Greenland Ane Lone Bagger, turut berkomentar soal ini. "Kita terbuka buat bisnis, tapi bukan untuk dijual," katanya. 

(cnbcindonesia.com)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Trump ‘Hukum’ Perancis via Pajak Anggur, UE Siap Membalas
Anton Adiputra Nakhodai SAPMA PP Kabupaten Rokan Hulu
Bupati Sukiman Hadiri Pelantikan SAPMA PP Rokan Hulu
Politik Bergejolak Berminggu-minggu, PM Papua Nugini Mundur
7 Jenis Ikan yang Banyak Mengandung Omega-3

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad