Home  / Internasional
China Geram, AS "Kompor" Demo Hong Kong?
Selasa, 13 Agustus 2019 | 08:52:21
(REUTERS/Tyrone Siu)
Foto: Demo Hong Kong, Senin (5/8)
JAKARTA - Demo Hong Kong yang bermula sejak dua bulanan lalu, kembali berlanjut hingga Senin (13/8/19). Seperti beberapa demonstrasi sebelumnya, akhir pekan ini demo berlangsung dengan ricuh. 

Selain membuat bandara negara itu lumpuh, para pendemo juga dikabarkan melakukan serangan menggunakan bom bensin ke beberapa kantor polisi di seluruh Hong Kong. Juru bicara Kantor Urusan Negara China Hong Kong dan Makau, Yang Guang, mengecam tindakan pengeboman kantor-kantor polisi itu. 

Ia bahkan menyebut tindakan itu hampir menjurus pada terorisme. "Dalam beberapa hari terakhir, demonstran radikal Hong Kong telah berulang kali menyerang petugas polisi dengan alat yang sangat berbahaya, yang sudah merupakan kejahatan berat dan mulai menunjukkan tanda-tanda terorisme," kata Yang, mengutip News Week.

"Ini adalah pelanggaran berat terhadap aturan hukum dan ketertiban sosial di Hong Kong. Kejahatan dengan kekerasan harus ditindak tegas sesuai dengan hukum, tanpa ragu-ragu atau belas kasihan,".

Mengutip The Wall Street Journal (WSJ), tindakan brutal yang terjadi di sela-sela demo Hong Kong telah membuat beberapa pejabat pemerintah China menuduh Amerika Serikat (AS) ikut campur tangan mendorong para pendemo untuk merongrong pemerintah. Pada hari Kamis dan Jumat, outlet media yang didukung China mempublikasikan foto Julie Eadeh, kepala unit politik konsulat jenderal AS di Hong Kong. 

Dalam berita, Eadeh terlihat sedang bertemu di lobi hotel dengan anggota oposisi terkemuka, termasuk Joshua Wong, yang merupakan tokoh utama dalam protes yang mengguncang Hong Kong lima tahun lalu. Berita yang dimuat di China Daily dan outlet negara tirai bambu lainnya mengenai pertemuan itu dianggap sebagai bukti bahwa AS 'ikut campur' dan berada di belakang demo yang terjadi, kata WSJ. 

Seorang juru bicara di Kedutaan Besar AS membantah bahwa AS turut menjadi dalang dalam dalam demo Hong Kong. Ia mengatakan bahwa demonstrasi Hong Kong murni mencerminkan keprihatinan warga terhadap otonomi wilayah itu. 

Mengutip CNNInternational, seorang pejabat senior Gedung Putih juga bahkan secara terbuka menyampaikan bahwa AS justru peduli pada keadaan Hong Kong. Ia mengatakan AS berharap semua pihak bisa berdamai. 

"Seperti yang dikatakan Presiden (Trump), ini adalah antara Hong Kong dan China, dengan pengertian bahwa 'mereka mencari demokrasi dan saya pikir kebanyakan orang menginginkan demokrasi'," kata pejabat itu. "Masyarakat merasa sangat dilayani ketika pandangan politik yang beragam dihormati dan dapat diekspresikan secara bebas dan damai ... Amerika Serikat mendesak semua pihak untuk menahan diri dari kekerasan."

(cnbcindonesia.com)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Hong Kong Babak Belur, China Siapkan Shenzen Jadi Pengganti
Anti Pemerintah, Ribuan Guru Hong Kong Masuk Barisan Demo
Demo Memanas, Bandara Hong Kong Lumpuh
Ini Biang Kerok Buruh dan Pengusaha Sering Ribut Soal Upah
Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono. (CNN Indonesia/Hesti Rika)

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad