Home  / Hukrim
Tujuh Tahun Berlalu, Kasus Penganiayaan Maryatun dan Keluarganya di Rohil Tak Tersentuh Hukum
Minggu, 19 Januari 2020 | 20:40:25
Ilustrasi
PEKANBARU, riaueditor.com - Penanganan kasus penganiayaan yang menimpa keluarga Maryatun, salah satu warga Panipahan, Kabupaten Rokan Hilir, Riau, terkesan lamban atau jalan ditempat.

Pasalnya, kasus pengniayaan yang sudah di laporkan ke Polres Rokan Hilir 7 tahun lalu itu, masih jalan ditempat dan hingga kini dalang dari penyerangan keluarga Maryatun tersebut masih bebas berkeliaran.

"Kasusnya masih dalam tahap penyidikan dan pihaknya tengah melengkapi berkas perkara," ujar Kapolres Rokan Hilir, AKBP M Mustofa, Minggu (19/1/2020).

Mustofa mengatakan, kasusnya baru selesai gelar perkara di Polda, selanjutnya kami akan memanggil saksi-saksi terkait kejadian itu untuk melengkapi berkas dan mencari bukti-bukti tambahan. 

"Untuk hasil gelar perkara, kami belum bisa menyampaikan karena hal tersebut masuk kepada teknis penyelidikan. Intinya saat ini kita menindak lanjuti penyidikan dan ada langkah-langkah yang akan dilakukan oleh penyidik polres," jelasnya. 

Sementara itu, Ketua Tim Pengacara keluarga Maryatun, Suroto mengatakan, jika pihak kepolisian sudah berkali-kali melakukan gelar perkara, namun hingga saat ini mereka belum bisa memberikan kejelasan perkara itu.

"Perkara ini tidak ditangani dengan serius, terkesan jalan ditempat, bahkan pelakunya masih bebas berkeliaran tak tersentuh hukum," kata Suroto. 

Menurutnya, penyiduk sudah kesekian kalinya melakukan gelar perkara. Karena tahun 2017 lalu itu, sudah ada minimal dua alat bukti yang ditunjukkan dengan surat pemberitahuan perkembangan hasil penyidikan (SP2HP) dan penetapan 2 orang tersangka yakni MK dan JS.

"Kalau gelarnya untuk mencari alat bukti, itu percuma. Apalagi sangat disayangkan, para pelaku hingga saat ini belum ditangkap dan bebas berkeliaran," ujar Suroto. 

Menanggapi hal ini, Suroto berharap agar dalam gelar perkara itu, ada kejelasan mengenai surat pemberitahuan dimulainya penyidikan (SPDP) perkaranya. Karena dari hasil pemeriksaan oleh pihak Ombudsman RI, perkara penganiayaan ini belum ada sama sekali SPDP-nya.

"Kalau perkara ini mau dihadapkan ke pengadilan, kenapa pihak kepolisian tidak mengirimkan SPDP-nya ke kejaksaan," sebutnya. 

Lebih jauh dikatakan Suroto, berdasarkan keterangan Kabag Wassidik Ditreskrimum Polda Riau, AKBP Azwar, kasus penganiayaan yang menimpa keluarga Maryatun itu akan ditarik ke Polda Riau.

"Rencananya, Senin besok, kami akan ke Polda Riau untuk menanyakan hasil gelar perkaranya. Jika tidak memuaskan, kami akan melakukan unjuk rasa," tutup Suroto.

Sebelumnya diberitakan, pada tahun 2013 silam, keluarga Maryatun warga Panipahan, Kabupaten Rokan Hilir, mengalami penganiayaan berat.

Korban Maryatun dibacok pada bagian tangan, kepala dan badan dipukul menggunakan kayu balok hingga jempolnya patah.

Sadisnya lagi, usai dianiaya Maryatun kemudian dibuang ke parit. 

Tak hanya Maryatun, pelaku juga menganiaya suami dan anaknya dengan sadis. 

Suami Maryatun, ditusuk sebanyak 25 kali disekujur tubuhnya, bagian kepala dibacok dan tulang leher ditusuk menggunakan pisau.

Kemudian sang buah hati perkawinan Maryatun yang bernama Arazaqul hingga kini harus makan dan minum melalui selang, karena kepala dan dadanya ikut dipukul oleh pelaku penganiayaan tersebut. (dri) 

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Berstatus Tersangka, Plt Bupati Bengkalis Tiga Kali Mangkir dari Panggilan Penyidik
Tindaklanjuti MoU, Unilak Gelar Pelatihan Relawan Karhutla
Polair Polda Riau Gagalkan Penyelundupan 20 Ton Kayu Olahan Jenis Campuran
Ratusan Mahasiswa Unilak Dilatih Menjadi Relawan Karhutla
Tanamkan Jiwa Nasionalisme Babinsa Koramil 05/KK Kodim 0313/KPR Berikan Materi Wasbang di SMAN 1 Kampar Kiri

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad