Home  / Internasional
Ngeri, China Masih Simpan Senjata Pamungkas Lawan AS
Selasa, 14 Mei 2019 | 12:34:08
REUTERS/Jason Lee/File Photo
Foto: Seorang anggota staf berjalan melewati bendera AS dan China yang ditempatkan untuk konferensi pers bersama oleh A.S.
JAKARTA - Dalam perang dagang yang memanas dengan Amerika Serikat (AS), China ternyata punya senjata mematikan yang dapat memicu lonjakan suku bunga dan dapat membuat ekonomi AS kacau balau. Senjata itu adalah dengan menjual segunung obligasi pemerintah AS atau US Treasury yang dimilikinya.

Di tengah-tengah perang dagang yang kian sengit, kemungkinan China meningkatkan serangannya dan berhenti menjadi konsumen terbesar surat utang AS semakin santer terdengar, Senin (13/5/2019).

China saat ini memegang Treasury senilai US$1,13 triliun dari total US$22 triliun surat utang AS yang beredar. Meski terlihat kecil, jumlah itu mencapai 17,7% dari berbagai sekuritas yang dipegang oleh pemerintah asing, menurut data dari Departemen Keuangan dan Asosiasi Industri Sekuritas dan Pasar Keuangan, dilansir dari CNBC International.

Jika China memutuskan untuk melepas atau mengurangi peran mereka di pasar, secara teori, langkah itu dapat menciptakan guncangan yang substansial bagi negara seperti AS yang sangat bergantung pada entitas asing untuk membeli obligasinya.

Namun setidaknya untuk saat ini, pasar tidak khawatir bahwa China akan mengambil langkah itu, karena langkah itu mungkin tidak memiliki banyak efek positif selain hanya untuk jadi topik utama berbagai media.

"Ini adalah opsi nuklir yang dapat menghancurkan diri sendiri," kata Robert Tipp, kepala strategi investasi dan kepala obligasi global untuk Pendapatan Tetap PGIM. "Mungkin hal ini membantu mereka dalam tawar-menawar, tetapi membahayakan nilai dari sesuatu yang kedua negara itu terlibat di dalamnya."

Bahkan, langkah itu sebenarnya bisa membantu AS.

Dari satu sisi, pengurangan kepemilikan Treasury oleh China bisa melemahkan dolar dan membuat perusahaan multinasional AS lebih kompetitif. Di sisi lain, imbal hasil obligasi pemerintah AS akan meningkat dan dengan demikian menyebabkan harganya jatuh sehingga menurunkan nilai portofolio China.

Juga ada pertanyaan tentang di mana China akan menempatkan uangnya mengingat semua uang itu harus disalurkan ke suatu tempat, dan obligasi AS adalah salah satu di antara instrumen investasi yang memberikan imbal hasil tertinggi di dunia ketika ditimbang dengan risikonya yang relatif rendah.

"Sepertinya Treasury adalah tempat yang optimal untuk memastikan keamanan, serta kualitas, apresiasi modal, dan lainnya. Mengutak-atik jumlah uang itu tampaknya sangat menantang sekarang," kata Nick Maroutsos, co-head obligasi global untuk Janus Henderson.

"Itu mungkin dan bisa terjadi secara bertahap selama periode enam hingga 12 bulan. Tetapi memintanya dan mewujudkannya dalam waktu yang cepat sangat tidak mungkin," tambahnya. 
(cnbcindonesia.com)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Gubri dan Wagubri Buka Puasa Bersama dengan Masyarakat dan Mahasiswa Asal Riau di Jakarta
PUPR Riau Siapkan Tiga UPT Guna Atasi Bencana Longsor Selama Mudik Lebaran
Syarat Tidak Berpuasa saat Bepergian Jauh
Kebakaran di Pasar Kosambi Bandung Hanguskan 178 Lapak dan 35 Kios
5 Fakta Kasus Dokter Ani Hasibuan, Pernyataan Kontroversial yang Dilaporkan ke Polisi

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad